Fri 07 Oct 2011 |
|
MH 85”Apakah manusia dapat lahir sebagai binatang?” Demikian pertanyaan diajukan kepada saya oleh presenter TVRI, setahun lalu, ketika saya bersama seorang ulama NU dan seorang pendeta Kristen dari PGI menjadi nara sumber mengenai ”Kiamat Tahun 2012.” Seorang teman di paska sarjana filsafat UI, seorang muslim yang taat beribadah, tetapi juga mengikuti yoga dan reiki, mengaku pernah melihat, dalam meditasi, hidupnya sebelumnya. Tetapi ia belum dapat menerima kalau manusia lahir kembali sebagai binatang. Untuk kedua pertanyaan ini saya jawab dengan guyon. Andaikata anda dibakar sepanjang masa di neraka dalam api yang panasnya 100 kali api bumi, kemudian ditawari lahir sebagai sapi selama 40 tahun, lalu mati dan lahir kembali sebagai manusia, mana yang anda pilih? Kalau tawaran semacam itu diberikan kepada Hitler, atau para teroris yang membunuh banyak orang secara membabi buta, saya yakin mereka akan memilih jadi sapi atau bahkan ular sekalipun. Apa yang salah dengan binatang? Mereka hanya mengambil dari alam sesuai kebutuhannya, bukan keinginan atau keserakahannya. Di dunia binatang tidak ada korupsi seperti di Indonesia. Mereka melakukan hubungan seks hanya untuk melahirkan keturunan. Di dunia mereka tidak ada pelacuran. Mereka mengorbankan dirinya untuk gizi dan kesehatan manusia. Juga untuk upacara korban bagi keselamatan manusia, di dalam agama Yahudi, Hindu dan Islam. Tetapi reinkarnasi adalah suatu yang serius. Ia menjadi ajaran pokok dari agama-agama Timur, seperti Hindu, Buddha, Jain dan lain-lainnya. Di luar itu, ada orang-orang atas nama pribadi atau organisasi yang percaya pada reinkarnasi. Survei-survei yang dilakukan di Eropa dan AS menujukkan jumlah cukup besar, sampai seperempat orang di sana percaya pada reinkarnasi. Di AS, sesuai dengan semangat ilmiah mereka, reinkarnasi juga diselidiki secara metode ilmu pengetahuan, melalui wawancara dengan orang yang menyatakan mengingat masa lalunya, khususnya anakanak kecil dan keluarga mereka, verifikasi data lewat dokumen-dokuman, analisis dan kesimpulan. Juga penelitian atas tanda lahir dan cacat bawaan. Hal ini dipelopori oleh Dr Ian Stevenson, ketua Departmen Psikiatri dan Direktur Divisi Studi-Studi Perseptual di Universitas Virginia. Cara lain untuk membuktikan reinkarnasi adalah melalui regresi, di mana orang dalam keadaan terhipnotis diminta untuk melihat dan menceritakan kehidupan sebelumnya. Hal ini dilakukan oleh psikolog atau psikiater dalam praktek terbuka. Reinkarnasi juga menjadi subyek banyak film. Salah satunya yang menggarap topik ini secara serius ke dalam film musikal yang menarik untuk ditonton berjudul ”On A Clear Day You Will See Who You Are” dibintangi oleh Barbara Streisand. Tetapi banyak juga yang menolak reinkarnasi, karena alasan dogma. Misalnya Prof Louis Leahy guru besar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Dalam bukunya ”Misteri Kematian,” dia mengatakan reinkarnasi adalah pemecahan emu. Bila manusia terus lahir kembali, berputar seperti roda, kapan ia akan mencapai pembebasan, kapan ia bertemu Tuhan? Louis Leahy mengeritik metode regresi tetapi tidak bicara apa-apa tentang karya Dr Ian Stevenson, yang telah mengumpulkan lebih dari 3000 kasus reinkarnasi dari seluruh dunia, dan telah dibukukan dalam 4 volume, diterbitkan oleh