Thu 29 Sep 2011 |
|
Membaca tulisan Wayan Nasa Adhi pada MH edisi 88 yang lalu dengan judul “Dari Misi Dakwah Hingga Makelar Tanah Bali”, membuat saya teringat percakapan saya dengan seorang teman lama beberapa minggu sebelumnya.Wayan Nasa Adhi dalam artikelnya mengutip sambutan yang disampaikan kepada rombongan yang berasal dari Jawa dan luar Jawa oleh K.H Nurul Mubin selaku pembimbing ziarah Walipitu yang mengatakan: “Perjalanan Walipitu ini memang sangat menyenangkan meskipun berada di lingkungan mayoritas bukan Islam. Ada misi dakwah menyebarkan agama Islam meskipun hanya sebatas ziarah. Ingat, jaman dahulu pulau Jawa penduduknya beragama Hindu dan Budha, kemudian berubah menjadi Islam. Nah, semoga di masa yang akan datang Pulau Bali penduduknya akan beragama Islam karena dikelilingi oleh Makam Walipitu sebagaimana di Jawa telah dikelilingi Makam Walisongo”. Artikel ini sungguh menarik karena dapat memperluas pandangan kita sebagai umat Hindu tentang kenyataan keseharian yang terjadi mengenai usaha-usaha yang terus dilakukan untuk meng-Islam-kan umat Hindu yang dalam kacamata mereka tidak “beragama” ini. Usaha-usaha itu ada yang kasar terang-terangan. Ada yang halus. Tentu lebih berbahaya cara yang halus karena kita tidak dapat dengan segera menyadarinya. Contoh yang halus ya seperti kisah dalam artikel tersebut di atas. Tentang tulisan yang saya cetak tebal, apakah akan terjadi atau tidak, itu sepenuhnya tergantung pada umat Hindu di Bali. Apakah umat Hindu di Bali menyadari hal ini dan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk menghadapinya atau bersikap tidak peduli dan membiarkan segala sesuatunya terjadi begitu saja dengan berbagai alasan. Satu hal yang pasti bila hal itu sampai terjadi menurut saya adalah: Bali bukan lagi paradise. Selama ini dari pengalaman saya sendiri dan dari banyaknya komentar dan pendapat para wisatawan manca negara, semua mengatakan Bali is heaven on earth. Bali is paradise. Dan ini bukan jualan para pengiklan. Ini asli komentar dari mereka yang pernah berkunjung ke Bali. Tetapi bila tradisi Hindu lenyap dari tanah Bali, bila Bali tercerabut dari akarnya, maka saya pastikan, surga itu akan lenyap. Jadi Bali, nasibmu ada di tanganmu. Lalu mengapa artikel ini mengingatkan saya pada percakapan yang saya lakukan dengan seorang teman lama? Di mana kesamaannya? Kesamaannya adalah pada adanya keinginan untuk meng-Islam-kan tadi. Dalam kasus yang saya alami kejadiannya malah lucu-lucu njengkeli. Karena kami telah berteman lama saat saya masih beragama Islam. Kami berteman juga saat saya dalam masa pencarian jati diri. Teman ini malah membantu saya ‘menemukan’ apa yang saya cari. Mendukung keputusan saya. Setia menjadi teman diskusi, hingga saat saya telah berstatus Hindu. Sampai beberapa bulan yang lalu semuanya berubah. Tiba-tiba dia menjauh. Tiba-tiba dia ‘sibuk’. Yang saya ketahui kemudian ternyata dia sedang ‘berguru’ pada seorang Kyai dari Jawa. Tiba-tiba dia menjadi ‘alim’. Dan tiba-tiba saya menjadi ‘salah’ di matanya. Tiba-tiba saya menjadi target dakwahnya juga. Inilah yang membuat saya jengkel. Saya masuk Hindu karena saya belajar. Belajar sampai berdarah-darah. Kok nekat masih berusaha meng- Islam-kan saya lagi? Saya tidak habis pikir. Kesimpulan saya kemudian, teman saya itu setelah lebih ‘beragama’ memang tidak bisa berpikir. Dan