Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Galungan dan Kuningan. Semoga Dharma selalu menyertai kita semua.

Keranjang Belanja

VirtueMart
Keranjang Belanja Anda Kosong.

Majalah Terbaru

Media Hindu Edisi 77
Media Hindu Edisi 77
Rp 15.000,00
Media Hindu Edisi 76
Media Hindu Edisi 76
Rp 15.000,00

Buku Terbaru

Petunjuk Untuk Yang Ragu
Petunjuk Untuk Yang Ragu
Rp 30.000,00
Upanisad Himalaya Jiwa
Upanisad Himalaya Jiwa
Rp 30.000,00

Thu

25

Jun

2009

Arjuna, Perempuan dan Pragmatisme PDF Print E-mail
Written by webmaster   

Arjuna, Perempuan dan Pragmatisme
Oleh : Nyoman Sukaya Sukawati

Pragmatisme. Orang mulai dekat dengannya sejak pertengahan abad 19, ketika William James juga John Dewey melambungkannya melalui simpul-pendapat filosofis. Tradisi pragmatisme memang belum terlalu tua. Tetapi di Timur, jauh sebelumnya, budaya yang satu ini telah dititipkan melalui Arjuna, tokoh penuh aksi dari dunia pewayangan.

Satu carang cerita ini kita mulai. Saat itu udara terasa mamung. Di bagian yang agak sepi Bhatara Narada tergopoh menemui Arjuna. Rupanya, hari itu ada kabar buruk menghampiri ksatria Pandawa ini.

“Cucuku, Putra Kunti, dengarlah,” utusan itu mendekat ke telinga Arjuna, “Niwatekwaca, raja raksasa itu, kian jauh terjerumus oleh kesaktiannya sendiri. Di tangannya kehancuran dunia menunggu. Bahkan saat ini ia tengah mengarahkan invasinya ke Indraloka, kerajaan dewata.”

Mendengar itu orang-orang tercenung. Arjuna kaget setengah mati dan menyela, “Maaf, apa yang hamba bisa haturkan, Paduka Guru?”  tanyanya parau dalam nada bergetar.

“Cucuku, sudahilah keangkaramurkaan tak terampuni itu…” pesannya.

Arjuna bergegas. Ia mendekati gerbang Kerajaan Niwatekwaca. Bangunan itu tampak kukuh dan menjulang dari kejauhan, lambang megahnya kekuasaan Sang Raja. Arjuna termenung. Rupanya ia sedang menimbang-nimbang pikiran. Sesaat ia melonjak, seperti menemukan sesuatu, mungkin taktik, “Inilah waktunya,” pikirnya, “aku memerlukan campur tangan perempuan.”

Lantas ia minta dikirimi seorang bidadari, Dewi Supraba. Perempuan berparas ayu ini kemudian disusupkan mendekati Raja Niwatekwaca. Supraba berbicara dengan senyum dan mata menggoda, hingga raja segera jatuh cinta dan bernafsu memperistrinya. Sebelum setuju diperistri, Supraba mendesak Niwatekwaca menceritakan kesaktian sekaligus kelemahannya.

Perempuan memang kadang mudah membuat laki-laki ceroboh. Tanpa sadar raksasa ini menjelaskan secara detil rahasia kehebatannya.  

“Kelemahan Niwatekwaca ada di pangkal lidahnya,” bisik Supraba kepada Arjuna yang telah menunggu di balik tembok istana.

Bila sebuah rahasia terbongkar di tangan yang salah akibatnya satu: fatal. Hanya lewat sebuah kesempatan, Arjuna membidikkan panahnya ke arah Niwatekwaca. Selanjutnya, mudah diduga, raksasa tangguh ini tersedak, muntah darah, tumbang berkalang tanah dengan sebilah Pasupati menerobos rongga mulutnya dan tertanam persis di pangkal lidahnya.

Dengan strategi demikian tampak licikkah Arjuna? Entah. Yang pasti sebuah misi telah diselesaikannya. Kewajiban ksatria adalah menjalankan tugas yang diletakkan di pundaknya. Apapun caranya, yang penting efektif. Dan toh setiap manusia, setiap zaman, memiliki ukuran nilainya sendiri soal ini. Barangkali ia semacam norma yang longgar, yang menghindar dari banyak keruwetan. Namun justru itu pragmatisme populer.

Pragmatisme datang karena intelektualisme dan logika formal tak dipercaya. Orang  lebih menyukai manfaat praktis. Tak peduli apakah ia berasal dari pengalaman pribadi atau kebenaran mistis, yang penting bermanfaat. Kebenaran bisa datang dari segala sudut, dan juga berubah setiap saat, karena kita ini hidup di dunia yang belum selesai.

Kisah yang mirip, dimiliki para pembaca Injil. Samson, lelaki tangguh tak terkalahkan itu, juga akhirnya bertekuk lutut akibat perempuan. Delilah yang dikasihinya ternyata sewaan orang-orang Filistin, yang sebelumnya dikalahkan Samson saat mereka menyerang bangsa Ibrani.  Perempuan ini berhasil membujuk Samson menceritakan rahasia kekuatannya yang terletak pada rambutnya yang panjang. Maka selagi Samson tidur Delilah memotong rambutnya. Akhirnya orang Filistin menangkap Samson, mencungkil matanya, serta menawannya di Gaza.

Praktis dan berdaya guna, itu kemudian yang dianggap penting. Meski juga tak berarti tujuan menghalalkan cara. Pragmatisme memang tak dengan sendirinya meniadakan sisi-sisi mulia kehidupan.

Dan Pasupati? Senjata kebanggaan Arjuna yang kelak menggentarkan nyali lawannya di perang Kuru itu juga didapat dengan cara yang praktis: bertapa. Syahdan, suatu hari, Arjuna bersamadi di Gunung Indrakila. Dewa Syiwa lalu mengujinya dengan mengirim tujuh bidadari dan seekor celeng ganas untuk membuat kekacauan, namun tapa Arjuna tak tergoyahkan. Atas ketekunannya, Syiwa kemudian menghadiahinya senjata pamungkas, panah Pasupati  itu.

Pragmatisme macam ini memang menyenangkan. Mungkin karena ia dekat dengan wilayah ilusi kita. Cara kun fayakun (terjadilah atas kehendak Yang Kuasa) semacam itu, sebagai pegangan mistis dalam kebatinan Jawa, boleh jadi menggambarkan sisi lain dari pragmatisme kita, bahwa hasil yang baik akan dicapai dengan bertapa atau berdoa secara tekun.

Tapi tentu saja ini bukan saran agar kita rajin-rajin pergi ke gunung, lalu bersila dan bersamadi di sana untuk memperoleh hadiah dari dewa seperti halnya Arjuna. Sebab itu cuma cerita, kiasan, dan simbol! Dan pragmatisme adalah soal visi manajemen, cara berusaha dan bekerja efisien, siasat efektif manusia membuat dunia ini lebih baik dengan akal dan tenaganya.
Trackback(0)
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated on Monday, 24 August 2009 22:58
 
Banner
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Buku Tamu Terbaru

paud
om swastyastu perkenalkan saya made iwan irawan, dari palembang t...
Tuesday, 13 July 2010
Guest
Om Swatyastuwaduhh- waduhh !!!ada apa dengan Bali ??kok bisa banyank y...
Sunday, 04 July 2010
I Nyoman Rama Putra Iswara
Om Swastyastu, sebagai wakil mahasiswa STAHN Gde Pudja Mataram, saya u...
Sunday, 04 July 2010

Komentar Artikel Terakhir