Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1934
PROGRAM MEDIA HINDU

Fri

07

Oct

2011

Sang Yajamana yang Congkak Harus Dipenggal Kepalanya PDF Print E-mail
Written by webmaster   
MH 84

Dahulu, ketika saya masih kecil, persiapan ngaben, bisa memakan waktu empat sampai enam bulan. Tiap-tiap keluarga membuat upacaranya sendiri, lengkap dengan bade dan pewatangannya dalam bentuk lembu, singa atau ikan. Pada hari H kuburan meriah sekali, mirip sebuah pesta, bukan upacara kematian. Puluhan bade dan pewatangan yang megah dan indah, yang disiapkan berbulan-bulan dengan biaya mahal, sebentar lagi lenyap sekejap ditelan kobaran api suci.

Manusia bukan hanya homo economicus, tetapi juga homo sentien, yang selalu terlibat secara sosial, dan homo religiosus. Tindakan keagamaan sering kali dianggap tidak patut dinilai dengan uang.

Tetapi Kala, waktu, merubah segalanya. Sekitar lima belas tahun yang lalu, orang-orang desa saya mulai mengadakan upacara ngaben bersama, melalui banjar. Pada awalnya saya ingin ngabenkan ayah saya di rumah sendiri, bersama keluarga saya yang punya sawe. Ayah saya meninggal sekitar tiga tahun sebelumnya dan dititip di kuburan (mekingsan di pertiwi). Tetapi keluarga besar saya terpecah dalam empat banjar dan mereka harus ikut banjarnya masing-masing.

Tanpa didukung tenaga yang cukup, ngaben sendiri tidak mungkin. Saya akhirnya memutuskan ikut ngaben bersama banjar. Setiap sawe kena iuran sebesar tiga ratus ribu rupiah. Karena saya hidup di rantau, dan karena itu jarang ngayah di desa, sebagai kompensasi, saya menyumbang satu bade bertingkat sembilan, seharga satu juta rupiah, untuk sekitar 30 sawe dalam pengadeg-adeg. Bila ngaben sendiri saya bisa menghabiskan biaya sepuluh kali lipat.

Baru-baru ini paman saya juga diaben bersama di banjar. Kena iuran tiga juta rupiah. Ini sangat ringan dibandingkan dengan ngaben sendiri.

Bila dilihat dari sini, ada arus kepada penyederhanaan upacara. Tetapi seorang teman mengatakan, sebagai keluarga puri, ia belum dapat melaksanakan ngaben secara sederhana. Seorang teman lain, yang baru mengklaim kebangsawanannya, menghabiskan biaya satu milyar rupiah untuk mengabenkan ayahnya.

Dari seluruh batu penjuru dalam perjalanan hidup manusia, kematian adalah yang terpenting bagi orang Bali. Upacara kematian adalah yang paling banyak dan paling besar. Di sana ada pengormatan kepada orang tua, ada kewajiban menjaga wi-
Sang Yajamana yang Congkak Harus Dipenggal Kepalanya bawa keluarga. Meminjam istilah Michel Foucault, filsuf posmodern Perancis, di dalam setiap tindakan manusia, termasuk ngaben, ada relasi kuasa. Di sana ada ambisi sosial, gengsi sosial. Tidak masalah, bila disertai dengan tanggung jawab sosial. Para pandita juga merasa lebih berwibawa bila pernah muput ngaben dengan naga banda.

Yajna artinya pengorbanan tanpa pamerih. Namun di baliknya terdapat kegiatan bisnis, semacam ekonomi kerakyatan! Ngaben, seperti semua upacara lainnya, memerlukan sarana seperti ayam, itik, telur ayam, telur itik, babi, beras, buah-buahan, terutama pisang dan kelapa, daun kelapa, bunga dan juga banten yang sudah jadi. Ini adalah bisnis besar, yang menghidupkan perekonomian rakyat, bila saja peluang ini dapat ditangkap oleh orang Bali sendiri.

