Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Nyepi tahun baru Saka 1934
PROGRAM MEDIA HINDU

Sun

10

Oct

2010

Tengger: Berdiri kokoh di atas sifat mulia PDF Print E-mail
Written by webmaster   
Edisi 80

Kata “Tengger” dikatakan merupakan singkatan dari nama dua tokoh legendaris, Rara Anteng dan Jaka Seger. Selama kekacauan di Majapahit, yang disebabkan oleh serangan Sultan Demak, Putri Rara Anteng berlindung di sekitar Gunung Bromo. Ketika dia sedang dievakuasi, Rara Anteng bertemu Jaka Seger, putra seorang pendeta dari kerajaan Kediri, yang juga dalam keadaan huru-hara. Pertemuan mereka memulai satu kisah cinta, dan daerah itu kemudian diberi nama Tengger.

Versi lain tentang asal-usul nama ”Tengger” merujuk kepada bahasa Jawa kuno, di mana tengger berarti ”berdiri kokoh”. Satu peribahasa dalam filosofi Jawa berbunyi: tenggering budhi luhur, atau ”berdiri kokoh di atas sifat mulia”.

Satu prasasti Tengger dipercaya berasal dari tahun 851 Caka (929 A.D.) mengindikasikan hulun, seorang bhakta Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Mahakuasa), orang-orang dengan karakter mulia, hidup di pegunungan Tengger. Satu prasasti lain bertanggal 1405 C.E. di desa Wonokiti, Pananjakan, menyebut Walandit, satu dusun yang dihuni oleh hulun dibebaskan dari pajak karena kesucian spiritual mereka.

Kecemerlangan Gunung Bromo digambarkan oleh pujangga Jawa Empu Prapanca beberapa abad yang lalu dalam Sloka 34 dari bukunya yang terkenal Negarakertagama, yang ditulis pada bulan Badrapada 1281 Caka - atau Agustus-September 1359 A.D. Catatan itu berkisah tentang kesedihan Raja Hayam Wuruk ketika meninggalkan gunung yang mempesona, yang ia telah kunjungi dalam perjalanannya kepada bagian timur Lumajang.

Dalam 1973, Parisada Jawa Timur menentukan bahwa masyarakat Tengger menganut agama Buddha. Namun pada tahun yang sama para tetua Tengger bertemu di Ngadisari dan akhirnya mendeklarasikan Hindu Dharma sebagai agama resmi mereka. (The Jakarta Post, 05/28/2006).

Baris terakhir ini terdengar aneh. Parisada mengatakan masyarakat Tengger beragama Buddha, tetapi orang Tengger sendiri menyatakan diri Hindu. Hal yang sama pada waktu yang sama juga terjadi di Lombok dan Cigugur, Kuningan Jawa Barat. Ketika orang-orang Sasak, khususnya yang menganut Wetu Telu ingin masuk Hindu, para petinggi Parisada di sana justru menolak mereka. Kenapa? Apa ”soroh” mereka nanti? Demikian juga permintaan orang Cigugur agar dibina masuk Hindu, tetapi pejabat tinggi di Bimas Hindu dan Buddha di Jakarta menolak mereka; karena takut nanti dituduh mengagamakan orang yang sudah beragama. Akhirnya seorang pastor dari Bandung, menempuh perjalanan jauh dengan naik vespa, pulang pergi Bandung-Cigugur, mengajari mereka bertani dan akhirnya sebagian besar mereka masuk Katolik.

Kehidupan beragama sangat rukun. Orang Tengger yang sudah beralih agama, masih ikut melaksanakan upacara Kesodo, tetapi upacara Karo hanya diikuti oleh orang Tengger yang beragama Hindu. Sebaliknya pada saat Idul Fitri umat Hindu berkunjung ke orang-orang Muslim. Sekalipun demikian, orang-orang Tengger yang beragama Hindu tetap ingin mempertahankan agama Hindu. Setiap Sabtu anak-anak SD diberikan pelajaran agama Hindu di sekolah; yang laki-laki memakai udeng ala Bali, yang perempuan mengenakan anteng di pinggang.

