Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1933
PROGRAM MEDIA HINDU

Tue

15

Jun

2010

Wujud Tuhan PDF Print E-mail
Written by webmaster   
Oleh : Putu Sastrawan

Para Rsi Veda mencoba dengan penuh rasa bhakti utnuk menemukan Tuhan di dalam keberadaan utama dengan impersonalitas penuh. Mereka mengatakan ”kita mulai mendapatkan petunjuk yang sangat bagus tentang Tuhan pada tahapan di mana otak kita merasa letih”. Dia tak dapat dipahami melalui logika apapun. Dia hanya dapat dialami sebagaimana kita mengalami udara yang menyentuh tubuh kita. Pengalaman seperti ini dapat dicapai dengan penyerahan diri sepenuhnya”.

Pembacaan mantra-mantra Veda akan sangat berarti bila si pembaca berupaya merealisasikan Tuhan sebagai penyandang status tertinggi. Pencapai utama mantra-mantra Veda adalah dalam mengembangkan suatu penyatuan dengan Tuhan yang menyandang “status tertinggi”. Veda mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan sebagai “roh individu”. Senantiasa bersama kita setiap saat dalam situasi apapun juga.

Dialah pelindung kehidupan sekaligus kematian kita. Dalam Brahmasutra 2.3 dikatakan “Janmadaysya Yatah Sastrayonitvat” yang bermakna Tuhan adalah sebab di balik asal mula kita dan memberikan perlindungan kepada kita. Karena Ia adalah penyebab maka, Ia pun merupakan pencipta dari Veda dan dinyatakan dengan sastra. Tuhan adalah pencipta tetapi bukan dari ketiadaan seperti keyakinan agama-agama Abraham melainkan proses penciptaan berasal dari persatuan Purusha dan prakerti yang terdapat dalam Tuhan sendiri. Tuhan adalah pelukis yang agung tetapi Ia bukan pesulap Dia mencipta dengan keberadaanNya dengan sangat agung (Mahipraniti). Dengan cahayaNya yang maha suci dan Ia adalah satu-satunya Tuhan dari semua ciptaan. Dengan “Lila”Nyalah Tuhan menciptakan semua ini.

Dalam kisah agung Mahabarata Tuhan dalam wujud Sri Krsna telah memperlihatkan bentuk- Nya yang tak terhingga dan begitu mengagumkan. Alam semesta berada dalam badan Tuhan dan tak satu ruangpun luput dari perhatian Tuhan. Tuhan adalah awal sekaligus akhir dari segala sesuatu. Tuhan berada dimana-mana termasuk dalam setiap mahluk namun Tuhan tersisih dari segala  karma baik atau buruk. Tuhan hanya dapat dilihat melalui cinta kasih (bhakti) karenaTuhan bersifat tak terpkirkan dan hanya mata rohanilah yang dapat memahami hal tersebut. Lebih lanjut dijelaskan dalam bentuk semesta, Arjuna melihat mulut-mulut tak terhingga, wahyu-wahyu ajaib yang tak terhingga, perhiasan rohani yang tak terhingga, senjata rohani yang tak dapat dilukiskan, cahaya kebahagiaan tanpa batas yang menyebar ke mana-mana dan tentu saja hal tersebut tak tertangkap oleh akal pikiran manusia. Begitulah keagungan Tuhan yang tak terpikirkan oleh siapapun. Tuhan mengatasi segala hal. Ia ada dalam setiap individu termasuk “Dyav A Partivyoh” (ruang antara Sorga dan Bumi ) dan “Lokatrayam” (tiga dunia).

Berbeda dengan ajaran agama lain, dalam agama Hindu Tuhan berada dalam posisi imanen dan transenden. Dalam Islam misalnya banyak para filsuf mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan. Bagi Ibn Arabi, sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya, Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. Alam hanya merupakan penampakan diri (tajalli) dari Tuhan, dengan kata lain Kuasa Tuhan dalam padangan ini lebih terbatas hanya sebatas luar mahluk hidup saja.

Banyak gelar atau sebutan yang diberikan untuk rnenyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Banyak pula kekuatan Tuhan ataupun kemahakuasaan-Nya. Tuhan juga memiliki banyak bentuk atau banyak wujud (bahu murti). Begitu pula dalam kaitannya dengan keberadaan-Nya, bahwa Tuhan ada di mana mana (wyapi wyapaka). Tuhan memiliki beragam sifat atau karakter (Saguna Brahman). Tuhan pula sesungguhnya tidak dapat dipikirkan (acintya). Masih banyak lagi karakter Tuhan itu sendiri.

“Maya tatam idam sarwam jagad awyaktamurtina. Matsthani sarwabhutani na ca ham tesawawasthitah,” maksudnya adalah alam semesta ini diliputi oleh Aku (Brahman) dengan wujud Aku secara rohani (atman), namun di sisi lain semua makhluk ada pada-Ku.

Segala manifestasi, Dewa Siva, para Aditya, para Vasu, para Sadhya, para Visvadeva, Asvi, para Marut, para Leluhur, para Gandarva, para Yaksa, para Asura dan seluruh Dewa-Dewi yang sempurna memuja- Ku dengan rasa kagum dan bhakti.