saya bersyukur bahwa saya telah belajar hingga berdarah-darah. Saya memerlukan hasil pelajaran saya ini sekarang. Ringkasnya beberapa minggu yang lalu, teman saya ini bertandang ke rumah seperti kebiasaannya sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan seperti biasa kami berbincang, yang kebanyakan tentang topik spiritual. Dia bercerita bahwa dia sedang ‘berguru’ dengan seorang Kyai dari Jawa sejak beberapa waktu sebelumnya. Saya ingat, saat itu saya memang mulai merasakan perubahan pada diri teman saya ini. Ternyata waktu itu belum apa-apa. Karena saat dia terakhir datang ini, perubahan dirinya sangat nyata. Sebelumnya bila dia mulai ‘memuliakan Islam’ di depan saya, saya jarang terpancing untuk menanggapi. Sekedar tidak ingin ribut. Saya malah sering merasa geli di dalam hati. Saya kan juga pernah beragama Islam. Saya tahu Islam itu bagaimana. Justru karena saya tahu, karena saya belajar, saya kemudian memilih. Kok bisa dia sibuk ‘jualan’ Islam pada saya seperti itu. Meskipun begitu, biasanya saya memilih diam sambil berusaha tersenyum dan berpura-pura tetap antusias mendengarkan ceritanya dengan susah payah. Yang paling sulit menjaga sikap adalah saat saya harus mendengarkan dia menceritakan “kehebatan” gurunya ini. Termasuk cerita tentang keberhasilan gurunya yang katanya memiliki sekitar 400 orang pengikut di Bali dan berhasil meng-Islam-kan sekitar 200-an orang di antaranya, di mana dari 200 orang itu termasuk para “peng-atas” Hindu di daerahnya masing-masing. Tentu saja waktu itu langsung saya katakan bahwa yang 200 orang termasuk para “peng-atas” Hindu itu pastilah tidak tahu agama Hindu meskipun berlabel Hindu. Karena jika mereka tahu bagaimana agamanya, mereka tidak mungkin berpindah (agama). Tanggal 15 Mei yang lalu teman saya kembali bertandang ke rumah. Saya ingat, karena saat itu adalah saat-saat emosi saya sedang tidak stabil. Saya sedang menghadapi masalah saya sendiri. Masalah pelik dan runyam. Dan teman saya datang, seperti biasanya mengobrol, sambil – ini yang menjengkelkan -- di setiap kesempatan menonjol-nonjolkan Islam. Dan saya terpancing. Sekali ini saya tidak bisa diam. Saya berdebat dengan teman saya ini. Setiap dia memberi pernyataan, saya ajukan pertanyaan. Saya balik membuat pernyataan. Saya kemudian ikut cara dia. Menonjol-nonjolkan Hindu. Saya tidak sibuk mencari persamaan lagi seperti yang biasa saya lakukan untuk menghindar perdebatan atau menghindarkan diri agar tidak terpancing emosi. Saat itu saya katakan semuanya apa adanya. Saya katakan apa yang harus saya katakan. Tanpa sensor. Tanpa memikirkan tata bahasa yang baik. Saya bahkan sempat mengatakan bahwa dari semua yang saya pelajari, semua hal yang dianggap rahasia di Islam adalah hal yang sangat biasa diajarkan dalam Hindu. Sama sekali bukan rahasia, tetapi adalah pengetahuan dasar. Dan sangat banyak ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya – kalau mau jujur -- merupakan hasil comot sana sini dari berbagai tradisi kuno yang sudah ada sebelumnya, yang nota bene adalah Hindu. Saat itu saya berpikir, mungkin memang sudah waktunya teman saya ini dibungkam dan dibangunkan. Saya diam selama ini, bukan berarti saya setuju dengan pendapatnya atau karena saya tidak tahu. Tetapi sikap diam yang bagi saya adalah cara untuk menghindari perdebatan atau yang lebih buruk lagi