Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Galungan dan Kuningan. Semoga Dharma selalu menyertai kita semua.

Keranjang Belanja

VirtueMart
Keranjang Belanja Anda Kosong.

Majalah Terbaru

Media Hindu Edisi 77
Media Hindu Edisi 77
Rp 15.000,00
Media Hindu Edisi 76
Media Hindu Edisi 76
Rp 15.000,00

Buku Terbaru

Petunjuk Untuk Yang Ragu
Petunjuk Untuk Yang Ragu
Rp 30.000,00
Upanisad Himalaya Jiwa
Upanisad Himalaya Jiwa
Rp 30.000,00

Sun

28

Jun

2009

Akankah Budaya Jawa Hanya Tinggal Sejarah PDF Print E-mail
Written by webmaster   
Akankah Budaya Jawa Hanya Tinggal Sejarah
Bagi umat Hindu ?


Tidak bisa dipungkiri, Budaya Jawa sebagai warisan leluhur telah banyak dilupakan bahkan ditinggalkan oleh orang Jawa asli dan Hindu yang sarat dengan budaya itu. Siapa yang salah, bilamana budaya adiluhung itu jatuh ke tangan ‘pemeluk’ lain?

Pagi itu mentari sangat cepat menyengat. Padahal, jam masih menunjukan angka delapan. Udara terimbas panasnya, sehingga suasana menjadi gerah. Itulah suasana yang terjadi di Sekolah Tinggi Hindu Dharma (STHD) Klaten, 16 April 2009. Apalagi, kesibukan mempersiapkan Seminar dan Dharmasanti sudah sejak jauh hari sebelumnya. Namun, seolah-olah panitia dikejar oleh waktu, sehingga acara menjadi seperti dadakan.
Pukul 09.00 Wib, aula STHD Klaten itu sudah dipenuhi oleh peserta, dan acara pun dimulai. Sang Pinandita memimpin jalannya persembahyangan. Kedua pembicara Seminar dari bidang akademika, Titis Srimuda Pitana dan Nanik Sri Prihatini serta lebih dari 200 peserta mengikuti persembahyangan dengan tenang. Suasananya pun semakin khusuk.

Suwendi, ketua panitia Seminar dan Dharmasanti 1931 Saka STHD Klaten, saat memberikan sambutan mengatakan bahwa acara tersebut digelar karena umat Hindu di Jawa sudah lama terpendam. Budaya Jawa yang memiliki kesamaan, bahkan memang sama dengan Hindu makin ditinggalkan. Sehingga, budaya yang telah diwariskan oleh leluhur dari sejak jaman dahulu tersebut telah terlupakan. “Umat di Jawa telah mengalami perubahan religi,” ujarnya pelan.

Perkembangan jaman yang menyeret manusia yang lebih suka mementingkan duniawi ketimbang kesadaran diri juga diungkapkan oleh Ketua STHD Klaten, Sunarto. Pria berpawakan penuh cinta kasih ini mengatakan bahwa agama Hindu sesungguhnya bukan hanya teori belaka. Namun, lebih dari itu yakni sebuah praktek yang saat ini disimpangkan dari teori yang sebenarnya. “Marilah kita cinta akan kedamaian, hapuskan egoisme dan keserakahan,” tegasnya.

Karena alasan itulah, STHD Klaten tergugah untuk mengadakan sebuah seminar bertajuk “Upaya Umat Hindu dalam Melestarikan Nilai-nilai Budaya Jawa”. Paling tidak, semua peserta dari generasi muda Hindu hingga orang tua mampu memahami budaya Jawa yang adiluhung dan berketetapan hati untuk tetap melestarikannya.

  Titis,   staf pengajar dan pengelola laboratorium Arsitektur Jawa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Surakarta ini, dalam orasinya selama 20 menit  membeberkan panjang lebar mengenai ‘ruang’ dalam kesadaran manusia jawa. Titis, lelaki yang tampil gaul ini,  menerangkan dalam makalahnya, jika kuatnya pengaruh globalisasi dipercaya mampu menggeser nilai dan norma etika tradisional budaya Jawa yang ada, bukan berarti nilai dan norma tersebut telah tergantikan secara total. Akibat interaksi oleh generasi ke generasi, nilai dan norma tersebut mengalami negosiasi. Konsep arsitektural pada penciptaan ruang hidup material akibat pengaruh eksternal bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Semua mengalami proses tawar-menawar dan mendatangkan respon cerdas dengan menggunakan strategi tepat dalam menentukan sikap hidup manusia Jawa atas kesadarannya.

