Oleh : Ngakan Putu Putra
Di antara semua rahasia Aku adalah sepi. Bhagavad Gita 10.3;8
Sekitar seminggu sebelum Dharma Santi Nasional tanggal 29 Maret 2008, Nyoman Gede Agus Asrama, dari panitia nasional mengirimi saya naskah drama kolosal dengan judul “Kidung Darma Dalam Renungan”. Mang Agus, demikian biasanya ketua DPN Peradah ini dipanggil, meminta saya untuk memberi masukan soal judul. Setelah membaca seluruh sinopsisnya, saya usulkan judulnya “Kidung Darma Dalam Kehidupan”. Naskah tersebut isinya secara singkat sbb: bangsa Indonesia sedang banyak ditimpa bencana alam, dari tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor yang membawa korban jiwa ratusan ribu dan harta tak terhitung jumlahnya. “Lalu Pada hari raya Nyepi, umat Hindu melakukan berbagai macam rangkaian ritual yang bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin, menahan hawa nafsu yang selalu mengganggu. Dengan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melakukan introspeksi diri untuk terlahir menjadi seorang manusia yang baru, tercapailah sebuah kesadaran pada diri setiap insan”.
Karena yang meminta komentar saya adalah seorang anak muda yang memiliki pikiran terbuka, saya pun memberikan komentar apa adanya. Kalau naskah drama ini dibaca sekilas terkesan bahwa hanya dengan ritual (Nyepi) bencana alam dan segala kesulitan bangsa dapat dibereskan. Dalam tataran pribadi dengan melaksanakan semua ritual Nyepi kita sudah mencapai kesadaran.
Shankaracharya, filsuf besar Hindu yang hidup di India pada abad 8 mengatakan: “Sepi adalah langkah pertama untuk menuju keunggulan spiritual.” Nyepi baru merupakan satu langkah awal. Jadi jangan ada yang berpikir bahwa setelah melakukan Nyepi selama satu hari, kita sudah mencapai keunggulan spiritual, dan - saya tambahkan - keutamaan moral. Pepatah Tionghoa menyatakan perjalanan sepuluh ribu li dimulai oleh satu langkah. Tetapi langkah awal itu sangat penting, sangat menentukan.
Lalu apa makna Nyepi? Mengapa pada waktu Nyepi kita melakukan empat brata? Karena Nyepi sebetulnya adalah ritual pergantian tahun, apakah yang ia ajarkan tentang makna waktu? Mengapa pada waktu Nyepi perenungan sangat ditekankan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab secara singkat dalam tulisan berikut.
Dua kelemahan tindakan manusia dan cara mengatasinya
Brata terkait dengan kelemahan tindakan kita. Hannah Arendt, filsuf perempuan Yahudi kelahiran Jerman, mengatakan tindakan manusia memiliki dua kelemahan fundamenatal.
Pertama, tindakan kita tidak dapat di duga (unpredictable). Kedua, tindakan kita tidak dapat dibalikkan atau diulang (irreversible). Contoh untuk yang pertama. Setiap pilot, pasti berniat membawa penumpangnya dengan selamat sampai di tempat tujuan. Tetapi entah karena kerusakan mesin, kekuatan alam atau kesalahannya, pesawat yang dikemudikannya mengalami kecelakaan, seperti hard landing, yang menyebabkan para penumpang luka-luka atau meninggal.
Contoh untuk yang kedua. Pilot tersebut tidak dapat mengulangi kembali perjalanannya dari awal. Apa yang sudah dilakukannya tidak dapat dihilangkan untuk diulangi lagi. Ada satu cerita, sbb: seorang guru meminta muridnya melintasi lapangan sepak bola sambil membawa satu karung kapuk ketika ia berjalan ia harus menebarkan kapuk itu sampai habis. Setelah murid itu sampai di ujung lapangan, dan kapuk sudah ditebar semua, guru meminta dia berbalik dan mengumpulkan kapuk itu kembali. Hanya sebagian kecil saja kapuk yang berhasil ia kumpulkan, sebagian besar telah terbang entah ke mana. Demikianlah perbuatan kita. Apa yang telah kita lakukan, atau telah kita katakan tidak dapat diambil kembali. Kalau kapuk masih dapat diambil sedikit. Tetapi kalau perbuatan atau perkataan yang telah kita lakukan sama sekali tidak dapat diambil kembali. Orang tua kita di Bali mengatakan, bila minyak kelapa jatuh ke tanah, masih dapat diambil sedikit-sedikit dengan kapas, tetapi bila kata-kata sudah keluar dari mulut, tidak dapat diambil dengan apapun.
Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kedua kelemahan ini?
