Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1934
PROGRAM MEDIA HINDU

Tue

14

Sep

2010

Aku Ingin Saudaraku Kembali ke Jalan Dharma PDF Print E-mail
Written by webmaster   
Oleh Neti
Aku ingin berbagi cerita untuk kita jadikan bahan renungan. Ku awali dengan kisah toleransi kedua orang tuaku yang sangat tinggi terhadap agama lain. Menurutku itu sangat bagus, namun menurutku karena pemahaman agama yang kurang. Sebaliknya, aku yang dibesarkan dan bergaul di lingkungan non Hindu membuat aku tumbuh menjadi Hindu yang fanatik, dalam artian fanatik yang tak sempit.

Tanpa berbekal ilmu agama yang baik aku memberanikan diri untuk bangga menjadi Hindu. Batinku kadang teriris melihat dan mendengar saudaraku-saudara kita beralih agama dan itu jumlahnya tidak sedikit.

Yang lebih menyakitkan tiga dari sembilan saudaraku keluar dari jalan Dharma. Dua saudara perempuanku dan satu saudara laki-lakiku. Aku sebagai saudara yang lebih muda tentunya tak banyak kewenanganku untuk berbicara. Dan ibuku yang masih mempunyai hak dan tanggung jawab mengarahkan anak-anaknya, justru mendukung hal itu. Kalaupun bicara aku harus mulai dari mana karena ibuku mendukung dan menganggap apa yang dijalani sekarang adalah jalan hidupnya yang sudah ditakdikan dari atas.

Setelah meninggalnya ayahku aku menyuruh ibuku untuk mengajak kakakku yang laki-laki kembali ke jalan dharma. Tapi diskusiku dengan ibuku sering mengalami jalan buntu. Mengapa aku sangat menyayangkan? Ia seorang laki-laki dalam keluarga, yang kelak bertanggung jawab dan ia sebagai purusa tentunya hal ini harus menjadi pemikiran kami sekeluarga.

Kami sangat menyadari sebagai perantau kepedulian semacam ini hanya semu, karena tanpa ada teguran atau gambaran menakutinya apabila terjadi konversi seperti ini. Akhirnya kesuksesan kakakku mencapai puncaknya ketika ia mengawini gadis Sunda–Sumatra di kota kembang, dengan tiga orang putranya dengan embel-embel nama Wayan, Made dan Komang. Saudara laki-lakiku ini khusuk sholat di depan ibu dan saudara-saudaraku yang lain.

Dan dengan kemapanan ekonomi merekapun berangkat haji sekeluarga. Harapan menjadi haji mabrur pupus. Musibah demi musibah dialami sepulang dari tanah suci dan berakhir dengan perceraiannya dan kematian istrinya menderita kanker usus.

Lagi-lagi ibuku menganggap ini takdir. Hal ini tentu saja menjadi onak dalam batinku. Sakit sendiri, melihat saudara yang pernah berjaya kini bagai membalikkan telapak tangan, musnah semua kekayaan dan kejayaan hilang dalam sekejap. Lagi-lagi aku berpikir apakah ini teguran?

Betapa inginnya aku mengajak saudaraku kembali ke jalan dharma. Betapa inginnya aku menyadarkannya untuk kembali pulang. Musibah yang bertubi-tubi datang tampaknya belum menyadarkannya. Bahkan kini ia kawin lagi dengan gadis Sunda. Musibahpun kembali terjadi. Anak pertama dari istri kedua meninggal mendadak, tanpa sebab.

Musibah belum berhenti. Mobilnya mengalami kecelakaan, istrinya selingkuh dan berakhir hidupnya di rumah sakit karena kanker usus.

Kekayaan milyaran rupiah hilang dalam sekejap dan musibah menimpa lagi pada perkawinan kedua. Apa ini benar- benar teguran, karena kakakku itu tak mepamit di sanggah leluhur?

Aku sempat melihat keadaan kakakku di Bandung. Aku ingin berbicara namun tak berbekal pengetahuan agama, aku akhirnya diam. Setiap pagi aku mendengar kakakku dengan amat fasih mengaji. Di lingkungannya ia begitu disegani sebagai haji. Keadaannya sekarang sudah bangkrut dari sebuah kesuksesan sepulang dari tanah suci namun ia begitu taat dengan identitasnya yang baru.

