Tue 15 Jun 2010 |
|
Edisi 73Seorang teman memberi tahu saya, bahwa seorang pedharmawacana di satu stasiun tv daerah dengan suara lantang mengatakan bahwa Hindu adalah ”monoteisme murni.” Tidak dijelaskan apa definisi ”monoteisme murni” menurut pedharmawacana itu. Tetapi memang kebanyakan dari kita, juga akan menjawab seperti itu, bila ditanya apa paham ketuhanan Hindu, tanpa mengecek kepada teks-teks pustaka suci kita. Ini sekaligus untuk menolak tuduhan bahwa Hindu adalah politeis. Kita umumnya berpikir monoteisme adalah paham ketuhanan yang terbaik, politeisme adalah buruk, tanpa berpikir lebih jauh, di mana letak kebaikan dan keburukan dari masing-masing paham ketuhanan ini? Dan bahwa di samping dua paham ketuhanan ini ada banyak lagi paham lain. Para filsuf besar sejak jaman klasik sampai modern dewasa ini, seperti Plotinos, Spinoza, S. Radhakrishnan dan mistikus seperti Ramakarishna Paramahamsa, menyatakan puncak tertinggi pemahaman tentang Tuhan adalah panteisme, sedangkan monoteisme adalah paham ketuhanan bagi manusia yang intelektualitas dan spritualistasnya masih pada tahap kanak-kanak. Para filsuf besar seperti Arthur Schopenhauer, David Hume, sejarahwan Arnold Toynbee, sejak lama sudah mengemukakan keburukan bahkan kejahatan besar dari monoteisme. Monoteisme mengajarkan sifat mementingkan diri sendiri, membagi kemanusiaan menjadi dua bagian saling bermusuhan: orang yang diselamatkan versi orang yang dihukum; orang beriman versus kafir, memerintahkan orang beriman untuk memerangi dan membunuh orang kafir. Aparteid agama ini telah melahirkan kekerasan, perang, penghancuran peradaban, penjarahan, perbudakan dan pemerkosaan. Nietzsche, filsuf ateis Jerman, menyatakan Tuhan sudah mati!. Tetapi pernyataannya yang terkenal ini bertentangan dengan pernyataannya yang lain. Dua ajaran pokok Nietzsche, dalam bukunya ”Demikian Sabda Zaratustra” (Thus Spake Zaratustra) adalah ”Kembalinya Segala Sesuatu” atau ”Pengulangan Abadi” dan ”Ubermensch” (Manusia Unggul). Konsep ”kembalinya segala sesuatu” tampaknya diambil Nietzsche dari Schopenhauer yang dipengaruhi oleh konsep Hindu dan Buddha tentang ”reinkarnasi”, dan juga perputaran waktu dalam 4 yuga dari Hindu. Seperti diketahui awal karir Nietzsche sebagai filsuf karena terpengaruh dari buku Schopenhauer ”Die Welt als Wille und Vorstellung,” (Dunia Sebagai Kehendak dan Ide, 1818) yang dibelinya di pasar loak. Nietzsche percaya, sejarah berjalan sebagai siklus-siklus besar, sehingga ’makna hidup’ hanya ada dalam kehidupan itu sendiri. Jika kita sadar bahwa pilihan-pilihan bebas akan tindakan kita akan berulang kembali secara terus-menerus, maka diandaikan bahwa kita harus berhati-hati dalam menentukan pilihan dan bertindak. Karena masa depan kita ditentukan sendiri oleh pilihan-pilihan tindakan kita sekarang. Dengan konsep ini jelas Nietzsche bicara tentang karma dan reinkarnasi. Reinkarnasi mengasumsikan kekekalan jiwa, melampaui keterbatasan badan, sehingga ia selalu dapat kembali ke dalam kehidupan di dunia ini. Hanya yang bersifat fisik atau materi yang dapat mati atau hancur. Tuhan adalah Jiwanya jiwa, atau sumber dari mana jiwa berasal dan kemana jiwa akan kembali. Jika jiwa kekal maka Tuhan lebih kekal lagi. Keduanya bersifat rohani. Yang bersifat rohani tidak mungkin mati. Mungkinkah yang dimaksud Nietzsche sudah mati adalah Tuhan yang dianut oleh agama-agama di Barat, yaitu monoteisme, satu Tuhan yang memiliki bentuk dan sifat seperti manusia, cemburu, pembenci dan pembalas dendam. Tuhan yang telah menimbulkan konflik, peperangan paling kejam, penghancuran peradaban, penindasan terhadap kebebasan manusia, dan terorisme, sampai sekarang ini. Tuhan semacam ini memang harus mati, secara fisik maupun ideologi. Dan ia memang sedang mengalami kematian pelan-pelan, karena sorotan cahaya akal, dan rasa kemanusiaan yang tumbuh dalam hati manusia yang semakin beradab. Secara ekstrim ada yang mengatakan, lebih baik menyembah batu atau sapi dari pada menyembah tuhan monoteisme! Karena batu dan sapi tidak mengajarkan kebencian dan kekerasan, seperti yang diajarkan oleh monoteisme. Terlepas apakah kita setuju atau tidak dengan pendapat-pendapat di atas, kita harus melakukan pengkajian secara metode filsafat atau teologi terhadap paham ketuhanan Hindu sebagaimana termuat dalam Sruti, khususnya Upanisad yang dianggap kesimpulan-kesimpulan akhir Weda. Paham-paham ketuhahan itu bukan sekedar definisi, tetapi membawa implikasi atas sikap dan perilaku pengikutnya.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 1304 Trackback(0)
Comments (0)
![]()
|









Edisi 73

