Sat 24 Sep 2011 |
|
Rabu Pahing 8 Juni 2011, suasana penuh kedamaian dirasakan oleh umat Hindu Tengger, khususnya masyarakat dusun Kertoanom, Desa Tosari, sebab pada hari itu dilaksanakan Ngenteg Linggih Pura Guna Kerta Jaya. Upacara ini terangkai dalam Upacara Melaspas, Piodalan dan Ngenteg Linggih yang dipuput oleh Romo Pandita Puja Brata Sejati dan Romo Pandita Dukun Asta Brata. Untuk itu, persiapan dilakukan satu minggu sebelum hari pelaksanaan. Masyarakat Hindu setempat menyiapkan sesaji yang dikoordinir oleh pemangku dan ibu-ibu.Sehari sebelumnya, dilaksanakan upacara Melasti atau mengambil air suci ke Goa Widodaren, sebuah sumber mata air, bersebelahan dengan kawah gunung Bromo. Malam harinya dilaksanakan dharma tula yang di sampaikan oleh Romo Pandita Puja Brata Sejati dan Romo Wijoyo dari Sidoarjo. Dharma tula itu dihadiri oleh ketua Parisada kabupaten Pasuruan, pemangku, dan juga umat Hindu setempat. Antusiasme umat terlihat ketika acara dharma tula dimulai, banyak sekali pertanyaan yang muncul yang sampaikan kepada Romo Pandita Puja Brata Sejati dan Romo Wijoyo. Setiap pertanyaan dijawab dengan jelas dan lugas, menjawab semua kegundahan dan keragu-raguan umat akan pemahaman ajaran agama Hindu selama ini. Dalam upacara ini tampak dihaturkan di depan 10 jenis sesaji Jawa khas Tengger, diantaranya: Pras, Pras Among, Pras Semoa, Pras Tebusan, Pras Tanpa Sepura, Pras Gurih dan lainlain. Sesaji ini dipersiapkan oleh umat yang dibantu oleh sepuh dan legen yang mendampingi Romo Pandita Dukun Asta Brata. Sedangkan banten Bali yang disajikan terdiri dari: pejati, daksina gede, prayascita, pabyakala, ajengan pandita, caru dan lain-lain. Banten ini dipersiapkan oleh pemangku Pura yang dibantu oleh umat Hindu asal Bali yang tinggal di Tengger. Upacara ini dilaksanakan sangat sederhana, namun tidak mengurangi makna. Karena hanya dengan biaya Rp. 2,500,000.- (dua juta lima ratus ribu rupiah), yang dikumpulkan melalui punia bhakti umat setempat. Dan sebagian besar umat yang tidak dapat berdana punia secara materi, mereka menghaturkan punia berupa palawija, sayur-mayur dan dan ternak unggas. Upacara berjalan lancar diikuti dengan penuh kesungguhan oleh umat Hindu, aroma kesakralan dan kedamaian terasa sangat kental sejak awal hingga upacara berakhir. Dan tidak sedikit umat yang hadir menitikkan airmata, selama upacara berjalan. Tampaknya biaya yang relatif kecil ini tidak mengurangi kualitas hasil yang diharapkan.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 672 Trackback(0)
Comments (2)
![]()
...
Balinisasi Hindu masih terasa kental, Hindu identik dg Bali itulah yg tersaji, warna budaya India pun terkikis dan nyaris punah dari warna Hindu di Bali, jangan heran bila yg riil terlihat ada adalah tradisi budaya yg bersembunyi dibalik peribadahan dan bukan nilai-nilai Hindu itu sendiri. Bayangkan kalau ada seorang penganut Hindu India yg berkunjung ke satu Pura di Bali dia harus mengganti pakaiannya dulu dg pakaian adat Bali. Bukti nyata keuniversalan Hindu kian menjauh, tidak seperti agama-agama lain.
Canada Goose Parka
|









Rabu Pahing 8 Juni 2011, suasana penuh kedamaian dirasakan oleh umat Hindu Tengger, khususnya masyarakat dusun Kertoanom, Desa Tosari, sebab pada hari itu dilaksanakan Ngenteg Linggih Pura Guna Kerta Jaya. Upacara ini terangkai dalam Upacara Melaspas, Piodalan dan Ngenteg Linggih yang dipuput oleh Romo Pandita Puja Brata Sejati dan Romo Pandita Dukun Asta Brata. Untuk itu, persiapan dilakukan satu minggu sebelum hari pelaksanaan. Masyarakat Hindu setempat menyiapkan sesaji yang dikoordinir oleh pemangku dan ibu-ibu.


