Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1933
PROGRAM MEDIA HINDU

Mon

10

May

2010

Gajah Mada dan Pembinaan PDF Print E-mail
Written by webmaster   
Gajah Mada dan Pembinaan Generasi Muda
Oleh : Ketut Rantun Jr.


Tidak akan ada yang menyangkal bahwa Gajah Mada adalah pemimpin besar Hindu yang pernah dilahirkan di Nusantara. Kita patut berterima kasih kepada Gajah Mada atas prestasi terbesarnya, yaitu berhasil mempersatukan Nusantara di bawah panji kerajaan Majapahit. Sejarah mencatat bagaimana seorang putra yang tidak diketahui asal-usulnya, tidak diketahui di mana persisnya dia dilahirkan dan orang bahkan tidak tahu siapa orang tuanya, telah mampu menjadi Mahapatih yang sangat termasyur dan sanggup menakhlukkan Nusantara sehingga tunduk kepada kerajaan Majapahit. Sumpah Palapa yang sagat terkenal, yang pernah diikrarkannya benar-benar telah membuatnya menjadi seorang negarawan sejati yang setia mengabdi untuk kedaulatan Majapahit.

Gajah Mada mulai mencuat namanya ketika menjadi pemimpin pasukan pengawal raja dan berhasil mengungsikan raja ketika itu yaitu Sri Jayanegara sehingga selamat dari ancaman pemberontakan Kuti. Jabatan sebagai Patih Mangkubumi yang yang disandangnya tidak lepas dari jasa Arya Tadah, seorang negarawan senior yang ketika itu menjabat sebagai Patih Mangkubumi. Arya Tadah rela melepaskan jabatannya untuk memberikan kesempatan kepada Gajah Mada, seorang pemuda yang diyakininya mampu mengemban tugas berat yang dibebankan di atas pundaknya. Dan memang keputusan itu tidak keliru sehingga Arya Tadah pasti sangat bangga ketika menyadari bahwa Gajah Mada berhasil melampaui pencapaiannya sebagai Mahapatih Majapahit.

Pengabdian, kerja keras dan loyalitas Gajah Mada terhadap kedaulatan raja Majapahit dan persatuan Nusantara memang teramat besar. Namun di samping semua prestasi tak tertandingi yang telah terukir dalam tinta emas sejarah Nusantara, Gajah Mada tetaplah seorang manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahankesalahan. Salah satu kesalahan terbesar Gajah Mada adalah bahwa ternyata dia adalah seorang Mahapatih yang egois. Dengan semua kecakapan yang dimilikinya, Gajah Mada memegang kendali semua urusan kenegaraan yang strategis. Gajah Mada adalah seorang kepala pemerintahan sekaligus panglima tertingi angkatan perang Majapahit dan memegang kendali atas semua urusan negara. Selama kurun waktu antara tahun 1331- 3360 yaitu selama perode pemerintahan Ratu Tribuanatunggadewi dan Raja Hayam Wuruk, Gajah Mada adalah sosok tak tergantikan dalam urusan-urusan kenegaraan. Karena wewenang yang terlalu besar inilah Gajah Mada lupa memberikan kesempatan kepada talenta-talenta lain terutama generasi muda Majapahit untuk menduduki jabatan-jabatan strategis sehingga nantinya bisa
menjadi pengganti ketika tiba saatnya Gajah Mada pensiun.

Karena satu kelalaian ini, yang mungkin saja tidak pernah disadari Gajah Mada, berakibat sangat besar terhadap masa depan Majapahit dan wilayah Nusantara yang dengan susah payah telah dipersatukan. Pengabdian dan kerja keras Gajah Mada untuk kejayaan Majapahit seolah tidak berguna, penyebabnya tentu saja adalah ketika Gajah Mada pensiun dari jabatannya ternyata tidak ada seorang penerus yang sehebat dirinya. Tunas-tunas baru yang tumbuh ternyata tidak bisa mendapatkan cukup nutrisi dan karena itu menjadi pohon-pohon yang kerdil karena terhalang oleh rimbunnya daun dan kuatnya akar pohon besar. Sehingga ketika pada akhirnya pohon besar yang menaungi itu menjadi rapuh dan tumbang karena usia, tunas-tunas baru yang tumbuh di sekitarnya tidak bisa menjadi sebesar pohon penaung.

Gajah Mada mungkin sudah berusaha mendidik dan mempersiapkan kader-kader muda, mungkin memang pemimpin besar tidak lahir tiap hari . Tetapi masalahnya di sini, Gajah Mada hanya mendidik dan menggembleng kader-kader muda tanpa memberi mereka kesempatan berkembang yaitu dengan cara mempercayakan posisi penting. Maka tidak aneh ketika Gajah Mada mundur dari jabatannya, posisi Mahapatih yang ditinggalkannya menjadi lowong. Hampir selama tiga tahun yaitu antara tahun 1364 sampai tahun 1367, raja Hayam Wuruk turun tangan langsung dalam urusan pemerintahan negara karena beliau sangat kesulitan mencari sosok yang cocok untuk menggantikan posisi Gajah Mada.

Gajah Mada meletakkan jabatannya sebagai Mahapatih ketika matahari kejayaan Majapahit berada pada puncaknya, ketika hampir semua kerajaan Nusantara telah tunduk pada kedaulatan raja Majapahit. Pensiunnya Gajah Mada kemudian membuat Raja Hayam Wuruk harus bekerja sendiri. Ditambah lagi karena tidak adanya seorang pemimpin juara sekaliber Gajah Mada maka Majapahit berangsur angsur mengalami kemunduran, Ibarat matahari yang semakin condong ke barat seiring dengan beranjaknya siang menuju sore hari.

