Pergantian waktu, mengandung makna perobahan dari masa kini ke masa depan. Masa depan selalu dikaitkan dengan pengharapan, keinginan yang kuat akan sesuatu yang lebih baik. Karena itu masa depan juga berarti kecemasan atau ketakutan bahwa apa yang diharapkan itu mungkin tidak terjadi. Oleh karena itu ada filsuf yang menyatakan dia tidak mau mempunyai pengharapan, karena tidak menginginkan kecemasan.
Tetapi apakah itu mungkin? Apakah dia tidak pernah merencanakan hidupnya? Bukankah rencana adalah perumusan yang lebih jelas dari harapan? Bagaimanakah dia menghadapi hari esok? Mengenai hal ini Swami Muktananda memberikan satu cerita yang menarik, sebagai berikut:
Satu pasangan muda suami istri, sudah beberapa tahun tinggal dengan bahagia di lantai atas sebuah bangunan milik orang kaya. Pada suatu hari Minggu pasangan ini berbincang-bincang. Pembicaraan semakin mengarah kepada adu argumentasi yang semakin lama semakin panas, sehingga suaranya terdengar sejauh satu mil.
Pemilik mendengar teriakan-teriakan dan buru-buru datang melihat apa yang terjadi. Ketika melihat mereka bertengkar, ia heran dan berkata, “Anda masih muda, rajin, berpendidikan, mengapa saling menyalahkan?”
Sang istri: “Lihat suami yang tolol ini. Saya telah mencoba meyakinkannya bahwa anak kami harus menjadi dokter karena menghasilkan banyak uang dengan menolong orang yang membutuhkannya. Tetapi suami saya menginginkan agar anak kami menjadi pengacara. Betapa sulitnya meyakinkan, ia tidak mau mendengarkan.”
Sang suami: “Lihatlah perempuan sinting ini. Saya telah mencoba meyakinkannya agar anak kami menjadi pengacara, karena pengacara yang sukses dalam banyak kasus di pengadilan akan membawa keberuntungan. Ia akan berhubungan dengan orang-orang penting; ia akan mendapatkan jabatan dan prestise, dan setiap orang akan meminta sarannya. Selain itu, ia hanya akan bekerja selama jam-jam tertentu. Kalau ia menjadi dokter, pasien akan datang mengganggunya setiap saat. Saya tidak ingin anak saya terganggu siang dan malam. Saya ingin ia menjadi pengacara, tetapi istriku tidak mau mendengarkan.”
Pemilik rumah: “Itukah yang membuat kalian bertengkar? Masalah ini sangat sederhana. Mengapa kita tidak memanggil anak itu dan menanyakan padanya, ia ingin menjadi apa nanti. Di mana ia sekarang?”
Suami: “Anak itu belum lahir.”
Anak itu belum lahir; siapa yang tahu ia akan lahir, dan apabila ia lahir, seperti apa anak itu nanti? Sekarang, orang tuanya telah mulai merencanakan masa depannya? Ini yang sering terjadi terhadap pikiran kita yang penuh dengan rencana untuk esok hari dan hari kemudian serta bertahun-tahun ke depan. Kita berpikir tentang hal-hal yang jauh dan mengabaikan yang paling dekat, yaitu diri sendiri.” (Spritualitas Hindu Bagi Kehidupan Modern). Pasangan muda ini melihat masa depan dengan melebihi batas sehingga jatuh pada wilayah kecemasan.
Apakah kita tidak boleh memikirkan masa depan? Masa depan itu nyata-nyata ada. Dan tidak mungkin dihindari. Suatu yang nyata ada dan tidak mungkin dihindari, sebaiknya dihadapi dengan sengaja. Bagaimana caranya? Swami Muktananda memberi saran: ”kita sebaiknya mengalihkan kepedulian ke dalam, ke dalam Jiwa.” Kita melakukan introspeksi, mulat sarira. Kita melakukan semacam ”stock opname moral” pencatatan aset atau tanggung jawab moral kita.
Ini bukan suatu pekerjaan yang mudah. Ini tidak saja memerlukan keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan keras dan tajam terhadap diri sendiri, tetapi lebih lagi, keberanian untuk menerima jawaban-jawaban yang menyakitkan. Tetapi dengan jawaban-jawaban itu, kita berani berharap, dan berani pula menghadapi kecemasan.
”Stock opname moral” ini seharus kita lakukan setiap waktu. Tapi pada hari Nyepi kita diberi satu hari penuh untuk melakukannya.
Hari raya biasanya ditujukan untuk memuliakan Tuhan, atau merayakan kematian atau kelahiran seorang pendiri agama, dengan harapan dosa kita diampuni atau dikurangi. Nyepi, mungkin satu-satunya hari raya agama yang ditujukan kepada manusia: untuk memeriksa dirinya. Ini harus dilakukan sendiri. Pendiri agama, dengan nama apapun tidak dapat membantu. Sebab hanya manusia yang bersangkutan yang tahu siapa dirinya. Dengan mengetahui diri, kita berani menyongsong hidup. Paling tidak untuk masa satu tahun ke depan.
Oleh : Ngakan Putu Putra.
Trackback(0)
 |