Ada dua cara. Pertama, untuk aspek tidak terduga, dengan tekad atau janji sungguh-sungguh. Janji yang sungguh-sungguh dalam bahasa Sansekerta disebut vrata menjadi brata dalam bahasa Indonesia. Ada tiga unsur dari perbuatan kita. Pertama, unsur kehendak. Kedua, unsur tindakan itu sendiri. Ketiga unsur hasilnya. Dari ketiga unsur ini, hanya unsur pertama dan kedua yang ada dalam kendali manusia. Di dalam kedua unsur inilah manusia menerapkan keutamaan moralnya. Kita menghendaki melakukan suatu perbuatan yang baik dan produktif. Lalu dalam tindakan, kita melakukannya dengan benar. Unsur ketiga, hasilnya, di luar kendali kita. Bagi orang beragama unsur ketiga ini ada dalam wilayah kekuasaan Tuhan. Jadi, saya berjanji untuk melakukan pekerjaan saya dengan kehendak baik, dengan cara yang baik. Hasilnya sepenuhnya saya serahkan kepada Tuhan. Ini seperti yang diajarkan oleh Bagawad Gita. Kewajiban kita hanyalah berkerja. Hasilnya adalah urusan Tuhan. Ini yang dimaksud bekerja tanpa mengharapkan hasil. Tidak ada larangan untuk menggunakan hasil itu bagi kesejahteraan kita. Karena larangan semacam itu akan membuat penyelenggaraan hidup, pribadi maupun masyarakat tidak mungkin.
Cara kedua adalah dengan pengampunan atau pemaafan. Karena soal memaafkan dan mengampuni merupakan masalah penting, ia dibahas dalam tulisan tersendiri.
Dengan perenungan pohon pisang jadi pohon jati
Merenung juga mengandung makna introspeksi, refleksi. Intro artinya ke dalam; speksi dari kata speculum atau cermin. Interospeksi artinya mengarahkan cermin ke dalam diri untuk dapat melihat secara jelas apa yang ada dalam diri atau hati kita. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan kita dan memperbaikinya. Mengapa perenungan ini mendapat posisi penting dalam perayaan Nyepi? Ini sebetulnya untuk melatih kita mendengar suara hati kita. Jarak terjauh di bumi ini konon bukan dari kutub utara ke kutub selatan, tetapi telingga kita ke hati kita. Setiap hari diri kita dibanjiri oleh kata, melalui telinga atau mata. Karena itu kita tidak mampu mendengar suara hati kita. Dengan melakukan perenungan kita sebetulnya melatih diri mendengar suara hati itu. Dan ini tidak harus dilakukan setahun sekali. Bahkan sebaiknya dilakukan setiap hari, sekalipun hanya dalam waktu 10 menit.
Di samping itu, kemampuan merenung ini yang membedakan manusia dengan binatang. Kambing atau kuda tidak mampu merenung. Oleh karena itu sejak jaman dahulu kala sampai sekarang, mereka tetap menjadi kambing atau kuda yang sama. Manusia karena memiliki kemampuan merenung telah mencapai kemajuan di segala bidang; tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam bidang moral dan spiritual.
Pohon-pohon tidak memiliki kemampuan merenung. Pohon pisang tetap menjadi pohon pisang. Pohon jati tetap menjadi pohon jati. Tetapi manusia, karena memiliki kemampuan merenung, dapat merobah dirinya, dari selemah pohon pisang menjadi sekuat pohon jati.
Hanya melalui kerja masa kini ada.
Nyepi sebetulnya adalah perayaan pergantian tahun. Apakah yang diajarkannya mengenai waktu? Dalam pemahaman kita waktu terdiri dari tiga bagian. Masa yang akan datang, masa kini dan masa lalu. Tetapi Martin Heideger mengatakan, yang ada sebenarnya hanya masa depan dan masa lalu. Masa kini? Masa kini hanya ada kalau kita melakukan kerja. Kalau kita perhatikan arloji, jarumnya terus berjalan detik demi detik. Kapankah yang disebut masa kini?
Ada sebuah paradoks mengenai persepsi kita tentang waktu. Ketika kita menganggur, waktu terasa lama bahkan beku, tetapi sebenarnya ia mengalir terus dari masa depan ke masa lalu. Ketika kita sibuk bekerja, waktu seolah-olah mengalir begitu cepat, padahal dengan bekerja itu kita menahan masa depan agar tidak segera menjadi masa lalu. Ketika kita berdiri di sungai air sungai terus melewati diri kita. Tetapi kita menahan air sungai itu bila kita membelokkan ke sawah untuk menghidupi padi. Hanya melalui karya-karyanya, manusia mengabadikan dirinya dalam masa kini, tidak mampu ditelan oleh masa lalu.
Sri Swami Sivananda, mengatakan bahwa waktu terus mengalir. Hari ini adalah hari yang baik atau beruntung. Tuhan telah memberi kita satu kesempatan lain tahun ini untuk memungkinkan kita mencapai keselamatan kita. Hari ini kita ada. Besok mungkin tidak. Oleh karena itu siapkan diri kita untuk kesempatan emas ini, bekerja keras dan capailah tujuan hidup. Pergunakan waktu dengan sebaik mungkin. Kembangkan semua kamampuan bakat diri kita. Ini adalah satu kesempatan untuk memulai hidup baru, untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia sebenarnya.
Dikembangkan dari dharma wacana dalam dharma santi umat Hindu provinsi Kepulauan Riau tanggal 30 Maret 2008.
Trackback(0)
 |