Gajah Mada digantikan oleh Gajah Enggon (1367-1394), kemudian Gajah Manguri (1394-1398) disusul oleh Gajah Lembana (1398-1410) dan Tuan Kanaka (1410-1430). Dari semua Mahapatih yang menjabat setelah era Gajah Mada, ternyata memang tidak ada yang memiliki kualitas yang menyamai atau paling tidak bisa mendekati kecakapan Gajah Mada. Sehingga tidak heran jika hampir tidak ada prestasi besar yang berhasil diperbuat oleh mereka. Keadaan ini semakin membuat posisi Majapahit menjadi lemah dan mengalami kemunduran. Daerah-daerah yang dengan susah payah dipersatukan Gajah Mada satu persatu melepaskan diri. Bupati Demak, Raden Patah, yang dianggkat oleh Brawijaya, atas desakan Walisongo, menggebog Majapahit pada malam hari, uang membuat kerajaan besar Majapahit hilang dari muka bumi.

Gajah Mada adalah seorang negarawan sejati, salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki Nusantara. Beliau mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk kejayaan Majapahit ternyata juga memiliki andil yang cukup besar terhadap keruntuhan kerajaan Nusantara terbesar tersebut. Kelalaiannya yang kurang memberi perhatian terhadap generasi muda yang notabena adalah tulang punggung dan jaminan atas kelangsungan hidup sebuah Negara ternyata harus dibayar mahal yaitu ketidakmampuan Majapahit bertahan dari perkembangan jaman setelah dia lengser.

Generasi muda seharusnya diberikan kesempatan, diperhatikan pendidikannya, dibimbing dan diberikan kepercayaan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan diri. Tunas-tunas baru yang tumbuh mungkin saja berasal dari benih-benih dengan kualitas yang berbeda-beda, namun jika diperlakukan dengan perlakuan yang sama, jika dipupuk dengan nutrisi yang cukup, jika disirami dengan air pendidikan yang berkualitas, tentu akan menjadi pohon-pohon yang tangguh dan kuat.

Namun masalahnya tidak semua dari tunas-tunas muda ini mempunyai kesempatan yang sama. Tidak semua orang tua cukup mampu untuk membiayai pendidikan yang layak. Tidak semua tunas-tunas yang berasal dari benih yang berkualitas mendapat pupuk dan air yang bernutrisi. Di sinilah kemudian diperlukan suatu kebijaksanaan untuk kita semua yang memang merasa ikut bertanggung jawab atas kelangsungan hidup bangsa ini. Diperlukan adanya suatu simbiosis yang saling menguntungkan. Antara Negara, organisasi pendidikan, para orang tua dan generasi muda harus ada rasa saling pengertian. Ketika Negara menyediakan pendidikan murah atau gratis, ketika organisasi pendidikan menyediakan beasiswa-beasiswa untuk anak-anak yang orang tuanya kurang mampu, diperlukan juga suatu kesadaran bagi orang para orang tua untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama sebagai bekal untuk kelangsungan hidup keluarga. Si anak juga seharusnya menyadari bahwa belajar dan bersekolah adalah kewajiban utamanya.

Disadari atau tidak, kita umat Hindu khususnya selama ini telah menomor duakan pendidikan. Masyarakat Hindu, khususnya di pedesaan yang masih belum mengerti pentingnya pendidikan biasanya masih memakai cara berpikir yang kolot. Mereka yang sebenarnya secara ekonomi tergolong mampu cenderung mengabaikan pendidikan putra-putrinya. Mereka lebih suka mempergunakan uangnya untuk menumpuk kekayaan seperti untuk membeli emas atau tanah misalnya.

Kendala yang dihadapi ternyata bukan hanya itu, para orang tua yang sudah melek pendidikan dan secara finansial tergolong mampu sangat jarang mendanapuniakan sebagian kekayaannya untuk kemajuan pendidikan anakanak yang orang tuanya tidak mampu. Sehingga generasi muda yang orang tuanya tidak mampu semakin tidak bisa tumbuh dan mengembangkan potensi diri mereka.

Disadari atau tidak, ternyata kita lebih senang berdana punia hanya untuk urusan-urusan pelaksanaan yajna yang bersifat ritual. Kita bahkan sering lupa bahwa dana punia untuk pembangunan Sumber Daya Manusia seperti misalnya untuk kesejahtraan Pinandita, pemangku ataupun pemberian bantuan untuk sarana pendidikan adalah tidak kalah pentingnya. Demikian juga berpunia untuk pembinanaan generasi
muda adalah termasuk pelaksanaan yajna.

Kita semua harus menyadari, di luar sana masih sangat banyak tunastunas muda yang tumbuh di tanah yang gersang. Mereka sangat membutuhkan air dan nutrisi yang diperlukan untuk membuatnya menjadi individu yang berkualitas. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk selalu memperhatikan pembinaan kader-kader muda untuk memberi jaminan bahwa mereka sudah mendapat pendidikan yang cukup.

Kita semua tentu berharap suatu saat nanti akan lahir Gajah Mada baru di tanah Nusantara ini. Mudah-mudahan semua menjadi lebih baik.

Penulis adalah mahasiswa STAH DNJ
Trackback(0)
Comments (0)Add Comment
Write comment
 
 
smaller | bigger
 

busy
Last Updated on Monday, 10 May 2010 17:47
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

aZ
Om Swastyastu mungkin lebih bagus kalau di adakan debat dengan antara ...
Tuesday, 10 January 2012
comanx bayu
om swasti astu slm dharma, pada tanggal 29 desember yang akan datang, ...
Sunday, 18 December 2011
Dewa Gd Darmawana
Om Swastyastu Rahajeng,..salam kenal tyang penggemar media hindu,.arti...
Tuesday, 15 November 2011

Komentar Artikel Terakhir