Wed 15 Sep 2010 |
|
Edisi 78Mabes TNI, meminta saya memberi ceramah tentang ”Kebangkitan Nasional dan Hindu”, pada tanggal 17 Juni 2010, di Cilangkap. Ketika menyiapkan bahan untuk ceramah ini, saya menemukan banyak hal menarik yang tidak saya ketahui sebelumnya. Saya berpikir, ada baiknya hal itu saya sampaikan kepada pembaca Media Hindu, yang mungkin sama seperti saya, banyak yang tidak mengetahui informasi sejarah yang akan menjadi inspirasi tentang arti pengorbanan dan kepahlawanan. Kebangkitan nasional ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda. Boedi Oetomo didirikan oleh Dokter Sutomo (nama aslinya Subroto). Ketika belajar di STOVIA (Sekolah Dokter), ia bersama rekan-rekannya, atas saran dr. Wahidin Sudirohusodo mendirikan Budi Utomo, organisasi modem pertama di Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1908, yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Teman pendiri BU adalah para pemuda pelajar STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen), Gunawan, Suraji, Suwardi Surjaningrat, Saleh, Gumbreg. Kemudian kongres peresmian dan pengesahan anggaran dasar Budi Utomo diadakan di Yogyakarta 5 Oktober 1908. Pengurus pertama terdiri dari: Tirtokusumo (bupati Karanganyar) sebagai ketua; Wahidin Sudirohusodo (dokter Jawa), wakil ketua; Dwijosewoyo dan Sosrosugondo (kedua-duanya guru Kweekschool), penulis; Gondoatmodjo (opsir Legiun Pakualaman), bendahara; Suryodiputro (jaksa kepala Bondowoso), Gondosubroto (jaksa kepala Surakarta), dan Tjipto Mangunkusumo (dokter di Demak) sebagai komisaris. Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai ”Hari Sumpah Pemuda”. Tokoh-tokoh Sumpah Pemuda Moehammad Yamin (penulis naskah SP), Mr. Sunario, Soegondo. Pesertanya: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi. Di dalam kedua peristiwa penting ini orang Hindu/ Bali tidak hadir. Memang ada tuduhan dari Tan Malaka, bahwa Boedi Utomo didirikan oleh orang-orang Kejawen yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Bagawad Gita. Kalau pun itu benar, Hindu hanya hadir secara tersirat. Lalu di manakah sumbangan Hindu dalam kebangkitan nasional? Apakah orang Hindu/Bali hanya sekedar penumpang gratis (free riders) yang menikmati kemerdekaan Indonesia, tanpa pengorbanan yang berarti, kecuali Puputan Margarana? Ini tentu saja tidak benar. Jauh sebelum itu Bali telah melakukan perlawanan terhadap Belanda dalam perang sebanyak delapan kali, yaitu. Perang Buleleng (1846); Perang Jagaraga I (1848); Perang Jagaraga II (1849); Perang Kusamba (1849); Perang Banjar (1868); Puputan Badung (1906); Puputan Klungkung (1908) dan perjuangan dalam perang kemerdekaan yang berpuncak pada perang pututan Margarana pada tanggal 20 Nopember 1946. Menarik untuk dicatat, ketika Dokter Sutomo dkk mendirikan Boedi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, Bali baru saja jatuh sebulan sebelumnya ke tangan Belanda. Salah seorang tokoh besar dari perlawanan itu adalah I Gusti Ketut Djelantik, Patih Kerajaan Buleleng pada waktu itu. Dalam perang Jagaraga I, pasukan yang dipimpinnya berhasil mengalahkan Belanda, membuat pasukan Belanda yang bersenjata modern, di bawah pimpinan Major General Jongkheer. C. Van der Wijck, menelan kekalahan pahit dan memalukan. 294 serdadunya terbunuh termasuk 14 perwira. Pasukan Belanda lari kocarkacir ke kapalnya di pantai Seririt, untuk kemudian esok harinya ngacir ke Jawa. Kekalahan ini menggemparkan Batavia dan negeri Belanda sendiri. Mereka mengakui I Gusti Ketut Djelantik sebagai genius militer, pahlawan besar modern dari Bali, seorang patriot sejati. Tetapi pahlawan besar ini dilupakan oleh orang Bali sendiri. Perlakuan orang Bali terhadap I Gusti Ketut Djelantik sangat berbeda dengan penghormatan yang diberikan kepada I Gusti Ngurah Rai. Bila nama Ngurah Rai diabadikan sebagai nama bandara internasional, jalan raya, dan gedung olah raga, dan hari gugurnya diperingati setiap tahun, tidak ada penghormatan demikian untuk I Gusti Ketut Djelantik. Bangsa yang besar menghormati pahlawannya. Bangsa yang kerdil melupakannya. Ngakan Putu Putra
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 1364 Trackback(0)
Comments (1)
![]() |
| Last Updated on Wednesday, 15 September 2010 08:50 |









Edisi 78



