Sun 12 Jul 2009 |
|
Ketika menghadiri upacara Pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana di Brugelette Belgia, di bale pegongan di jaba Pura tampak sekehe gong dengan pakaian seragam biru, lengkap dengan udeng (destar) songket begitu mahir memainkan instrumen gamelan mengiringi jalannya upacara. Sekilas saya pikir sekehe gong tersebut adalah sekehe gong yang datang dari Bali khusus dikirim untuk mensukseskan jalannya upacara Pemlaspasan Pura Agung Santi Bhuwana di Belgia. Namun dugaan saya salah, ketika saya amati para pemain gamelan satu persatu di mana hampir semua wajah-wajah pemain gongnya adalah warga Eropa. Sekehe gong itu bukanlah kiriman dari Bali melainkan sekehe gong lokal asli Belgia yang bernama “Sekehe Gong Saling Asah“. I Made Agus Wardana Sejak saat itu dibentuklah berbagai grup gamelan Bali seperti Grup Gamelan Konservatorium Brussel,grup Gamelan KBRI Brussel, Arjuna, Dharma Wanita KBRI Brussel, Grup Gamelan Anak-anak, Grup Duo Made, Gamelan Pelajar Indonesia, serta Grup Gamelan Saling Asah.
I Made Agus Wardana lahir di Pegok Sesetan, Denpasar pada tanggal 25 November 1971 saat ini bekerja sebagai Staf Pensosbud KBRI Brussel, sekaligus sebagai motor penggerak Sekehe Gong Saling Asah. Mengenai Grup Gamelan Saling Asah, menurut Made, didirikan tahun 1998. Berawal dari pertemuannya dengan Dr. Zachar Laskewicz seorang seniman musik, teater, drama yang memperoleh Ph.D di Universitas Gent, Belgia di bidang seni. Nama grup Gamelan Saling Asah, menurut Made diambil dari bahasa Bali, Asah yang artinya rata atau sama. “Jadi saling asah mempunyai makna kebersamaan dalam musik”. Gamelan Saling Asah saat ini beranggotakan warga Belgia dan warga Indonesia berjumlah 15 orang dan sebagian besar anggotanya warga Belgia; mereka adalah Eddy Pauwels, Komang Ratmini, Danny Van Honste, Ni Nyoman Nariasih, Gunther Wendrickx, Sutalmi, Jobert Van In, Johan Detraux, Scarlett Claes, Lida Praja, Wayan Sudiarta, Putu Astawan, Erika Van Geyte dan Astawan. dan dipimpin oleh Eddy Pauwels sebagai Direktur Saling Asah. Grup ini memainkan gamelan gong kebyar dengan tabuh dan tari tradisional seperti: Pendet, Panyembrama, Margapati, Cendrawasih, Legong Keraton, Baris, Topeng, dll. Keberadaan grup gamelan tersebut, menjadikan Belgia sebagai pusat kebudayaan Bali di Eropa. Partisipasi grup gamelan tersebut dalam berbagai event di Belgia berdampak sangat positif terhadap pengembangan kebudayaan Indonesia di Belgia, sekaligus menjadi ujung tombak dalam upaya meningkatkan citra positif Indonesia di Belgia dan Uni Eropa. Dan semenjak diresmikannya Kompleks Taman Indonesia “The Kingdom of Ganesha” beserta dipelaspasnya Pura Agung Santi Bhuwana di Taman Wisata Parc Paradisio di Brugelette Belgia, hari Senin tanggal 18 Mei 2009, keberadaan Sekehe Gong Gamelan Saling Asah kedepannya akan sangat membantu dalam setiap upacara piodalan di Pura Agung Santi Bhuwana ini. Semoga semarak gamelan dari Sekehe Gong Saling Asah yang di tabuhkan di setiap upacara piodalan di Pura Agung Santi Bhuwana akan lebih menambah kentalnya suasana Bali di Taman Wisata Parc Paradisio, dan membantu mengobati kerinduan umat sedharma akan kampung halaman di Bali di saat sedang menjalankan persembahyangan di Pura Agung Santi Bhuwana. Alamat Sekehe Gong Saling As ah adalah sebagai berikut : http://www.salingasah.be/ Saling Asah vzw p/a Gunther Wendrickx Mertens & Torfsstraat 12B-2018 Antwerpen België . Ketut Adnyana/Stutgart.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 483 Trackback(0)
Comments (1)
![]() written by dewa landung, November 15, 2009
saya merasa terharu mengetahui hal ini, terimakasih kpd warga Belgia
Write comment
|
| Last Updated on Monday, 24 August 2009 22:49 |

















yach... pada awalnya saya seneng SBY ...