Ini menjadi bahan renungan bagiku: Aku ingin menjadikan anak-anakku kelak menjadi anak-anak yang suputra. Dan semoga kisah yang dialami oleh saudara laki-lakiku akan menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua dalam membimbing anak-anak kita, generasi Hindu ke depan tetap di jalan Dharma.

Tentunya sangatlah salah apabila kita tidak memulai sedini mungkin mengajarkan pendidikan agama. Sangatlah salah apabila kita selalu mementingkan urusan duniawi dari pada urusan agama.

Melalui berlangganan Media Hindu, kini aku sedikit-demi sedikit bisa belajar dan mengajari anak-anakku, pemahaman tentang sebuah agama yang benar.

Penulis tinggal di BTN Sweta
Trackback(0)
Comments (8)Add Comment
Ketut Budiana
Ketut Budiana
January 22, 2012
114.79.62.133
Votes: +0
Pindah agama tidak menyebabkan musibah !

Artikel sdr Neti adalah pengalaman pribadi, namun yg perlu saya berikan tanggapan adalah masalah musibah yg menimpa seseorang, itu bukan lantaran seseorang itu pindah agama, bukan ! Suatu musibah dapat terjadi karena banyak faktor, misalnya human error, bagaimana misalnya kalau sebuah pesawat terbang jatuh dan menewaskan semua penumpangnya yg di dalamnya terdiri dari beragam agama. Siapa yg akan anda salahkan ? dan apa salah mereka sehingga harus mati secara bersamaan ? smilies/angry.gif

0
Putu Karya
November 29, 2010
203.153.115.204
Votes: +1
Tanggapan atas komentar"K.Yohanes"

Kepada Komang Yohanes Yth,

Saya begitu kaget dengan apa yang Komang Yohanes sampaikan di forum ini, tentang tata cara pelaksanaan Agama Hindu di Bali ini. Saya pikir dan saya yakin bahwa leluhur Pak Komang Yohanes dulu adalah orang yang beragama Hindu. Yang saya mau komentari tentang cara berpikir Komang Yohanes adalah sbb:
1. Saya (dulu pernah mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan yang bernuansa Kristen), dan saya sedikit tidaknya tahu , tentang agama yang Komang Yohanes yakini sekarang.
2. Kalau kita ingin membanding-bandingkan tentang keyakinan kita, mulai belajarlah tentang sisi kebaikannya, bukan tentang "kekurangannya". Karena kalau mau jujur, tidak satu orangpun akan mau bahwa keyakinannya dinilai kurang bagus oleh pengikut keyakinan yang lain, begitu juga dengan Kmg Yohanes sendiri, bukan?
3. Kita mestinya , mulai dengan tindakan nyata untuk membina kerukunan antar umat dengan keyakina berbeda, bukan sebaliknya, seperti K.Yohanes lakukan. ( Kalau mau jujur, masih ada darah Hindu mengalir di tubuh K.Yohanes, karena memang leluhur K.Yohanes dulunya pasti Hindu. Dan sepantasnyalah sebagai pengikut Yesus ( yang katanya penebar "Cinta Kasih", akan selalu berbuat baik, bukan bertindak sebaliknya seperti yang K.Yohanes lakukan ).
4. Kalau saya mau menilai agama yang K.Yohanes anut, tentu saya akan menemukan segudang permasalahan, yang pasti K.Yohanes tidak akan setuju dengan pendapat saya. Kalau itu yang saya lakukan, kita pasti akan tetap punya perasaan marah, dengki atau yang lainnya. Dan itu berarti tidak tercapai tujuan dari Agama Hindu , yaitu menemukan kedamaian. Apalagi "Cinta Kasih" seperti yang di dengung2kan di setipa kotbah di gereja. Memangnya, Yesus itu mendengungkan "Cinta Kasih" hanya untuk Kristen saja?. Kalau itu yang K.Yohanes pahami, berarti ajaran agama siapa yang dangkal?
5.Kalau di dalam Hindu , ada ajaran dalam buku Bhagavad Gita, menyebutkan sbb: "Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua makhluk. Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi. Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula" ( Bhagavad Gita IX.29). Apa makna yang tersirat dari ajaran suci Hindu tersebut, adalah the real "Cinta Kasih" dari Tuhan, dan diaplikasikan oleh Umat Hindu. Makanya, karena pemahaman itulah, saya meyakini, K.Yohanes ataupun leluhur dari K.Yohanes, melenggang denga bebasnya, berpindah agama dari Hindu ke Kristen dengan sesuatu alasan, yang saya yakini bukan karena kadar spiritualnya, melainkan yang lainnya (tidak usah saya sebutkan di sini)
6. Kalaupun K.Yohanes, menyebutkan Tuhan kami "matre", (PADAHAL ITU PASTI TIDAK BENAR, DAN BOLEH DIKATAKAN PELECEHAN TERHADAP AGAMA HINDU YANG LUHUR INI), apakah dipikiran K.Yohanes, bahwa orang Hindu bali itu, miskin2 jadinya karena menghabiskan banyak biaya untuk membuat banten upakara?, Apakah orang2 Hindu tidak ada yang kaya, menurut K.Yohanes?. Terus, sekarang K.Yohanes, sudah melakukan sembahyang dengan tidak membuat upakara, hanya bernyanyi saja, dan akhirnya K. Yohanes menjadi "SUPER KAYA?". Saya berharap K. Yohanes, membuka pikiran dan mata anda, melihat kenyataan. Tidak semua orang mempunyai nasib yang sama. Kenapa bisa demikian, jawaban yang pasti adalah "Karma" masing-masing. Dan saya yakin, kalau tiba saatnya nanti K. Yohanes sendiri dan seluruh keluarga K.Yohanes, akan menerima semua karma yang telah anda perbuat. S.A.Y.A. S.A.N.G.A.T Y.A.K.I.N, itu akan terjadi terhadap K.Yohanes yth. Tinggal tunggu saatnya saja.
7. “Yat karosi yad asnasi, yad juhosi dadasi yat, yat tapasyasi Kaunteya, tat kuruswa madar panam”