pertengkaran, ternyata diartikan lain baginya. Saat itu saya juga sadar, bahwa kita tidak boleh berdiam diri saja bila mendapat perlakukan seperti itu dari pihak lain. Karena diam kita akan dianggap sebagai kelemahan. Sebagai celah masuk. Karena itulah saya katakan tadi, saya bersyukur karena selama ini saya telah belajar sampai berdarah-darah. Karena pada waktu itu terbukti pelajaran saya itulah yang menyelamatkan saya. Saya ternyata ‘tahu’ agama saya. Saya bisa counter semua serangan, saya bisa jelaskan apa yang dipahami salah oleh teman saya itu hingga dia benarbenar bungkam. Terakhir, di puncak -- katakan saja perdebatan kami itu -- saya menantangnya. Ya. Saya menantangnya untuk mempelajari Hindu untuk membuktikan apa yang saya katakan! Terus terang saya sendiri terkejut mengatakannya. Sempat terpikir oleh saya dalam sepersekian detik itu, bahwa saya sudah melewati batas. Tetapi saya balik lagi. Mengapa hanya saya? Bukankah teman saya ini juga telah berbulanbulan ini melewati batas dengan “menganggap” saya tidak beragama hanya karena agama saya sekarang berbeda dengannya. Jadi dalam sepersekian detik itu pula keraguan saya berakhir. Jadi, dari semua yang saya telah tuliskan ini kesimpulannya adalah: Pertama. Bahwa benar ada upaya yang terus menerus dilakukan pihak lain untuk melakukan konversi agama; Kedua. Bahwa sikap diam (baca: pasif) umat Hindu sebagai pihak yang menjadi sasaran konversi adalah salah karena itu bisa menjadi entry point yang mudah sekali bagi mereka; Ketiga. Adalah penting bagi seluruh umat Hindu untuk memperdalam pengetahuan agamanya, dengan cara baca! baca! baca!. Hindu punya banyak pustaka untuk itu. Pustaka suci maupun tidak suci, semua berisi pengetahuan yang akan membantu pemahaman kita terhadap agama kita: Hindu; Keempat. Pelajari diri sendiri. Dengarkan diri. Cari kelemahan kita. Teliti keunggulan kita. Itu akan membantu kita melihat segala persoalan dengan lebih jernih sehingga mudah mencari solusinya. Mengapa point keempat penting? Karena saya melihat, dan maafkan jika saya salah, umat Hindu ini sedikit, dan sangat tidak kompak. Sama saudara sendiri galaknya bukan main. Tapi sama orang lain lemah. Kasarnya: pengecut. Itulah yang harus diubah. Dan halo….halo….kita perlu melakukan perubahan ini sekarang juga! Sikha SV. Penulis buku Perjalananku Menjadi Hindu, tinggal di Samarinda.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 4241 Trackback(0)
Comments (14)
![]()
tenang damai kita di bali
manusia manusia yg ziarah walipitu itu itu hanya manusia bodoh yang kesana kemari menjual agama,kuno banget kuno kuno DASAR MANUSIA MUNAFIK,SEPERTI PENULIS SAMPAIKAN GA SADAR AGAMANYA COMOTAN SANA SINI UJUNG UJUNGNYA DARI HINDU JUGA
masa
Bu sikha saya sudah baca buku "perjalanan menjadi hindu...sangat sangat bagus bukunya...insiratif bgt walaupun saya memang lerlahir hindu...tp merasa berpindah lg menjadi hindu sejati dihati karna buku ttrsebut...masalah dakwah me islamkan itu..hahaha...tergantung lah apa kehendak dewata..klo kita Hindu sekarang trus spt ini yg slalu men Dewa kan pariwisata dan uang di atas yadnya kita...maka tamatlah BBali ini..ditangan makelar tanah dan kemunafikan kita,salah kita sendiri bukan salah yg menyebarkan agama...semua ada masa nya....dewata ..tamparlah pulau ini agar terjaga dari semua sedihnya
SATYAM EVA JAYATE
Susu dibalas dgn tuba!!