Hindu memuja berhala? Dalam Bhagavad Gita 10.40 Sri Krishna berkata, “Nanto’smi mama divyanam vibhutinam,” wujudKu yang rohani nan mulia tidak terbatas”. Sedangkan Brahma sang Pencipta dunia fana berkata “Advaitam acyutam anadim ananta rupam, Sri Acyuta (Krishna)” yang satu tiada duanya itu, tidak berawal dan memiliki wujud beraneka- ragam tak terbatas” (Brahma Samhita 5.33). Alam semesta material adalah wujud semesta Tuhan (Bhagavata Purana 1.5.20, “Idam hibhagavan iva.” Mundaka Upanisad 2.1.10, “purusam evedam visvam”),

Bhagavata Purana 10.40.7 Para bhakta berdoa, “Yajanti tvam maya vai bahu murtyeka murtikam,” Tuhanku, meskipun Anda mewujudkan diri dalam berbagai macam rupa dan bentuk, tetapi Anda tetap satu tiada dua, dan kami hanya menyembah diri-Mu saja”.

Memuja Tuhan dalam wujud arca bukan berarti memuja benda mati apalagi tindakan tersebut dipandang sesat (musrik) oleh agama lain. Tetapi bagi seoang bhakta, Tuhan hanya dapat dipahami melalui praktek bhakti secara mendalam dan adalah wajar mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Arca Vigraha, gambar Tuhan yang dipuja di kuil/ mandir adalah juga wujud Tuhan (Padma Purana, arcye visnau siladhir .. Yasya va narakisah).

Huruf OM (Pranava Omkara) yang mengawali setiap mantra Veda juga adalah juga wujud Tuhan (Bhagavad Gita 7.8, pranavah sarva vedesu. Bhagavad Gita 9.17, vedyam pavitram omkara). Lantas apa bedanya dengan aksara suci yang menggambarkan Tuhan dalam agama lain seperti Allah (dikubah masjid) atau salib (dalam setiap gereja)? (Semua agama memiliki simbol yang dimuliakan. Di Sudut Ka’abah ada batu hitam, atau hajar aswad yang dicium-cium oleh orang Muslim ketika naik haji. Kristen memuja salib  dimana patung Kristus menggelayut tak berdaya, red).

Sesungguhnya Tuhan tidak ada pada patung yang terbuat dari kayu, batu atau tanah. “Bhave hividyate devas,” Tuhan ada dalam bhakti. “Tasmad bhave hi karanam,” maka bhakti adalah penyebab Beliau ada pada patung itu”. Penulis seorang guru SD di desa Tinggarsari, Busungbiu, Buleleng Bali
Trackback(0)
Comments (2)Add Comment
Ketut Budiana
Ketut Budiana
January 27, 2012
114.79.57.228
Votes: +0
Kekuasaan Allah itu mutlak !

Ummat (manusia-manusia) Islam tidak mungkin membatasi kekuasaan Allah (Tuhan) dan Allah tidak mungkin dibatasi oleh ciptaanNYA. Contoh; analogi antara sebuah kursi dg tukang kayu, tukang kayu berada diluar tubuh kursi namun si tukang itu berkuasa atas kursi, dia bisa mendudukinya kapan saja ia mau dan bahkan menjualnya. Bukan lantaran si tukang tidak berada di dalam tubuh kursi lantas kemudian si tukang menjadi terbatas kekuasaannya atas kursi tsb. smilies/cry.gif

Supartha
Supartha
July 02, 2010
110.139.195.121
Votes: +0
Tuhan tak terbatas

Om Swastiastu
Sepanjang pengetahuan yang saya miliki. Memang apa yang Pak Putu Sastrawan sampaikan benar adanya. Tuhan ada di dalam diri semua mahluk dan melingkupi seluruh keberadaan, tak terbatas. Jadi tak terbatas hanya ada di luar mahluk hidup. Atman, sebagai percikan terkecil Beliau, berada dalam diri setiap mahluk. Munculnya istilah berhala yang akhirnya dimunculkan oleh umat lain menurut ajaran kitab sucinya, menurut saya merupakan wujud wahyu Tuhan/Ida Sanghyang Widhi Wasa untuk mengingatkan kita kembali bahwa kita memang dapat memuja Beliau dalam manifestasi yang tak berwujud maupun yang berwujud seperti arca. Namun, kita harus selalu ingat bahwa tujuan kita lahir ke dunia ini adalah kembali kepadaNya, sehingga Tuhanlah yang kita puja, bukan lagi mahluk tinggi ataupun mahluk yang lebih rendah yang bersemayam di tempat-tempat suci. Hal ini yang disebutkan di Bhagawad Gita, bahwa mereka yang memujaKu akan kembali padaKu, mereka yang memuja leluhur akan kembali ke alam leluhur. Yang harus kita lakukan adalah memuja Tuhan, sekaligus menghantarkan doa bagi semua leluhur dan sudah mendahului kita agar dapat kembali kepadaNya seutuhnya dalam setiap pemujaan. Untuk keseimbangan alam, memang kita harus menghargai mahluk-mahluk lain seperti bhuta kala, namun bukan berarti kita memujanya. Hal itu yang mungkin diingatkan dengan istilah berhala yang dimunculkan oleh umat lain..Untuk kembali kepada Beliau kita harus memasrahkan diri kita sepenuhnya kepada Cahaya dan KasihNya, menekuni setiap pekerjaan yang kita lakukan di dunia tanpa mengharapkan hasil dengan selalu mengingat bahwa kita hanya alat Beliau dalam menyebarkan Cahaya dan kasihNya.. Suksma.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

Write comment
 
 
smaller | bigger
 

busy
Last Updated on Tuesday, 15 June 2010 12:41
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

aZ
Om Swastyastu mungkin lebih bagus kalau di adakan debat dengan antara ...
Tuesday, 10 January 2012
comanx bayu
om swasti astu slm dharma, pada tanggal 29 desember yang akan datang, ...
Sunday, 18 December 2011
Dewa Gd Darmawana
Om Swastyastu Rahajeng,..salam kenal tyang penggemar media hindu,.arti...
Tuesday, 15 November 2011

Komentar Artikel Terakhir