Mon 10 May 2010 |
|
Edisi 70Sekitar 15 tahun lalu saya membaca tentang Mata (Ibu) Amritanandamayi di Reader’s Digest. Majalah ini menyebutnya The Hugging Saint (Orang Suci Pemeluk) yang memberikan penyembuhan dan cinta kasih melalui pelukannya. Lahir dengan nama Sudhamani Idamannel dalam satu keluarga nelayan di dusun kecil Parayakadavu (sekarang dikenal sebagai Amritapuri), Kerala tahun 1953. Sejak usia 9 tahun berhenti sekolah untuk mengurus rumah tangga dan adik-adiknya. Sejak tahun 1981, dia mulai pengajaran spiritual di seluruh dunia. Dia mendirikan satu organisasi berskala dunia, the Mata mritanandamayi Mission Trust, yang terlibat dalam banyak kegiatan spiritual dan karitas. Dia memberi pidato pada berbagai forum dunia, seperti Dewan Keamanan PBB; Peringatan 100 tahun ”Parliament of the World’s Religions” di Chicago tahun 1993; Interfaith Celebrations pada ulang tahun 50 PBB, di New York, 1995; Millennium Peace Summit, Sidang Umum PBB, New York, 2000; Pidato utama (keynote address) pada Global Peace Initiative of Women, sidang tahunan PBB di Geneva, 2002. Dia juga menerima berbagai penghargaan antara lain ”Gandhi-King Award for Non-Violence” dari The World Movement for Non-Violence di kantor pusat PBB, Geneva, 2002; Parliament of World Religions, Barcelona, 2004. Bulan Oktober 2007, Amma diberi penghargaan untuk karya-karya humanitariannya pada film hak-hak azasi manusia, Cinema Verite, di Paris. Aktris Sharon Stone menyerahkan penghargaan itu. Mata Amritanandamayi dikenal oleh media massa dunia sebagai ’the hugging saint’. Dia memberikan pelukan kepada setiap orang yang mendekatinya dan di India dia dikenal memberikan pelukan secara pribadi lebih dari 50,000 orang setiap hari, kadang-kadang duduk lebih dari 20 jam. Di seluruh dunia, Mata Amritanandamayi dikatakan telah memeluk paling sedikit 30 juta orang selama 30 tahun. Media massa, cetak maupun elektronik di India, Amerika dan Inggris memberitakan kegiatannya. Beberapa film telah dibuat mengenai dirinya, antara lain film garapan Louis Theroux “Weird Weekends” yang disiarkan secara berseri di BBC TV. ”Darshan – The Embrace,” satu film mengenai kehidupannya secara resmi dipilih untuk pertunjukkan perdana di Festival Film Cannes tahun 2005. Beliau dikenal sebagai Ibu Semesta. Tetapi kita, masyarakat Hindu di Indonesia barangkali sedikit sekali mendengar tentangnya. Mungkin lebih banyak dari kita yang tahu Ibu Teresa, yang melakukan karya-karya sosial di India, sambil menyebarkan agama Katolik, karena namanya selalu menghiasi halaman surat kabar ketika mendiang masih hidup. Karya-karya sosial Amma sangat luas, meliputi program pembangunan 100,000 rumah untuk orang miskin; rumah-rumah sakit; rumah yatim piatu; perlindungan perempuan; pensiun untuk para janda; pusat-pusat bantuan masyarakat; panti-panti jompo; klinik-klinik mata; pusat-pusat terapi bicara. Banyak dari pusat-pusat Amma di AS menyelenggarakan ’Mother’s Kitchen’, atau ’vegetarian soup-kitchens’, di mana para relawan menyiapkan dan memberikan makanan bagi orang-orang miskin. Ashramnya sendiri mengelola sekitar 100 sekolah, 20 mandir, satu rumah sakit super-spesialis di Kochi, memberikan makanan ribuan orang dari dapur umum, memberikan pensiun setiap tahun untuk lebih dari 15,000 janda, membangun 25,000 rumah per tahun bagi yang tidak punya rumah dan 35 pusat kesejahteraan Amma tersebar di seluruh dunia untuk menyampaikan pesan spiritualnya. Ashramnya juga memberikan satu milyar rupee (23 juta dollar AS) untuk bantuan bagi korban tsunami tahun 2004. Bantuan ini diberikan untuk daerah India selatan dan Sri Lanka. Bulan September 2005, Mata Amritanandamayi menyumbang $1,000,000 untuk dana Badai Katrina Bush-Clinton. Bulan Oktober 2005, ribuan selimut dikirimkan kepada para korban gempa bumi yang masih hidup di Kashmir dan Pakistan. Bagi Amma, demikian beliau disebut, menghapus penderitaan orang lain sama alamiahnya seperti menghapus air matanya sendiri. Kebahagiaan orang lain, adalah kebahagiaannya. Keamanan orang lain, adalah keamanannya. Kedamaian orang lain, adalah kedamaiannya. Ini visi Amma, atas mana hidup Amma dibhaktikan untuk membangkitkan kesadaran akan kemanusiaan. Spiritualitas bukanlah alasan untuk lari dari dunia. Pelayanan membawa kepada Mokhsa, katanya. Ngakan Putu Putra. Ngakan Putu Putra
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 1767 Trackback(0)
Comments (0)
![]()
|
|||
| Last Updated on Monday, 10 May 2010 09:42 |









Edisi 70