...
ah wali pitu, makanan jenis apa tuh, satyam eva jayate,saran saya sdm ditingkatkan karena pendidikan tinggi tdk menjamin org tdk pindah agama buktinya banyak orang pintar dijakarta pindah agama, hanya karena iming2 jabatan kl sdh slekek2 br plg nunas tirta,sy ingat ada org bali yg sdh pindh agama menanyakan: apa msh ada tirta pengentas entas di tirta empul? sy hanya berpikir apa org ini sdh mau mati
islam koplak
Islam memang koplak,selalu menyebarkan agama dengan berbagai cara bahkan membunuh, menfitnah, ngarang cerita, dll. klu Bali jadi Islam keidahan dan kenyamanannya akan hilang. Islam perusak budaya..dimana ada islam disana ada pembodohan dan kekerasan atas nama agama. Ayoo..siapa mau jadi islam, lihat negara2 islam semua pemimpin otoriter, rakyatnya keblinger
Walipitu karangan islam ?
Islam memang koplak,selalu menyebarkan agama dengan berbagai cara bahkan membunuh, menfitnah, ngarang cerita, dll.Bukan mustahil walipitu karangan islam seperti ustadz aziz yg ngaku orang bali itu. klu Bali jadi Islam keidahan dan kenyamanannya akan hilang. Islam perusak budaya..dimana ada islam disana ada pembodohan dan kekerasan atas nama agama. Ayoo..siapa mau jadi islam, lihat negara2 islam semua pemimpin otoriter, rakyatnya keblinger
Jangan ikut-ikutan memper-'tuhan'-kan agama
---
...
om swastiastu
seandainya ALAM bisa berucap..!!!!
stunami aceh,bencana jogja (gempa dahsyat,meletusnya gunung merapi),semburan lumpur lapindo..
astungkara
saya sempat juga berdebat dengan teman muslim gara2 sengaja mencari2 hal2 yang ngak perlu dibicarakan ,akhirnya walau pengetahuan tentang ajaran agama ngak banyak setidaknya saya tantang dia untuk berdebat tp dia juga harus siap menjawab setiap pertannyaan saya ,akhirinya dia bilang mundur dan minta maaf ...padahal serius mau ngajak berdebat |
| Last Updated on Wednesday, 05 October 2011 22:27 |









Membaca tulisan Wayan Nasa Adhi pada MH edisi 88 yang lalu dengan judul “Dari Misi Dakwah Hingga Makelar Tanah Bali”, membuat saya teringat percakapan saya dengan seorang teman lama beberapa minggu sebelumnya.
...)kelewatan, melebihi pengetahuannya ttg agamanya sendiri...emosional (=fanatis)nya lebih kuat dibanding pengetahuannya... Nah masalahnya umat Islam kan buanyak sekali,,dan bermacam2 pula.. jadi ini masih akan berlangsung lama.. terlebih mayoritas (warga Indonesia) juga pendidikannya nggak sampai PT... lebih mudah menerima doktrin/fanatisme ketimbang kemandirian pengetahuan .... ditambah akses internet memungkinkan mengetahui kondisi global dunia Islam...jadilah kadang agama malah dijadikan "tuhan"..bukan esensi isi agama itu sendiri. Ini hanya bisa dilawan dengan pendidikan dan pengetahuan yang mandiri. Sayang itu butuh waktu panjang dan kesabaran.Tidak semua umat muslim seperti itu, mungkin jumlahnya sama banyak umat Hindu (karena sedikit)..[jujur saja: lbh banyak yg pilih ikut2an saja daripada susah2 belajar agama, mikir sendiri].. tp ya gitulah.. mrk yang heboh di media krn meningkatkan rating dan oplah, jd lebih disiarkan, jadi makin besar kepala. Semoga kebangkitan umat Hindu, tidak sekedar dalam konteks yang seperti itu.

