Wed 07 Apr 2010 |
|
Clifford Geertz :ifford Geertz, yang pernah tinggal di Tihingan, Klungkung, ketika meneliti tentang Bali, pada tahun 1950an, mengenai misionaris di Bali menulis sebagai berikut: ”Misionaris-misionaris Kristen tak pernah membuat banyak kemajuan di pulau itu dan, berkaitan dengan ketidak percayaan mereka terhadap rezim penjajah, kesempatan-kesempatan para misionaris ini sekarang tampak lebih kecil dari pada yang pernah mereka dapatkan. Juga orang Bali tidak mungkin menjadi Muslim dalam jumlah besar, meskipun pada umumnya orang Indonesia beragama Islam. Mereka, sebagai suatu masyarakat, sangat sadar dan secara menyakitkan bangga menjadi sebuah pulau Hindu di laut Muslim, dan sikap mereka terhadap Islam seperti sikap seorang istri bangsawan terhadap binatang-kecil. Menjadi entah Kristen atau Muslim, dalam mata mereka, sama dengan berhenti menjadi orang Bali, dan memang seorang individu langka yang bertobat (maksudnya menjadi Kristen atau Islam, red) masih dianggap, malah oleh kebanyakan orang yang toleran dan yang terpelajar, telah meninggalkan tidak hanya agama Bali melainkan Bali, dan barangkali dianggap gila. Baik agama Kristen maupun Islam bisa mempengaruhi perkembangan-perkembangan agama lebih lanjut di pulau itu; tapi keduanya sebenarnya tidak punya kesempatan untuk mengontrol perkembangan- perkembangan itu. Dalam catatan kaki, Geerts menulis bahwa penilaian yang sama juga diberikan oleh seorang linguis misionaris, J.L Swelengrebel, Introduction, dalam Swelengrebel et al. Bali 65-67 (Clifford Geertz : ”Tafsir Kebudayaan,” Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1992, hal 138 – 137).
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 1668 Trackback(0)
Comments (2)
![]()
meninggalkan agama = "mati"
Sebagai orang yang sejak kecil merantau, saya merasakan dan meyakini idiom semacam itu, pindah agama = mati atau gila. Tetapi saya baru tahu kalau ada seorang misionaris yang punya kejujuran dan keberanian yang cukup tinggi untuk mengakui hal tersebut secara terbuka. Semoga idiom semacam ini masih terpelihara dengan baik dalam sanubari setiap insan yang saat ini belum "mati atau gila". Dihadapkan dengan keterbukaan dan toleransi masyarakat Hindu (Bali pada khususnya)yang kadang berlebihan, idiom semacam ini dapat menjadi benteng pertahanan keHinduan kita, tanpa harus menutup diri apalagi menjadi intoleran. |









Clifford Geertz :


