Wed 02 Sep 2009 |
|
![]() Lebih Kreatif dan Inovatif Kapasitas 300 buah kursi yang tersedia di Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Mangu Praja Mandala, tidak mencukupi untuk para peserta Rakernas WHDI termasuk para undangan, sehingga sebagian undangan, terpaksa harus berdiri untuk menghadiri acara Pembukaan, Sabtu 16 Mei 2009. Rakernas WHDI ini diselenggarakan mulai 15 – 18 Mei 2009, bertempat di dua lokasi, Puspem Kabupaten Badung dan Hotel Santhi, Denpasar, didukung juga oleh Kiranti.
Meningkatkan KreativitasRakernas WHDI ini merupakan yang pertama kali, tidak hanya berkutat dengan sidang-sidang dan rapat-rapat. Mereka juga menggelar kegiatan sosial berupa pemeriksaan kesehatan mata, bazaar dan penyerahan bibit rumput laut. Seluruh peserta dan peninjau termasuk panitia berjumlah 196 orang. Tema yang diusung dalam Rakernas ini, “Melalui Rapat Nasional Wanita Hindu Dharma Indonesia meningkatkan kreativitas dan kebersamaan membangun budaya organisasi moderen dalam rangka memenuhi tuntutan global.” Hadir dalam acara ini, Dirjen Bimas Hindu Prof. DR IBG Yudha Triguna, MS, Gubernur Bali, Drs Made Mangku Pastika, Ketua Sabha Walaka Parisada Pusat, sesepuh umat, Sang Nyoman Suwisma, Ketua Majelis Utama Desa Pakraman, Bupati Badung, Wakil Walikota Denpasar, Ketua Kowani, serta pejabat daerah lainnya dan undangan dari FKUB Bali.
“Rakernas bertujuan menyempurnakan AD/ART dan atribut WHDI, melakukan evaluasi kinerja pengurus, membuat program kerja dan menentukan pelaksanaan sebagai pedoman bagi pengurus dan anggota. Rakernas tidak hanya diisi dengan rapat saja, juga kegiatan sosial berupa pemeriksaan kesehatan,” kata Kadek Nuryatiningsih E. Mantik, Ketua Panitia Rakernas. Ketua WHDI Pusat, Ny. Ir. Rataya B. Kentjanawathy Suwisma menyampaikan bahwa WHDI ingin memberi kontribusi lebih banyak lagi bagi pembangunan bangsa dan negara. “Melalui perpaduan keterampilan dan olah pikir yang harmonis guna menghasilkan sebuah agenda kegiatan yang dahsyat. Kami juga ingin WHDI lebih kreatif dan inovatif menyongsong hari esok yang lebih baik,” tegasnyaBarometer Hindu. Bali dipilih sebagai tempat Rakernas, karena Bali merupakan barometer umat Hindu. “Kami mengharapkan banyak masukan dalam Rakernas ini,” kata-nya. Ia menambahkan WHDI merupakan organisasi yang netral dan tidak memiliki afiliasi politik ke parpol manapun. WHDI akan terus melakukan konsolidasi dan pembinaan kepada anggota. Hingga kini sudah ada 18 provinsi kepengurusan WHDI di seluruh Indonesia. Untuk kegiatan eksternal, WHDI telah bergabung dengan Kowani (Kongres Wanita Indonesia), sebuah organisasi kewanitaan Indonesia. Perwakilan Ketua Kowani dalam sambutannya, mengharapkan agar WHDI, sebagai ibu bangsa dapat menyiapkan program-program operasio-nal yang nyata. Ia memuji keberadaan WHDI sebagai anggota Kowani ke 80, yang dalam usianya yang sangat muda telah banyak berkiprah untuk masyarakat bangsa ini. “Rakernas dengan agenda penyampaian evaluasi dan persiapan program kerja baru menjadikan WHDI sebagai organisasi yang professional. Dari tema Rakernas, ada empat kata kunci yang bisa menjadi pedoman WHDI dalam melangkah. Pertama, kreativitas, lalu kebersamaan, organisasi modern dan tuntutan global,” ujar Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. Yang membuat Mangku Pastika kagum adalah keha-diran 35 orang dari WHDI Lampung. Kepada Bupati Badung, ia menyampaikan apresiasinya dengan mengatakan, “Kabupaten Badung memang terbaik dan terkaya. Ini terlihat dari bangunan yang megah sambutan untuk acara Pembukaan Rakernas yang luar biasa. Untuk penari Sekar Jepun saja sampai tiga kali ganti kostum.” Mengakhiri sambutannya, Gubernur membuka secara resmi Rakernas WHDI dengan pemukulan gong.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 825 Trackback(0)
Comments (1)
![]()
Masukan
1. Aktivitas WHDI perlu ditingkatkan lagi melalui ajang pertemuan terstruktur sehingga WHDI tetap mendapatkan aspirasi yang terbaru dan bermanfaat bagi daerah / Kabupaten - Kota, khususnya Bali
|
|||
| Last Updated on Thursday, 07 October 2010 00:37 |