Universitas Virginia, AS. Bagi Louis Leahy, dan orang-orang yang seiman dengannya, pemecahan yang sejati adalah kebangkitan tubuh. Tetapi banyak orang dari keyakinan formal yang sama tidak percaya kepada kebangkitan tubuh. Misalnya Nation of Islam, organisasi Islam dari orang-orang keturunan Afrika-Amerika, dan the Phitsburg Platform, satu organisasi reformasi Yahudi, mereka percaya kepada kebangkitan jiwa. Dogma kebangkitan tubuh tampak terlalu vulgar dan menghina akal. S. Radhakrishnan, menjawab para pengritik reinkarnasi sbb: ”Kelahiran kembali bukan satu pengulangan kekal yang tidak mengarah ke mana-mana, tetapi suatu gerakan manusia (yang masih bersifat) binatang kepada manusia yang (bersifat) dewata, suatu awal unik kepada satu akhir unik, dari hidup liar di rimba raya kepada suatu masa depan di ”Dunia Jiwa Yang Tak Terlahirkan” (Moksa).” Reinkarnasi bukan dogma, tetapi ajaran yang rasional. Lebih dari itu ia juga merupakan pengalaman bagi banyak orang dan dapat diteliti secara ilimiah. Karena itu daya tariknya sangat tinggi bagi manusia yang telah dewasa secara spiritualitas dan tetap bersandar pada akalnya.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 878 Trackback(0)
Comments (3)
![]()
Tanggapan untuk Kakek Abdullah Ardi
Terimakasih atas komentar kakek, namun sayang penjelasan kakek bukannya membuat masalah reinkarnasi menjadi terang benderang namun malah semakin kabur. Kalau analogi melihat jejak atau bekas telapak kaki ya pakai saja tanah berlumpur kek, jangan malah pake air apalagi pake es, ya dungu namanya .... Kakek mengatakan "dogma dan doktrin itu tak ubahnya seperti debu nak...." terus apakah reinkarnasi itu bukan sebuah dogma kek ?
Reinkarnasi sulit diakui oleh umat yg di tutupi doktrin & dogma
untuk yg mengaku ketut budiana. begini nak ya..... anda ingin mengetahui org2 yang pernah berreinkarnasi. hahahaha saya akan bertanya pada anda tolong tunjukkan bekas kaki anda dia atas air. saya tidak akan menanyakan tanda kaki anda diatas es. anda tahu artinya....??? kalau memang anda pintar pasti tau atau hanya so pintar silahkan pelajar yang nyata2 dulu. otakmu belum sampai sejauh itu nak.... manusia dewasa udah ditutupi oleh hal-hal yg bersifat keduniawian. coba nak... lepaskan sifat2 tsb. anda akan jernih melihatnya. anda masih berada dirumah kaca yang ditutupi debu yang sangat tebal sehingga anda tidak dpt melihat yang diluar. cobalah lap tu debu..... dan anda akan meliat semua disekelilingmu. dogma dan doktrin itu tak ubahnya seperti debu nak....
Reinkarnasi hanya sebatas doktrin yg rapuh
Pengumpulan fakta-fakta tentang pengalaman manusia yg pernah ber-reinkarnasi selama ini hanya sebatas pengakuan alias testimoni belaka, semua itu hanya sebatas survei kemudian ditulis dalam sebuah laporan, namun survei ini tidak mengikuti kaidah-kaidah ilmiah yakni dg kata lain metodologinya masih rapuh. Saya ingin tanya pada anda-anda para pembaca dan juga penulis, ada nggak yg bisa membedakan mana manusia yg sudah pernah ber-reinkarnasi dan mana manusia yg belum pernah ber-reinkarnasi ? Kalau anda dan saya pernah ber-reinkarnasi tentu masing-masing kita akan mampu bercerita bagaimana pengalaman kita pada kehidupan terdahulu misalnya dimana kita lahir, apa pekerjaan dstnya, apa seorang profesor akan mampu menggali hal spt ini ? |









MH 85