Lelaki berambut sebahu ini mencontohkan, dalam kasus perencanaan dan pembangunan suatu kawasan perumahan di Jawa, seorang arsitek tidak lagi menggunakan orientasi sumbu kosmis utara – selatan, karena dianggap akan membatasi kreativitas desain dan tidak optimalnya pola tata ruang kawasan hunian. Namun demikian, arsitektur sedapat mungkin menghindari munculnya desain kawasan yang menempatkan suatu bangunan rumah pada posisi tusuk sate, karena pada kenyataannya rumah tersebut akan dihindari oleh calon pembeli karena mitosnya dapat mendatangkan sial bagi penghuninya.

Adanya mitos atau pamali (tabu) bukan tanpa alasan. Selain mendapatkan ancaman kecelakaan lalu lintas, juga menyangkut masalah keamanan, kebisingan serta pengaruh cahaya kendaraan pada malam hari, bahkan masalah kesehatan karena debu atau tiupan angin keras langsung menerpa bangunan rumah.

Kehidupan manusia Jawa, lanjut Titis, memang sarat dengan simbol. Pertama, mereka berpegang pada cipta (rasio), rasa (perasaan), dan karsa (kehendak) dalam usaha melaksanakan karya (pekerjaan). Sehingga, mereka tidak tergesa-gesa dalam membuat suatu keputusan. Hal ini terjadi pada perwujudan bentuk dalam menuangkan ide yang dapat menyentuh dan merangsang perasaan terdalam. Pesan dan ajaran falsafah hidupnya menentukan orientasi diri dan sikap hidupnya yang terungkap dalam wujud lambang atau sinamuning samudono. Meskipun ungkapan lambang itu tidak mudah dimengerti, semua karya dipertanggungjawabkan tidak hanya sebatas kenyataan duniawi saja, tapi pada Tuhan Sang Kuasa Mutlak.

Kedua, kehidupan manusia Jawa merupakan cermin kerukunan yang saling menghargai dan menghormati sesama, sehingga adanya perbedaan jenjang dimaknainya sebagai adanya perbedaan peran dan tangung jawab. Ketiga, pola bentuk ruang orang Jawa mengikuti pola prilaku kehidupan dan keadaan alamnya. Rumah sebagai ruang hidup materialnya dianggap sebagai miniatur kosmosnya yang memiliki unsur-unsur batas yang nyata dalam suasananya, mengingat rumah merupakan sebuah bukti kemantapan rumah tangga.

Sementara itu, Nanik Sri Prihatini pemakalah   kedua menjelaskan   nilai-nilai budaya dalam seni pertunjukkan. Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini menekankan pada fungsi dan makna seni pertunjukan. Ada 35 jenis perangkat gamelan yang berfungsi dalam upacara keagamaan, atara lain Angklung, Gambang, Gong Beri, Selonding dan sebagainya. Kesemuanya itu memiliki fungsi dan makna yang berbeda dalam upacara keagamaan Hindu.

Bagi masyarakat Jawa, tidak seluruh kegiatan upacara melibatkan seni pertunjukkan. Malahan seni itu lebih bersifat hiburan. Contohnya, di Keraton Surakarta, kehadiran Tari Bedhaya Ketawang pada awalnya diyakini berfungsi untuk menjalin kelestarian hubungan sakral kedudukan Raja-raja Mataram dengan Kajeng Ratu Kidul yang bernama Ratu Kencanasari. Masyarakat istana Jawa percaya bahwa hubungan sakral antara para Raja Mataram dengan Kanjeng Ratu Kidul untuk memperkokoh keabsahan kedudukan raja. Selanjutnya, perkembangan fungsi Bedhaya Ketawang lebih ditempatkan sebagai warisan budaya yang adiluhung.

