Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1934
PROGRAM MEDIA HINDU

Sun

25

Jul

2010

Realitas Sosial Perkawinan Beda Agama PDF Print E-mail
Written by webmaster   
Oleh: IGN.Suardeyasa

Seseorang yang telah dipertemukan dengan berbagai agama, secara implisit memastikan dan mencermati ondisi sosial masyarakat sekitar tersebut, pelan-pelan terekam dalam memori, suatu ketika akan menjadi sebuah pengetahuan tersendiri baginya dan bagi masyarakat.

Salah satu yang mencengangkan dewasa ini adalah permasalahan perkawinan beda agama. Penulis sudah mengadakan pengamatan di berbagai keluarga yang memeluk agama berbeda. Ada yang memilih untuk tetap menjadi Hindu meskipun istri/suaminya beragama lain. Adayang memilih untuk memeluk agama suami. Tapi di antara perkawinan  jenis ini, “paid bangkung” yang paling menyedihkan, paling tidak punya jati diri.

Ada sebuah keluarga yang ujungujungnya cerai karena meskipun perkawinannya dilangsungkan secara Islam, akan tetapi pihak keluarga Hindu tetap melakukan upacara secara Hindu “agar adil” katanya dan dapat mepamit di sanggah kemulan.

Dan ini kisah perkawinan yang melibatkan tiga agama, yaitu Islam, Kristen dan Hindu. Duduk persoalannya sebagai berikut: si perempuan, beragama Kristen, kawin dengan seorang laki-laki yang bergama Islam. Setelah memiliki anak dua, karena tidak mampu mempengaruhi suaminya untuk pindah ke Kristen, memilih untuk mencari pasangan lain meski masih terikat hubungan dengan suaminya.

Kali ini dipilih seorang pria Hindu, perpisahan melanda keluarga yang berlatar belakang Islam dan Kristen. Kedua-duanya tetap berkeinginan agar anak-anak mereka memeluk agama mereka masing-masing, toh akhirnya kedua anak mereka dilarang berat untuk pergi bersembahyang ke Gereja. Yang pengaruhnya paling kuat adalah dari paman-pamannya yang beragama Islam dan cukup rajin dalam mengaji.

Dikemudian hari, anak-anak mereka tumbuh besar, setelah dua puluh tahun mereka menapaki perkuliahan terbebas dari kungkungan orang tua, tapi tetap saja mereka pulang dipaksa untuk mengaji di mushola. Kini kedua anak itu tidak terurus, apalagi yang bontot, sering mabuk-mabukan, di suruh kuliah enggan, lebih memilih untuk tinggal di kota, sabu-sabu-pun diganyang juga.

Bahkan demi melihat anak-anak mereka, sebut saja namanya Yani dan Herwin memeluk agama Kristen, ketika mereka berdua bersekolah SMA di Sulawesi Tengah. Setamat sekolah mereka kembali ke kampungnya, dan kembali lagi menjadi Islam. Ini baru betul-betul seorang bapak yang kuat dalam memegang agama. Tiga tahun mengenyam pendidikan kekristenan, anak-anaknya bisa kembali lagi menjadi Islam.

Sayang pada akhirnya, si Yani memilih untuk memeluk agama Kristen sampai akhirnya melangsungkan perkawinan, sedangkan si Herwin tidak begitu fanatik dengan agama, malah mencaci kedua orang tua mereka karena sering bertengkar mengenai agama mereka. Sang ibu semakin pusing dibuatnya, hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai.

Kini dia bersama-sama dengan lelaki Hindu, lima tahunan tidak dianugrahi seorangpun anak. Laki-lakinya yang berasal dari keturunan Sang mungkin bosan tiap hari diceramahi terus, diajak untuk memeluk Kristen, dirayu agar mau pergi ke Gereja sembahyang sekali saja. Lima tahun setelah itu, Sang menjadi kalap dan pergi ke Bali dengan alasan dipanggil keluarga
di Bali.

Sejak tahun 2006, Sang tidak kunjung pulang ke Sulawesi, tahun 2007 istrinya mencarinya ke Bali. Dua tahunan tidak pulang Sang rupanya sudah memperistri seorang wanita dari Bali yang lebih ayu dan memang bernama Ayu. Rupanya jalan yang ditempuh ini diberikan oleh seorang pengurus Parisada di Sulawesi sana; yang pernah dimintai solusi tentang masalah keluarganya, dan memintanya agar pergi ke Bali.

