Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1933
PROGRAM MEDIA HINDU

Sun

25

Jul

2010

Hindu Karo Harus Bangkit PDF Print E-mail
Written by webmaster   
Edisi 77

Pergulatan masyarakat Hindu Karo untuk mempertahankan eksistensinya berlangsung dalam suasana sunyi. Barangkali di luar Sumatra Utara, tidak ada yang tahu, bahwa di Tanah Karo ada komunitas Hindu, yang sudah hidup di sana sejak awal masehi. Mereka mengalami masa jaya, pernah berkuasa di sana membangun peradabannya. Tetapi kemudian mendapat gempuran dari para penyebar agama, dari Aceh yang membawa Islam, dan Belanda yang membawa Kristen.

Mereka diserang secara fisik dan ideologi. Agama mereka, yang semula bernama Perbegu dihina dan direndahkan. Pemerintah pun ikut memarjinalkan mereka dengan menurunkan derajat agama mereka menjadi aliran kepercayaan. Dengan status ini, mereka tidak saja dianggap tidak beragama, tetapi oleh karena itu bebas untuk dijadikan sasaran konversi. Tak heran sebagian besar dari mereka lalu beralih agama.

Dengan gempuran dari para missionaris dan juru dakwah, dan diskriminasi dari pemerintah, sebagian dari mereka tetap bertahan. Untuk mendapat perlindungan formal pada tahun 1977 mereka menyatakan diri masuk Hindu. Tetapi masalah yang mereka hadapi tidak berhenti.

Di sekolah anak-anak mereka tidak mendapat pendidikan agama Hindu. Mereka harus mengikuti pendidikan agama lain, karena kalau tidak, rapor mereka akan kosong untuk nilai agama. Akibatnya mereka tidak naik kelas.

Kita sudah tahu apa akibat dari taktik ini. Anak-anak muda itu akan menyerap dan menghayati ajaran agama lain, dan memandang rendah agama leluhurnya. Kita tentu saja tidak dapat mengharapkan belas kasihan para guru-guru agama non Hindu untuk mengajarkan agama Hindu secara benar. Tugas mereka memang untuk mengajarkan dan menyebarkan agamanya sendiri. Untuk itulah mereka digaji.

Masyarakat Hindu Karo seperti dibiarkan berjuang sendiri. Mereka seperti minoritas dalam minoritas Hindu. Bila umat Hindu dari etnis Bali, Jawa, Kaharingan, dan India telah memiliki lembaga keagamaan serta pendidikan tinggi agama Hindu dan organisasi sosial kemasyarakatan sendiri, masyarakat Hindu Karo, masih jauh dari itu.

Pembinaan atas mereka kembang kempis. Parisada provinsi Sumatra Utara yang pada jaman Shri Ramlu cukup aktif membina mereka, dalam kepemimpinan yang sekarang ini tidak melakukan apa-apa. Umat Hindu Karo Harus Bangkit Hindu di Medan saja, terutama yang dari etnis Tamil tidak terurus. Lantas untuk apa mereka masih duduk di lembaga ini? Apa motivasinya?

Masih untung ada pembimas Hindu, seorang perempuan, tetapi gesit, dan karena itu pembinaannya sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Hindu di Sumatra Utara, termasuk mereka yang ada di Tanah Karo. Mereka meminta agar Ibu pembimas ini tidak dipindah-tugaskan ke tempat lain. Tetapi tentu saja seorang pembimas tidak akan mampu mengatasi semua masalah masyarakat Hindu di Sumatra Utara.

Bulan Maret lalu Media Hindu mengunjungi komunitas Hindu di Tanah Karo. Ini sebagai realisasi keperdulian dan keprihatinan kami terhadap komunitaskomunitas Hindu yang ada di tempat-tempat ”terpencil” tidak hanya dalam arti geografis, tetapi terutama dalam arti perhatian dan keperdulian dari masyarakat Hindu secara keseluruhan.

