Thu 25 Jun 2009 |
|
KEDATANGAN AMMA SRIMAD SAI RAJA RAJESHWARIOleh : Melati Astisuka Darshan di Golf Club Pada tanggal 20 Desember 2008, Golf Club Mediteranean (Pantai Indah Kapuk) dipenuhi nuansa spiritual. Banyak orang, terutama para bhakta, ingin menyaksikan Amma Srimad Sai Raja Rajeshwari dari dekat. Acara dimulai dengan penjelasan dari seorang bhakta arti dari nama Srimad Sai Raja Rajeshwari, Om adalah nada suci kemudian bermanifestasi sebagai Ibu Jagad Raya dengan sebutan Raja Rajeshwari yang melahirkan Trimurti. Brahma pencipta Wisnu Pemelihara dan Shiva pelebur, beserta Shakti-shakti Nya yaitu Saraswati sebagai Dewi Pengetahuan, Laksmi Dewi Welas Asih, dan Durga Dewi Pelebur. Seluruh jagad raya ini berasal dari Cakra Bindhu yang terletak di dahi ibu Jagad, dan disebut sebagai Paramshakti. Beliau juga bermanifestasi sebagai Parvati yang adalah Putri Dhaksa dan sebagai permaisuri Maha Dewa Shiva yang sekarang menitis sebagai Bhagavan Satya Sai Baba. Kita sebagai bhaktanya termasuk orang-orang yang terberkati, dapat melihat dan merasakan tarian spritualnya yang penuh dengan energi Ketuhanan. Amma memberkati bhakta-bhaktanya dengan tarian mudra, memberikan rangkaian bunga dari rambutnya atau menyentuh kepala bhaktanya dengan penuh kasih sayang. Pada hari ini Ibu Danica (ibu penulis) mendapatkan sentuhan kasih sayangnya itu. Malam ini anak-anak Balvikas sempat menarikan tarian teratai dan Dewi Seribu Tangan (Kwan Im) dengan sangat indah. Puncak acara adalah tarian Radha Khrisna yang dibawakan oleh Jack dan Natasha yang tidak lain adalah putra dan putri dari Teolina dan Sunarto. Tarian tersebut diberkati oleh Amma dan Baba seakan membawa kita ke jaman Dwarapayuga ketika Khrisna dan Radha menari di bulan purnama bersama gopi-gopinya.
Setelah Aarati dan Namaskar kami menikmati prasadam yang salah satunya adalah ”dai puri” (roti crepes ala India yang diisi oleh bermacam bumbu, yogurt dan lain-lain). Ternyata makanan tersebut banyak yang menyukai. Malam Tahun Baru Bersama Amma
Malam ini udara cerah, di perjalanan menuju Muara Karang terlihat kembang api yang dilontarkan ke udara dan tampak sangat indah. Kami tiba sekitar pukul 20.00 WIB. Tidak seperti biasanya, ketika pintu dibuka terlihat Amma sudah duduk di kursi sedang menonton DVD sambil menjelaskan pada bhakta yang sudah datang. Beliau menyambut kedatangan kami dengan senyuman yang manis persis seperti senyuman Bhagawan Baba; di sini kita dapat membuktikan bahwa mereka adalah satu. Kami duduk bersimpuh dekat kaki beliau, jantung terasa berdegup kencang penuh kebahagiaan. Sairam terimakah atas berkatmu…hari ini kau ijinkan kami duduk di kaki padmamu dengan menatapmu penuh kedamaian. Amma menjelaskan, bahwa pada dasarnya semua manusia baik adanya namun karena problem kehidupan, seseorang melakukan tindak kejahatan. Sebagai Ibu Jagad beliau mengasihi semua mahluk, bahkan kita dapat melihat di DVD Amma menangis, melihat narapidana yang dikunjunginya. Di malam yang penuh berkat ini para bhakta melantunkan mantram pemujaan pada Dewi Seribu Tangan, dilanjutkan dengan bhajan Shiva Shambo dan lain-lain.