Diketahui suaminya sudah melakukan perkawinan lagi, istri yang beragama Kristen menggugat perkawinan suaminya ke Pengadilan Negeri Bangli. Tapi lama tidak mendapatkan tanggapan, lantaran kasusnya sebagaian besar terjadi di Sulawesi. Pengadilan Negeri Bangli memutuskan untuk menyerahkannya kepada Pengadilan di Sulawesi. Perkara dimenangkan oleh sang istri, tapi Sang tetap menjadi seorang Hindu bersama keluarga barunya di Bali. Hartanya di Sulawesi, sebagai harta gono-gini jatuh ke tangan
si istri lama.

Ibu yang beragama Kristen ini nekat sekali di dalam menyebarkan agama Kristen di desa transmigrasi, namun hasilnya nol, karena masyarakat transmigran ini memang sudah terikat oleh adat. Sepuluh tahun lebih baru perempuan gigih ini hanya mendapatkan pengikut satu orang, itupun lantaran terikat perkawinan, yaitu seorang putri Bali berpindah agama, karena seorang laki-laki suku asli yang sudah beragama Kristen meminangnya.

Proses peminangannya berlangsung alot. Parisada Desa dan Pengurus Adat yang sudah tahu akan terjadi hal pindah agama, kompak mengadakan perombakan awig-awig terutama tentang pindah agama: setiap orang yang berpindah agama akan dikenakan denda adat sebesar lima juta rupiah, dan bila meninggal dunia, tidak akan mendapatkan lahan kuburan sedikitpun, penguburannya diserahkan ke agama yang bersangkutan.

Hendaknya pengurus adat di Bali segera perombakan awig-awig, agar mengandung ketentuan tentang perpindahan agama, bukan hanya perpindahan penduduk saja.

Penulis, koresponden Media Hindu Denpasar

Trackback(0)

TrackBack URI for this entry

Comments (10)

Subscribe to this comment's feed
...
0
Kalau menurut saya, pernikahan sama agama atau beda agama sama saja, pasti ada saja masalah yang melanda dalam kehidupan pernikahan. Dan contoh yang disebutkan diatas itu bersifat kasuistis, jadi tidak setiap pasangan yang menikah beda agama akan selalu dilanda masalah serupa. Pernikahan sama agamapun juga tidak menjamin pernikahan akan berjalan dengan baik. penekanan yang saya maksud adalah individu yang berada dalam pernikahan tersebut, karena menurut saya, individu tersebut yang mempunyai kontribusi besar terhadap masalah yang ada maupun penyelesaian terhadap masalah yang ada.

Jadi menurut saya, kembali ke individu tersebut, mau menyelesaikan permasalahan atau tidak. jika 2 individu itu tidak mampu menyelesaikan bersama, mungkin bisa meminta bantuan kepada konselor pernikahan atau kepada pihak2 yang mempunyai andil dalam membantu menyelesaikan masalah mereka.

Semoga bisa membantu, dan Salam damai bagi anda semua smilies/smiley.gif
rafael nugraha , May 03, 2012
om swastyastu
0
sebenarnya saya binggung kenapa muda-mudi hindu tiap bulan/thunnya berpindah agama lain?pa penyebabnya n alasanya?pa karena ajaran agama kurang dipahami tolong ?????
dan bagaimana caranya supaya muda-mudi hindu di seluruh indonesia gak berpindah agama karena cinta????????
daniel , February 25, 2012
Konversi agama untuk kepentingan Duniawi ?
Ketut Budiana
... makanya kalau pindah agama itu harus dg keyakinan, bukan lantaran kepentingan duniawi, sekedar untuk pemuas nafsu, harta, dsbnya. Kalau mau baik, tentu belajar dulu agama bersangkutan baru kemudian pindah agama, terus menikah, pasti aman dech. smilies/wink.gif smilies/cheesy.gif smilies/grin.gif
Ketut Budiana , January 22, 2012
salam
0
kasih sayang itu anugrah TUHAN..karena Dialah pemilik hati manusia. Saya perempuan muslim yang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki Hindu dan dia adalah anak pertama.hubungan yang saya bina adalah hubungan dengan memakai logika bukan cinta buta.namun karena orang tuanya dan adat yang mengharuskan anak pertama itu adalah pemegang adat keluarganya kemudian dia mengorbankan cinta dalam dirinya untuk baktinya kepada orang tua dan adat bali tapi dia tidak tulus dalam menjalankannya dan dia mengatakan men

Write comment

smaller | bigger

busy
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

W. Imanto
bgm bisa pesan online bila pas checkout...kolom state/province yg waji...
Wednesday, 26 September 2012
Guest
Om Swastyastu, Mohon info Media Hindu menerima cetak buku selain buku-...
Wednesday, 19 September 2012
Redaksi Media Hindu
kepada Yth bpk Wayan Karyono, untuk naskah buku Bhaawad Gita silahkan ...
Monday, 17 September 2012

Komentar Artikel Terakhir