Thu 18 Mar 2010 |
|
Edisi 68Mendiang Ida Pedanda Wayan Sidemen, mendiang I Wayan Diya, dan Romo Puja Brata Jati, diberikan penghargaan “Karma Wasana Nugraha” pada akhir Juli 2008, oleh tiga yayasan di Jakarta. Tugas seorang pedanda atau sulinggih, sebenarnya hanyalah muput karya, menjadi manggala upakara. Tetapi mendiang Pedanda Wayan Sidemen, tidak hanya melakukan itu saja. Kepemimpinan dan kepeloporannya terlihat di banyak bidang. Mendiang, adalah sulinggih pertama yang mau memakai pakaian tentara, dalam rangka tugasnya sebagai rohaniwan, untuk menjaga dan memelihara mental, moral dan keyakinan para prajurit TNI yang beragama Hindu. Dalam rangka tugasnya itu, mendiang memelopori pembangunan banyak pura di NTB, NTT dan Jakarta. Ketika membangun pura Dalem Purnajati, di Tanjung Priok, Jakarta, mendiang ikut bekerja kasar, menggali parit dan membuang lumpur. Mendiang juga yang mengusulkan pembangunan pura Jagatnatha, di Denpasar, pura di mana semua orang Hindu, terlepas dari asal usul desa pakraman, soroh atau sukunya dapat bersembahyang dengan nyaman. Mendiang juga adalah pendiri Parisada Hindu Bali yang kemudian bertransformasi menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia. Mendiang karena tugasnya sebagai pembina rohani Hindu di Angkatan Darat, sering memberikan ceramah. Dan mendiang adalah penceramah yang baik, yang enak didengar, karena mutu dan cara penyampaiannya. Ini adalah fungsi pandita, fungsi intelektual. Pandit, pundit atau pandita, dalam makna aslinya, adalah intelektual Hindu yang menguasai, memelihara dan menyampaikan ajaran Weda, kepada masyarakat banyak. Di India, pandit, pundit, atau pandita itu bukan priest (dalam arti pendeta di Indonesia). Jejak mendiang Pedanda Wayan Sidemen diikuti oleh Romo Puja Brata Jati (nama walakanya Maming), asal Cirebon. Ketika baru masuk Hindu, dan ikut ngayah di Pura Dalem Purnajati, ia melihat seorang dengan rambut dikrucut, seperti rambut eyangnya, ikut kerja bhakti. Setelah bertanya, ia mendapat informasi, orang yang rambutnya dikerucut itu adalah seorang pedanda, seorang pemimpin upacara dalam agama Hindu. Maming bertekad dalam hatinya untuk mengikuti jejak pedanda itu. Maka sejak Maming diwinten sebagai pemangku di pura Segara, satu pura lain di Cilincing, Maming terus melakukan perjalanan ke berbagai kantong umat Hindu, baik di Jawa maupun Sumatra (Lampung). Maming melakukan pembinaan, memberikan pelajaran agama Hindu (fungsi pandita), membangun puluhan pura (fungsi undagi), di samping memimpin upacara keagamaan (fungsi pemangku). Dalam pembinaan umat dan memimpin upacara, Maming ”memurnikan” upacara Hindu, mengganti doa-doa dari agama lain, dengan mantra-mantra Hindu. Mendiang I Wayan Diya melakukan hal sama di bidang seni budaya dan agama. Mediang lahir dalam keluarga petani sederhana yang juga terlibat secara serius dalam kesenian di satu desa di Denpasar. Di Bali, seni tidak terpisahkan dari agama Hindu. Diya sempat mengenyam pendidikan di India. Sepulangnya dari India, Diya, yang adalah pegawai di departemen Pendidikan dan Kebudayaan, aktif mengajar di Institut Kesenian Jakarta, yang dibangun oleh Bang Ali (Gubernur Ali Sadikin), di samping melakukan pementasan di dalam maupun di luar negeri. Diya rajin ngayah mementaskan Topeng Pajegan (Siddha Karya) dalam setiap pujawali di berbagai pura di Jakarta dan sekitarnya, baik diminta maupun tidak. Diya datang dengan rombongan keluarga dengan gamelan yang dimilikinya sendiri. Diya juga ikut mendirikan pasraman dan sekaligus menjadi guru, di lingkungan tempat tinggalnya, di Pondok Karya, Jakarta. Mereka bertiga telah melakukan karya-karya yang melampaui tugasnya (beyond the call of duty). Tetapi secara diam-diam, menghindari sorotan lampu panggung. Penghargaan terhadap mereka bertiga sudah semestinya, sekalipun mungkin agak terlambat untuk mendiang Pedanda Wayan Sidemen dan I Wayan Diya. Semoga semangat pengabdian mereka terus menyala. Ngakan Putu Putra.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 711 Trackback(0)
Comments (0)
![]()
|
|||
| Last Updated on Thursday, 18 March 2010 13:43 |









Edisi 68