Tulisan deskriptif di atas akan tutup dengan renungan filosofis dari Prof Sarvepalli Radhakrishan: Praktek-praktek ritual ditafsirkan kembali. Ritual adalah untuk mempersiapkan pikiran bagi realisasi spiritual, mempertajamnya untuk menembus selubung dari yang terbatas dan untuk mencari kelepasan di dalam identifikasi dengan Realitas Yang Tertinggi.

Jika upacara-upacara dilaksanakan tanpa pengetahuan tentang artinya, mereka bukan hanya sia-sia tetapi berbahaya. Sang yajamana, pelaksana upacara yang congkak mungkin kepalanya harus dipenggal. Semua orang melakukan upacara, tetapi ketika melaksanakan dengan pengetahuan tindakan itu menjadi lebih efektif.

Meditasi atas arti yadnya kadang-kadang menggantikan upacara korban itu. Janaka bertanya kepada Yajnavalkya: ’Andaikan anda tidak punya susu atau beras atau jewawut untuk melaksanakan agnihotra, upacara korban api, dengan apa anda akan melakukannya’? ’Dengan buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang ada’. ’Jika itu juga tidak ada’? ’Dengan air.’ ’Bila tidak ada air’? ’ bila memang tidak ada apapun di sini, ini yang akan dipersembahkan: kebenaran dalam keyakinan’.

Ketika hati secara penuh dibujuk, ada makna kecil tentang upacara korban. Pengorbanan kehidupan menjadi manifestasi alamiah dari jiwa baru. Pengorbanan sadar-diri, dengan beban rasa-benardiri dan harapan akan penghargaan bagi diri sendiri, tidak banyak gunanya. (The Basic Writings, hal 167). Ngakan Putu Putra.
Trackback(0)
Comments (3)Add Comment
0
Putra Genta
May 10, 2012
125.162.129.91
Votes: +0
...

Biaya ngaben 1Miliar...? bagi saya 7keturunan bisa di aben dengan dana tersebut bahkan mungkin lebih....!!!

Ngaben itu hanya untuk orang2 Puri saja, yang tentu kekayaan nya dan penghasilannya juga mencukupi untuk biaya tersebut...

0
Mudajaya
May 07, 2012
180.254.217.39
Votes: +0
Apapun itu, mari ber-upakara sederhana tetapi dalam makna, bisa?

'Polemik' upakara ini sudah lama kita baca, komentari dsb. Sebagian masyarakat bahkan sudah bertindak dgn membentuk komunitas Hindu yg mengklaim menjalankan kesehari2an sbg orang Hindu dg sederhana. Bukankah kata sederhana ini sering kita dengung2kan apabila menghadapi budaya hedonis dan sejenisnya? Maaf, apa yg salah apabila ada masyarakat yg mengehendaki ber-upakara yg efisien dan lebih mendalami makna beragama Hindu? Di Bali hal tsb masih lebih dibungkus dg, maaf, gengsi, tradisi dsb yg sering justru membuat 'blunder' menyikapi perkembangan jaman. Bagi saya, mari beragama dg sederhana dg dalam makna.

Ketut Budiana
Ketut Budiana
January 21, 2012
114.79.63.209
Votes: +0
Status sosial ngaben ...

Kalau ngaben dg dana 1 milyar akan dapat mengangkat status sosial anda dihadapan Tuhan, dan Tuhan berbalik "menghormati" Anda, maka ... lakukanlah !

Write comment
 
 
smaller | bigger
 

busy
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

pura ys
saya salut terbitan MH terakhir mengulas tentang wiraswasta Hindu, sud...
Saturday, 28 April 2012
Luh Desi Puspareni
Om Swastyastu, , , kepada redaksi Media Hindu, saya ingin mengajukan p...
Thursday, 29 March 2012
de locong
saya sebagai generasi muda hindu bali yatim piatu yg baru berumahtangg...
Monday, 13 February 2012

Komentar Artikel Terakhir