Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1933
PROGRAM MEDIA HINDU

Fri

18

Jun

2010

Bhagawad Gita Untuk Terorisme PDF Print E-mail
Written by webmaster   
Edisi 75

“Dulmatin Tewas, Matikah Teror?” Demikian judul di halaman depan majalah Tempo edisi 15-21 Maret 2010. Jawabannya: Tidak! Atau mungkin belum.

Menurut beberapa tokoh agama, penyebab terorisme adalah kemiskinan dan ketidak adilan. Kedua penyakit masyarakat ini sudah ada sejak jaman purba, sampai sekarang, dan mungkin sekali sampai ke masa depan tanpa batas. Dan mereka menimpa semua golongan masyarakat berdasarkan, ras, suku dan agama. Sekarang ini bahkan di negaranegara yang sudah sangat maju dan makmur, seperti AS dan Jepang, masih terdapat banyak orang miskin, mungkin karena hambatan fisik, sakit, atau karena malas.

Ketidak adilan juga demikian. Lebih-lebih lagi konsepsi mengenai apa yang adil dan tidak, berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dari satu jaman ke jaman lain, dari satu keyakinan kepada keyakinan lain. Misalnya, membunuh orang yang berkeyakinan lain, dianggap adil oleh suatu keyakinan, tetapi dianggap sangat tidak adil oleh keyakinan lain.

Jadi terorisme akan terus ada, karena penyebabnya, yaitu kemiskinan dan ketidak adilan telah, sedang dan akan ada sepanjang jaman. Betapa pesimis, suram dan menakutkannya pandangan ini.

Namun Jenderal (purn) Amir Makhmud Hedropriyono, kepala BIN pada jaman pemerintahan Presiden Megawati Sukarno Putri, dalam disertasi untuk doktor filsafat yang dipertahankannya di UGM, (dibukukan dengan judul: Terorisme, Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, Kompas, Oktober 2009) dengan terang benderang menyatakan, terorisme disebabkan oleh ideologi yang bersumber dari agama: yaitu paham Wahabi. Apakah Wahabi? Wahabi (dalam bahasa Arab : Al- Wahhābīyya ) atau Wahhabisme adalah satu aliran dalam agama Islam yang diasalkan kepada Muhammad Ibn Abd-al-Wahhab, seorang sarjana Islam abad 18 dari Saudi Arabia, yang mendorong untuk membersihkan Islam dari apa yang dia anggap bidah (inovasi) dalam Islam. Aliran ini sering dianggap sebagai satu aliran di dalam Sunni Islam, sekalipun hal ini sering diperdebatkan. Mereka hendak mengembalikan Islam seperti pada jaman Salafi, yaitu tiga generasi Islam pertama sejak Muhammad. (Wikipedia). Jadi Wahabi adalah pemurnian, bukan bidah atau penyimpangan ajaran Islam! Ia adalah paham keagamaan yang dianut secara resmi oleh Kerajaan Arab Saudi.

Sidney Jones, penasehat senior untuk Program Asia, International Crisis Group, dalam opininya di majalah Tempo yang sama menyatakan masih banyak pesantren yang potensial menghasilkan teroris pada tahun 2020. Pada penutup tulisannya, Jones mengatakan, mencegah rekrutmen merupakan upaya yang lebih baik dari pada menerbitkan buku-buku yang mengandung interpretasi ganda tentang jihad, dan lebih baik ketimbang menyelenggarakan dialog antar agama. Upaya itu antara lain menawarkan pilihan hidup yang berbeda dari pilihan karier bagi siswa sekolah-sekolah radikal itu.

Jones, seperti Hendropriyono, menunjuk langsung sumber terorisme.

Tentu saja kemiskinan dan ketidak adilan harus terus diupayakan untuk dihilangkan. Tetapi yang paling penting sumber utamanya harus diungkapkan agar dapat ditangani secara tepat. Ini memang tidak mudah, karena menyangkut substansi ajaran suatu agama

Sebagai warga negara, masyarakat Hindu di Indonesia, apalagi yang tinggal di Bali, yang telah dua kali jadi korban terorisme, terpanggil juga untuk berpartisipasi di dalam memecahkan masalah bangsa yang serius ini.

Dengan dasar itu, kami mengangkat masalah terorisme dalam edisi ini sebagai bahasan utama. Artikel utamanya adalah tulisan Rajiv Malhotra, seorang intelektual Hindu yang bermukim di Amerika Serikat. Ia menawarkan ajaran-ajaran Gita untuk menangkal terorisme. Pandangannya berpijak pada keadaan di negara-negara Islam. Ada sedikit perbedaan nuansa dengan keadaan kita di Indonesia, karena Rajiv tampaknya kurang akrab dengan Indonesia dan karena Indonesia bukanlah negara Islam.

Pada akhirnya perlu kami tegaskan, tulisan itu tidak bermaksud menggurui atau mengajari, tetapi sekedar menyumbang sudut pandang, yang sekiranya dapat dijadikan bahan pertimbangan.

Ngakan Putu Putra.
Trackback(0)
Comments (0)Add Comment
Write comment
 
 
smaller | bigger
 

busy
Last Updated on Friday, 18 June 2010 17:15
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

aZ
Om Swastyastu mungkin lebih bagus kalau di adakan debat dengan antara ...
Tuesday, 10 January 2012
comanx bayu
om swasti astu slm dharma, pada tanggal 29 desember yang akan datang, ...
Sunday, 18 December 2011
Dewa Gd Darmawana
Om Swastyastu Rahajeng,..salam kenal tyang penggemar media hindu,.arti...
Tuesday, 15 November 2011

Komentar Artikel Terakhir