Dalam dialog dengan mereka, kelihatan betapa mereka tetap teguh dengan keyakinan leluhurnya. Mereka ingin bangkit, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Tentu yang lebih mengkhawatirkan adalah pembinaan generasi muda mereka. Jangan sampai terjadi seperti di satu desa di Jawa Tengah. Yang masih datang ke Pura adalah orang-orang tua dan anak-anak yang belum bersekolah. Ke mana anak-anak yang sudah bersekolah? Simbol-simbol keagamaan yang terdapat di rumah wasi atau pinandita setempat memberi jawaban.

Di atas pintu masuk salah satu kamar terdapat kaligrafi huruf Arab. Di atas pintu kamar yang lain, salib. Kamar yang pertama adalah tempat tidur putra wasi yang masuk sekolah negeri. Kamar yang lain adalah tempat tidur anak yang masuk sekolah Kristen. Romo wasi tentu saja tidak memasang simbol Omkara di atas pintu kamarnya. Karena sebagai orang tua ia tidak merasa pantas ikut-ikutan tren anak muda. Lagi pula bila dia meninggal dunia siapa yang akan memperdulikan simbol suci itu? Ironis dan tragis!

Kewajiban kami hanya menyampaikan informasi. Seharusnya lembaga-lembaga Hindu, terutama Parisada, memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini. Pembinaan umat tidak dapat ditangani secara sporadis, oleh orang per orang. Harus terorganisasi, tersistem, dan berkesinambungan. Marilah berharap semoga ada tindak lanjutnya.

Ngakan Putu Putra.
Trackback(0)
Comments (3)Add Comment
0
Agus Jaya
February 04, 2012
203.78.123.187
Votes: +0
Hindu ada dimana-mana

Banyuwangi, Tengger, Jogjakarta, Sunda, Kaharingan, Bali, Taro..
Biarkan mereka berkembang sesuai budayanya masing-masing..
Harus ada wadah untuk menghidupkannya..
Yang jelas bukan parisadha, karena otak parisada masih dalam tempurung kelapa..

0
Think Mudita
July 01, 2011
119.110.81.214
Votes: +0
So, Hindu is not all about Bali, its about Indonesia, about the world

This does not happen only in North Sumatera, it happens everywhere> Ironically, we talk about Ajeg Bali. We tend to "balinisize" Hindu. But look also in Kuta, on Sunset Road, is Hindu still exist there? Greeting with Om Swastyastu is only one thing, there are much much more.

Namaste

0
I Dewa Ketut Artawan
October 05, 2010
202.70.54.250
Votes: +0
saatnya untuk bangkit dan berkembang

Umat hindu harus banyak yang jadi wirausaha, jadi pengusaha, sekecil apapun itu, akan sangat berguna bagi umat sedharma. Mari dari sekarang kita semua berusaha dan terus berjuang menjadi wirausaha. dengan cara ini kita bisa keluar dari terisolasi pendidikan, pekerjaan, wawasan. Saatnya harus bangkit. Saya ingat apa yang dikatakan seorang pakar marketing : untuk maju awalnya harus ATM yaitu Amati, Tiru, Modifikasi.
Mari kita semua bergaul dengan mereka penganut ajaran non Dharma, amati cara mereka, tiru, dan gunakan untuk menyebarkan Dharma ke mereka. Sudah saatnya kita tidak malu malu mengkotbahi mereka, jangan hanya jadi sasaran kotbah mereka. Dengarkan mereka berkotbah, anda akan segera tahu kelemahan mereka, itulah saatnya anda menyerang balik. saatnya kita harus bangkit. Hyang Widhi Memberkati.Swaha

Write comment
 
 
smaller | bigger
 

busy
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

aZ
Om Swastyastu mungkin lebih bagus kalau di adakan debat dengan antara ...
Tuesday, 10 January 2012
comanx bayu
om swasti astu slm dharma, pada tanggal 29 desember yang akan datang, ...
Sunday, 18 December 2011
Dewa Gd Darmawana
Om Swastyastu Rahajeng,..salam kenal tyang penggemar media hindu,.arti...
Tuesday, 15 November 2011

Komentar Artikel Terakhir