Sekarang ini ada lima puluh orang dukun Tengger tersebar di empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Empat puluh delapan dukun telah membuat kesepakatan tertulis hanya untuk melayani warga Tengger yang beragama Hindu, karena adat atau agama Tengger adalah Hindu. Juga karena khawatir dianggap mengagamakan orang yang sudah beragama, karena mantra-mantra yang dipakai dalam upacara adalah mantra-mantra Hindu. Tetapi ada dua orang dukun di Malang dan Pasuruan berpendapat adat Tengger bukan adat Hindu, sehingga mereka tetap melayani upacara adat untuk warga Tengger yang non-Hindu.

Kita lihat betapa hati-hatinya mereka agar tidak sampai dianggap mengganggu keyakinan orang lain. Kepada orang Tengger yang masih mau mengikuti upacara adat Tengger saja mereka tidak mau memanfaatkannya untuk membujuk mereka kembali masuk Hindu. Mungkin itu termasuk dalam ”tenggering budhi luhur,” atau ”berdiri kokoh di atas sifat mulia.”

Andaikata semua pihak ”berdiri kokoh di atas sifat mulia” mungkin negara ini akan aman dan sejahtera, bebas korupsi, bebas kekerasan, bebas kriminalitas seperti yang terjadi di masyarakat Tengger. Sehingga sebagian polisi, jaksa, pengacara dan hakim bisa dialihkan untuk melakukan kerja produktif.

Trackback(0)

TrackBack URI for this entry

Comments (3)

Subscribe to this comment's feed
...
Ketut Budiana
Tengger tak ubahnya "peninggalan masa lalu" yg kebetulan lestari hingga saat ini sebagaimana Borobudur dulunya dipakai sebagai sarana ibadah penganut Buddha, namun setelah sekian ratus tahun berselang kini menjadi sarana rekreasi budaya yg dikunjungi para turis... Demikian pula dg Tengger ada yg tetap beragama Hindu, namun banyak juga yg sudah muslim, apakah mereka yg kini beragama Hindu akan tetap Hindu ... waktulah yg akan menjawabnya.
Ketut Budiana , February 25, 2012
vedasastra.
0
Seharusnya kalau ada orang atau kelompok masyarakat mau bergabung minta diayomi dan dibina, janganlah merasa takut bukankah memang tugasnya parisada demikian,jadilah pengurus hindu yang militan demi tegaknya dharma itu sendiri.
rian , February 26, 2011
kenapa dirjen bimas takut???????? takut jabatan dicopot???? hindu adalah agama "buda" yang dimaksud budhi luhur. org jawa dahulu tidak pernah menyebut diri hindu tetapi agama buda, sesuai dengan tuntu
0
sebaiknya BImas tidak takut, kenapa takut??? takut jabatan di copot???? orang jawa dulu tidak pernah mengatakan dirinya beragama hindu, mereka mengaku agama buda (bukan Budha) melainkan agama yg bersumber dr budi yang hening, kenpa Bimas takut mengembalikan mereka kembali ke agama budi. islam wtu telu, suku sunda di bogor atau tengger mereka berasal dari keturunan dinasti Buda (siwa Budha) mari ajak mereka jgn tinggalkan mereka yang haus akan kembalinya sasaning budi, agama yg berasal dr budi pekerti dan sifat dharama
ida bagus surya , October 18, 2010

Write comment

smaller | bigger

busy
 
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Paling Banyak Dibaca

Buku Tamu Terbaru

W. Imanto
bgm bisa pesan online bila pas checkout...kolom state/province yg waji...
Wednesday, 26 September 2012
Guest
Om Swastyastu, Mohon info Media Hindu menerima cetak buku selain buku-...
Wednesday, 19 September 2012
Redaksi Media Hindu
kepada Yth bpk Wayan Karyono, untuk naskah buku Bhaawad Gita silahkan ...
Monday, 17 September 2012

Komentar Artikel Terakhir