Sayang, masih kata Nanik, keadaan seni pertunjukan yang ditampilkan dewasa ini sudah keluar dari tujuan yang sesungguhnya. Meskipun sarat dengan nilai-nilai kehidupan, tapi orang-orang Jawa jarang yang mampu memaknainya secara mendalam. Bahkan, mereka sudah merasa bosan dengan kesenian itu. Pertunjukan yang hanya memakan waktu 15 menit saja, dirasakan lama oleh para penonton. Malahan, pertunjukan itu hanya sebatas pertunjukan, tidak dimaknai arti atau simbol yang sesungguhnya.

Dharmasanti
Saling maaf-memaafkan
Usai seminar, acara Dharmasanti pun digelar. Acara yang berlangsung hingga pukul 15.00 Wib itu juga menghadirkan tari-tarian dan karaoke sebagai hiburan. Hadir pula, Pembimas Hindu Jawa Tengah beserta PHDI Jawa Tengah. Meski telah banyak hiburan, tapi peserta tetap saja tampak lesu dan mengantuk kerena terlalu lama duduk. Untungnya, kehadiran Sri Jangkung, sang pendharma wacana mampu membawa suasana menjadi bangkit kembali.

Dharmawacana selama 30 menit itu banyak mengundang tawa dan kegelian para peserta Dharmasanti. Ajaran Hindu yang diselipi lelucon-lelucon yang dilontarkan Jangkung lebih menarik para peserta untuk lebih memahami inti agama Hindu. Salah satunya, yakni anggapan bahwa Tuhan yang dimiliki oleh agama Hindu tidak hanya satu. Bahkan, dikenal sebagai agama polyteisme. Lelaki berpostur tubuh besar itu pun, mengulas habis-hasbisan anggapan itu. “Ibarat matahari, Tuhan mempunyai sinar yang mampu menerangi seisi dunia. Dari sinar suciNya itu, dinamakan Dewa sesuai warna dan arah mata anginnya,” demikian Jangkung.

Tri Wahyu Utami
Hindu asli Jawa, tinggal di Solo Jawa Tengah
Trackback(0)
Comments (2)Add Comment
0
Budaya Ga Akan Pernah Musnah
written by Kamaludin,SH, November 24, 2009
Sampurasun. Budaya Bangsa tidak terlepas dari Sejarah Bangsa ... Bangkitkan Patriotisme Kebanggaan Atas Budaya Bangsa ... memang sejak abad 1 hingga 16 ... Kekuasaan Hindu lama berkuasa di Palantara Nusantara .. 3,5 abad kita dijajah bangsa lain yang dibarengi menerapan dogma lain, Hindu pun sebenarnya datang dari Bangsa lain, namun begitu 16 Abad membumi dan jaya di Nusantara, yang sejak kemerdekaan RI, telah (kasilih dan atau kalindih ku Junti). Untuk itu sekiranya, kehendak Sanghyang Tunggal yang Manunggal, memberikan Widi, Restu dan Bimbingannya. Di Jawa Barat (Palantara Sunda) semoga kebangkitan Hindu Galuh jadi titik awal, karena Resiguru Markandrya, miang dari sini Kendan Galuh ... Budaya tidak akan musnah selama kita menghormati sejarah....Rampes.
0
hindu
written by ary, October 16, 2009
om Swastyastu
1.saya ingin tahu kalo orang india itu sama ga cara sembahyangnya kayak orang bali ?
2.tolong di telusuri info tentang hindu etnis tionghua dan blog puranya ?
3.tentang pura jagatnatha di jerman sudah selesai apa belum ?

Write comment

busy
Last Updated on Monday, 24 August 2009 22:51
 
Banner
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Buku Tamu Terbaru

paud
om swastyastu perkenalkan saya made iwan irawan, dari palembang t...
Tuesday, 13 July 2010
Guest
Om Swatyastuwaduhh- waduhh !!!ada apa dengan Bali ??kok bisa banyank y...
Sunday, 04 July 2010
I Nyoman Rama Putra Iswara
Om Swastyastu, sebagai wakil mahasiswa STAHN Gde Pudja Mataram, saya u...
Sunday, 04 July 2010

Komentar Artikel Terakhir