Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1933
PROGRAM MEDIA HINDU

Tue

17

Nov

2009

WHDI dan Peradah PDF Print E-mail
Written by Redaksi Media Hindu   

Media Hindu edisi ini menampilkan dua laporan utama, pertama, tentang Rakernas WHDI dan kedua, perayaan 25 tahun Peradah. Dalam usianya yang ke 25 tahun, Peradah telah memantapkan diri sebagai organisasi pemuda Hindu, yang   memperoleh tempat sejajar dengan organisasi pemuda lain, baik yang berafiliasi agama maupun tidak, di tingkat nasional.

Tidak demikian halnya dengan WHDI. Selama ini ada kesan WHDI hanya sekedar silent partner (sekutu diam) dari Parisada.  Tetapi mulai pengurus baru yang dipilih dalam Mahasabha bulan Oktober 2006, WHDI berupaya untuk keluar dari bayang-bayang ini. Berbagai program dilakukan, antara lain membentuk dan mengaktifkan pengurus di tingkat Provinsi, mengadakan pendidikan bagi para pengurus melalui seminar, mengadakan bakti sosial, dan melakukan pemberdayaan umat di bidang ekonomi.

Pada kesempatan ini tidak berlebihan untuk sedikit melakukan refleksi filosofis tentang kedudukan perempuan dalam teks suci Hindu. Pada masyarakat Hindu tradisional, peran perempuan ditekankan pada wilayah domestik: melayani suami, membesarkan anak, melakukan ritual harian rumah tangga.  ”Seorang istri tidak boleh marah atau benci kepada suaminya; harus lembut, ramah, gembira melahirkan anak-anak, mengasihi para Dewa, memberi kebahagiaan, membawa berkah bagi hewan-hewan dan menjadi ratu bagi ipar-iparnya. Istilah jaya (orang yang ikut merasakan perasaan suaminya) jani (ibu anak-anak), dan patni (partner dalam melakukan berbagai upacara yadnya) menjadi ciri peranan perempuan dalam Rg-Veda.”   

Di dalam Weda dan Upanisad kita menemukan para maharsi dan filsuf perempuan, seperti Gargi dan Maitreyi. Di dalam Itihasa kita mengenal perempuan-perempuan perkasa seperti Sita, Kunti , Gandhari dan Drupadi.
Weda memberikan peranan sentral pada perempuan. Tetapi kitab-kitab smerti, seperti Manawa Dharma Sastra, dan Sarassamuccaya yang merupakan tafsir dari Itihasa, di samping memuji juga merendahkan kaum perempuan.   

Tapi ”perempuan pada hakikatnya tidak lemah, tidak ada alasan mereka bergantung pada laki-laki; tidak ada ketentuan abadi bahwa kepemimpinan masyarakat harus selalu di tangan laki-laki. Perempuan dapat membentuk dan mengembangkan diri sendiri, dan karena itu hanya dia yang dapat membantu  mencapai kemajuan hidup manusia.”  Sekarang ini kaum perempuan Hindu sudah bergerak di berbagai bidang kehidupun, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, kebudayaan bahkan pertahanan dan keamanan. Hanya di bidang politik kelihatan kurang menonjol.

Indira Gandhi, perempuan kedua di dunia yang menjadi pemimpin tertinggi pemerintahan, setelah Sirimavo Bandaranaika dari Srilangka, menulis: ”Hal penting mengenai India bukanlah terletak pada jumlah perempuan yang menduduki posisi-posisi penting dalam satu waktu atau lainnya, tetapi bahwa perempuan-perempuan seperti itu telah mampu menghancurkan semua rintangan dan prasangka dan, sekali mereka telah melakukannya, mereka diterima oleh masyarakat umum tanpa dipermasalahkan lagi.”  *

Terlepas dari itu, ada masalah penting yang harus menjadi perhatian WHDI, yaitu pendidikan kaum perempuan. Menurut sensus penduduk tahun  2000, tingkat buta huruf orang Hindu 16,9%. Paling tinggi dari tingkat buta huruf pemeluk agama lain. Dari 16,9 % perempuan  menyumbang 23,2% dan laki-laki 10,4%.  Kita tidak punya data mengenai hal tersebut pada saat ini, karena sensus penduduk berikutnya akan dilaksanakan tahun 2010.  

Kalau boleh kami sarankan, lebih baik WHDI memusatkan perhatiannya di bidang pendidikan. Ini sesuai dengan ”kodrat” perempuan sebagai ibu,  istri atau perempuan mandiri. Seorang perempuan yang terdidik, lebih mudah mendapat pekerjaan, jika ia memilih untuk berkarir, tanpa mengabaikan keluarganya.  Ia akan membantu ekonomi keluarga dan menyumbangkan tenaga kerja profesional untuk produksi nasional.  Dan dengan itu ia mengembangkan potensi pribadinya.

Seorang ibu yang terdidik dengan baik, akan  mampu membesarkan anak-anaknya dalam suasana yang lebih mendukung perkembangan intelek maupun kepribadiannya. Seorang istri yang terdidik akan lebih dihormati oleh suaminya.  

Selamat HUT perak kepada Peradah. Selamat berjuang untuk WHDI.
Ngakan Putu Putra.  

*). Kutipan-kutipan di atas diambil dari  buku ”Perempuan Dalam Agama-Agama Dunia,” Editor Arvind Sharma, penerbit SUKA-Press, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2006,  

Trackback(0)
Comments (0)Add Comment
Write comment
 
 
smaller | bigger
 

busy
Last Updated on Tuesday, 17 November 2009 14:49
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

aZ
Om Swastyastu mungkin lebih bagus kalau di adakan debat dengan antara ...
Tuesday, 10 January 2012
comanx bayu
om swasti astu slm dharma, pada tanggal 29 desember yang akan datang, ...
Sunday, 18 December 2011
Dewa Gd Darmawana
Om Swastyastu Rahajeng,..salam kenal tyang penggemar media hindu,.arti...
Tuesday, 15 November 2011

Komentar Artikel Terakhir