Oleh Agus S. MantikKitab 2 Raja-Raja (21)Manasye berumur duabelas tahun pada waktu dia menjadi raja dan limapuluh tahun lamanya dia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya adalah Hephzibah. Di mata Tuhan raja ini melakukan kejahatan karena menjalankan praktek praktek keagamaan dari bangsa-bangsa yang sudah dihalau sebelum kedatangan bangsa Israel. Dia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan ayahnya Hezekiah; Dia membangun mezbah-mezbah untuk Baal, membuat patung seperti Ahab raja Israel telah melakukannya. Dia sujud menyembah tentara langit. Dia membangun rangkaian mezbah di dalam rumah Tuhan di mana Tuhan telah berfirman:
“Di Yerusalem Aku akan menaruh namaKu.” Di kedua halaman dari rumah Tuhan, dia membangun mezbah-mezbah untuk semua tentara langit. Dia menjadikan putranya sendiri sebagai kurban dan menjalankan praktek ilmu hitam, berkonsultasi dengan para dukun dan pemanggil roh. Dia melaksanakan kejahatan di mataNya Tuhan yang menyebabkanNya marah.

Dia juga menempatkan patung Asherah yang dibuatnya sendiri di rumah Tuhan di mana Tuhan telah berfirman kepada Daud dan Sulaeman: ”Dalam rumah ini dan Yerusalem yang telah Kupilih dari antara semua suku Israel, Aku akan menaruh namaKu untuk selama-lamanya. Aku tidak akan membiarkan bangsa Israel lagi dibawa keluar dari tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka asal saja mereka tetap berbuat tepat seperti yang telah Kuperintahkan kepada mereka dan tepat menurut hukum yang telah diperintahkan kepada mereka oleh hambaKu Musa. Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan Manasye menyesatkan mereka, sehingga melakukan yang jahat lebih daripada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan Tuhan dari hadapan orang Israel.
Kemudian berfirmanlah Tuhan dengan perantaraan para hambaNya yakni para Nabi: “Oleh karena Manasye raja Yehuda telah melakukan kekejian-kekejian ini, berbuat jahat lebih daripada segala yang telah dilakukan oleh para Amori yang mendahului dia dan telah memimpin orang Yehuda menempuh dosa dengan patung-patungnya, beginilah firman Tuhan Allah Israel: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan malapetaka atas Yerusalem dan Yehuda sehingga setiap orang yang mendengarnya akan bising kedua telinganya. Dan Aku akan merentangkan tali di atas seluruh Yerusalem tali pengukur yang dipergunakan untuk melawan Samaria dan tali unting-unting sama seperti atas keluarga Ahab. Aku akan menyapu bersih Yerusalem bagaikan seorang membersihkan sebuah piring, membersihkannya dan membalikkannya. Aku akan meninggalkan sisa sisa pusakaKu dan memberikannya kepada musuh-musuh mereka. Mereka akan dirampok dan dijarah oleh musuh-musuh mereka, sebab mereka telah berbuat dosa di mataKu dan telah membuat-Ku murka sejak leluhur mereka keluar dari Mesir sampai kepada hari ini.”
Perang atas nama agama dilakukan oleh Kristen dan Islam. Mengapa Tuhan bangsa Israel demikian marah kepada umat yang suatu saat pernah Dia anggap sebagai bangsa pilihanNya? Karena mereka mulai menduakan Tuhan mereka sendiri dengan juga menyembah Baal dan Asherah. Sejarawan Philo dari Byblos (314M) mencatat kejadian kejadian ini: sebagai kepala dari rangkaian Baal para dewa dari bangsa Canaan adalah El yang memiliki istri Asherah. El mengawini ketiga saudari saudarinya di mana salah satunya adalah Astarte. Yang terakhir ini juga sering disebut Astharoth di dalam Perjanjian Lama (Hakim-Hakim 10:6ff). Sembah juga ditujukan kepada Anath dewi perang dan dewi kesuburan. Anath memakai potongan tangan-tangan manusia sebagai busananya dan berkalung untaian tengkorak manusia. Dia menginjak kepala-kepala manusia yang berserakan di sekitar kakinya. Anath adalahsaudari dan juga istri Baal dewa badai dan hujan. Lambang Baal adalah kepala sapi jantan.