Anak- anak Balvikas membawakan tarian Mongolia, dan Amma pun bergabung bersama mereka melakukan tarian dewata yang diikuti oleh kami semua. Setelah puncak acara dengan memasang kembang api dan namaskar kepada Amma, kami duduk kembali bersama Amma dan menonton DVD tentang Krihna Temple di Mysore. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Amma menjelaskan cara memandikan patung Krishna dengan bunga, jus buah, susu, dan madu. Amma sendirilah yang melakukannya. Saya sempat bertanya kepadanya, “bila kita mempunyai kamar pemujaan apakah kita wajib menyediakan sesaji setiap hari?” Jawab Amma: ”Bila kita telah melakukan ritual itu dari awal sebaiknya tetaplah dilanjutkan”. Tiba-tiba Ibu Aryani berkomentar, ”Amma, please bring us to Kailasha.” Malam tahun baru yang terindah yang pernah saya rasakan di dalam hidup saya, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Hanya kita bisa merasakan bahwa kita semua adalah satu dengannya (So Ham). Hanya karena karma masa lampau, kita terlempar ke dalam ilusi dan ketika kita kembali dekat dengannya (diri sejati) airmata kebahagianpun tak dapat dibendung. Pertemuan-pertemuan dengan Amma berikutnya
Setelah malam tahun baru kami sempat beberapa kali bersama Amma, selain menyaksikan tarian dewata, mendengarkan darshannya, juga permainan musik tablanya, beliau sempat menyelenggarakan Agni Hotra yang dipimpin oleh Bapak dan Ibu Pedanda Sebali, diperuntukkan bagi anak-anak bayi yang dilahirkan karena diberkati oleh Amma sehingga mereka dapat dianugerahi buah hati. Sore hari setelah Agni Hotra Amma memberikan darshan dengan memandikan bhakta-bhaktanya di Pantai Ancol dalam wujud Dewi Gangga. Kemudian beliau juga sempat menasehati Ibu Aryani dan penulis, ”sembahlah Tuhan dengan penuh cinta dan kasih sayang, tempatkanlah Tuhan di dalam hatimu, dan cintailah dengan tanpa pamrih,” seperti Mira Bay dan Radha mencintai Khrisna. Hanya ketulusan yang akan membawa kita ke dalam kebahagiaan yang sejati. Amma sering memberikan wejangan pada bhakta-bhakta yang mengiringi beliau sebelum kembali pulang untuk beristirahat. Hari-hari terakhir bersama Amma di Jakarta. Malam ini adalah malam terakhir bersama Amma, karena esok hari beliau akan kembali ke Mysore. Mandir terlihat penuh oleh bhakta yang merasakan kesedihan karena harus berpisah dengan Amma. Beliau memberikan darshan khusus dengan tarian tiga Dewi diiringi dengan lagu Jaya Ma yang sangat indah dan menyentuh sanubari. Amma berpesan, ”Anak-anakku yang kukasihi berikanlah kebahagiaan kepada Ayah dan Ibu Jagad Raya (Amma dan Baba). Selama Kamu masih berada di bumi ini, berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya, berikanlah pertolongan bagi yang membutuhkan dan hindarilah semua jenis pertengkaran, tegakkanlah jalan Dharma. Karena cinta kami pada kalian maka kami datang untuk mengajak kalian kembali ke Sanatana Dharma/Jalan kebenaran. Jangan kecewakan kami. Sekarang sedang terjadi krisis global, hadapilah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan berbuat baiklah kepada setiap mahluk. Berusahalah untuk menjadi vegetarian. Karena setiap mahluk berhak untuk hidup dengan tenang. Harus saya katakan juga bahwa bencana-bencana yang terjadi di bumi ini disebabkan oleh kemerosotan moral yang membuat Ibu Jagad harus melebur perbuatan asusila ini dengan bencana di mana-mana. Semoga kalian menjalankan amanatku.” Hari ini kami mendapatkan prasadam yang berbeda dari biasanya. Sebuah amplop yang berisi beras dan koin untuk diletakkan di altar di rumah masing-masing. Lambang welas asih Sang Maha Laksmi. Anak-anak menyanyikan lagu Sai Ma…kami semua berderai airmata karena harus berpisah dengannya.
Sekali lagi Amma menyiramkan beras kuning kepada anak-anak Balvikas sebagai tanda berkatnya. Beliau juga memberikan beras kuning ke tangan penulis. Sai Ram Thank you Amma..I love you Tanggal 11 Januari 2009 jam 18.00 sore kami berkumpul di Bandara Cengkareng untuk mengiringi kepergiannya dari tanah air Indonesia. Turun dari mobil beliau menyapa para bhakta diiringi oleh putrinya Milu, Ibu Theolina, Imelda, dan Jack yang akan mengantarnya. Saya melakukan sujud yang terakhir di kaki padmanya dengan deraian air mata. Beliau memberikan anugrah dan berkata padaku: ”Be Happy.” Hati terasa pilu melihat Amma meninggalkan kami menuju pesawat sambil melambaikan tangannya. Selamat jalan Amma. Engkau pulang ke India dan meninggalkan kami secara fisik, tetapi kau tetap tinggal di hati kami sebagai Maha Guru dan Maha Dewi. Kau adalah Kaliyuga Avatara yang menerangi jalan kami. Semoga kami dapat menjalankan Amanatmu sehingga suatu hari kami akan Moksha bersatu denganmu. Om Jay Sairam.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 772 Trackback(0)
Comments (1)
![]()
Pendapat Amma berbeda dg ajaran Hindu
Amma menjelaskan, bahwa pada dasarnya semua manusia baik adanya. |
| Last Updated on Thursday, 07 October 2010 00:27 |









KEDATANGAN AMMA SRIMAD SAI RAJA RAJESHWARI