(apapun yang kau kerjakan, kau makan, kau persembahkan, kau dermakan, dan disiplin diri apapun yang kau laksanakan, lakukanlah wahai Kuntiputra, sebagai Bhakti kepada-Ku)

Terimakasih.

0
Artayasa
November 27, 2010
110.139.180.3
Votes: +0
...

Pertama..saya comment mengenai artikel diatas...alangkah indah keinginan anda,..
Keluarnya saudara kita dari jalur Dharma tidak lepas dari sangat dangkalnya pemahaman mereka tentang Ajaran Weda, mereka selalu menafsirkan sesuatu dari satu sisi sempit, dan tidak seutuhnya...memang Weda itu tidak sepraktis kitab agama lain yang hanya beberapa ratus halaman saja, hingga bisa di tenteng kemana mana...tapi bisakah itu menjawab semua pertanyaan kehidupan yang begitu kompleks?
Kita bangga dengan Weda yang begitu lengkap menjawab semua pertanyaan pertanyaan kita..
Asal kita mau menggali....kita akan menemukan Hindu yang begitu indah.....
Pernahkah umat hindu, membunuh umat lain untuk memaksakan keinginan nya? TIDAK.
Kita berdoa bukan hanya untuk keselamatan diri sendiri....tapi untuk sesama dan alam semesta....itu semua karena kesadaran dan rasa syukur kita atas apa yang vtelah beliau bciptakan buat kita.....
Waktu telah mencatat..sejak bumi belum tercipta Hindu telah ada...dengan Wujud wujud Beliau yang Menyesuaikan.....Agama lain lahir setelah nya...berasal dari kemunafikan manusianya.........

@K.Yohanes.....begitu miskin nalar anda menyatakan Tuhan kami "Matre", Apakah Tuhan anda cengeng maka harus dinyanyikan saban hari biar ga nangis?
Sadarlah bahwa pamahaman anda tentang Agama? apalagi tentang Hindu 0%...jadi jangan coba coba berbicara macam macam....Nanti anda akan temukan jawaban yang sesungguhnya...Astungkara.