Beberapa tahun silam telah diketemukan beberapa tempat pemujaan ’orang orang kafir’ ini dengan ’dewa dewa mereka yang aneh’ di berbagai tempat (di Israel modern). Di satu lahan yang dikelilingi oleh batu batu ceper ada batu pemujaan yang sama dengan ketika Canaan masih dihuni oleh penduduk aslinya. Di tengah-tengahnya ada pratima dari perunggu yaitu Baal sendiri yang lagi duduk. Sedang sang dewi kesuburan biasanya disembah pada bukit bukit atau di gunung.

Sepintas lalu ceritera di atas tentu tidak jauh bedanya dengan penyembahan Durga atau Kali dari yang kita temukan di dalam Hinduisme. Hanya saja pemahaman simbolisasi yang dengan jelas diceriterakan mengenai hal ini di dalam tantra diartikan secara harfiah di dalam Perjanjian Lama. Hal ini memang benar demikian sebab bukti- bukti terakhir mengenai orang Phunisia (salah satu bangsa penghuni pemula Canaan) baik mengenai kapal-kapal mereka maupun juga cara hidup mereka pada waktu itu dengan pasti menunjukkan bahwa mereka adalah orang Arya. Akan tetapi para nabi bangsa Israel seluruhnya mengutuk ‘konversi’ dari raja Manasye ini. Di dalam Injil Yesayas (1, 21) dipertanyakan bagaimana orang orang saleh ini semuanya menjadi pelacur? Laporan resmi juga menyatakan ’Yang Paling Dibenci dari Orang Orang Kafir’ (Abomination of the Heathens).
Sepanjang 40 tahun perkelanaan bangsa Israel ketika keluar dari Mesir (di dalam jaman Musa) sampai kepada ketika mereka sampai di tanah yang telah dijanjikan oleh Tuhan mereka (Canaan) perang dan kekerasan tidak pernah berhenti. Tiadanya toleransi di dalam monotheisme telah ditulis dengan darah sepanjang sejarah manusia. Penyembah dari satu Tuhan yang cemburu melakukan peperangan terhadap mereka yang memiliki kepercayaan yang lain. Mereka menjatuhkan hukuman Tuhan atas kekejaman yang diderita oleh mereka yang dikalahkan.
Semangat dari Israel lama diwarisi oleh Kristiani dan Islam. Perang antar agama yang adalah hasil dari fanatisme yang membenarkan pembunuhan dari orang-orang yang berbeda kepercayaannya hampir-hampir tidak dikenal di dalam Hindu. Memang di sana sini terjadi letupan fanatisme, tetapi Hindu tidak pernah menganjurkan penghukuman terhadap mereka yang tidak memiliki kepercayaan yang sama. Dapatlah dikatakan bahwa sejarahnya adalah bersih dari halhal yang demikian.
Hindu sanggup mempersatukan bersama di dalam kedamaian berbagai kelompok manusia. Buddhisme yang mengklaim pengikutnya sebanyak seperlima dari umat manusia selalu menghormati kepercayaan yang lain dan tidak pernah mempengaruhi mereka dengan kekerasan. Bukubuku Buddha permulaan menceriterakan bagaimana Buddha mengutuk kecenderungan dari berbagai kelompok untuk memamerkan ajaran mereka dan menjelek - jelekkan ajaran lain (Sutha Nipata, 782, lihat juga Angukara Nikaya iii, 57, 1 di mana Buddha menganjurkan pemberian hadiah dari pengikutnya juga kepada yang non-Buddhist. Buddha mengakui hak dari yang non-Buddhist untuk naik ke sorga (Radhakrishnan).