0
Komang Yohanes
November 10, 2010
110.138.191.248
Votes: -2
Yesus adalah Jalan Keselamatan

@ll Hindu

berapa banyak uang yang kalian hamburkan untuk upacara, upakara ? apakah Tuhan kalian sangat "matre"...?
lebih baik uang tsb kamu berikan kepada orang-orang miskin dan menderita, karena aku yakin bahwa Tuhanmu tidak membutuh makanan dan minuman.

Ketahuilah jalan yang terang dan mudah adalah melalui jalannya Yesus

0
LYAN
October 25, 2010
202.65.121.42
Votes: +0
salam,

apakah benar bahwa musibah2 yang datang pada saudara anda adalah karma?
bukankah hidup memang begitu, kebahagiaan dan kesedihan selalu datang silih berganti?
kebahagiaan dan kesedihan bukankah sama2 ujian hidup?
lalu, disebut apakh orang2 hindu yang mendapatkan musibah? karma ataukah ujian???

hanya mengajak anda berpikir.

thxs,
LYAN

0
karsana
October 09, 2010
202.70.58.49
Votes: +0
salam damai

Saya mungkin sama dg Mbak Neti pemahaman agama saya kurang, mungkin kita dapat ambil hikmahnya, banyak diantara kita (Hindu), hanya identitas tapi,pemahaman nilai filosofis tentang ajaran Hindu sanagt Minim sehingga begitu mudah goyah, perhatikan upaya agama lain yg ada dimedia tv.mungkin menurut saya peran kita,khususnya pemuka agama harus memperhatikan hal ini.tentang seringmya diadakan dharma wacana,yg saya tahu,banyak diantara kita pinter2 bikin upakara,mebanten tapi pemahamannya ?....ini intropeksi buat kita, semoga jalan Dharma kembali jaya

0
I Dewa Ketut Artawan
October 05, 2010
125.165.135.37
Votes: +0
...

Setiap orang punya karmanya sendiri yang kebanyakan dari kita menyebutnya dengan nasib atau takdir. Takdir /nasib bisa diubah menjadi baik jika kita selalu berpikir, berkata, bertindak yang baik dan positif. Saya sebut ini Good karma.
Kita juga tahu, kita dibekali kecerdasan akal dan pikiran dan juga saya yakin banyak dari kita yang berpendidikan tinggi. Gunakanlah itu untuk mencapai tujuan hidup kita yang tertinggi yaitu Hyang Widhi Wasa dan bukannya menjadi bodoh berpegang pada kata takdir dan nasib. Kuatkan pikiran anda dengan Siwa sadhanam, ketika anda merasakan sembahyang bukan lagi sebuah beban tapi sebagai sebuah panggilan (anda akan merasa ada yang kurang jika anda tidak sembahyang) maka kekuatan DHARMA nyata dihati dan jiwa anda. Hyang Widhi memberkati. Swaha.

0
dexargo
September 17, 2010
125.167.179.23
Votes: +0
salam dari umat sedharma

saya berfikir walau kita tidak begitu tau tentang hindu kita bisa belajar dari internet bagaimana hindu itu sesunguhnya.dan pengalaman saya juga ada tmen saya yang seperti itu akhirnya saya bisa membuat dia kembali kejalan dharma walaupun saya juga tidak begitu mendalami hindu itu sendiri tp saya berusaha untuk menjadi umatnya,dan saya juga pernah membaca artikel seorang yang sudah pernah haji akhirnya kembali kejalan dharma dan menjadi seorang sulinggih didaerah jawa karena panggilan rohaninya.

Write comment
 
 
smaller | bigger
 

busy
Last Updated on Tuesday, 14 September 2010 09:19
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

pura ys
saya salut terbitan MH terakhir mengulas tentang wiraswasta Hindu, sud...
Saturday, 28 April 2012
Luh Desi Puspareni
Om Swastyastu, , , kepada redaksi Media Hindu, saya ingin mengajukan p...
Thursday, 29 March 2012
de locong
saya sebagai generasi muda hindu bali yatim piatu yg baru berumahtangg...
Monday, 13 February 2012

Komentar Artikel Terakhir