Wed 25 Nov 2009 |
|
Gubernur Bali: Dalam 10 tahun terak-hir ini, jumlah umat Hindu di Bali sudah berkurang sebanyak 10 %.” Demikian dikatakan oleh Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, ketika memberi sambutan pada pembukaan Pesamuhan Agung Parisada, pada hari Minggu 18 Oktober 2009, bertempat di Jayasaba (kantor Gubernur Bali). Gubernur juga me-ngatakan telah terjadi perubahan nilai-nilai dalam masyarakat Bali, yang kalau tidak ditangani bisa membahayakan eksistensi Bali. Tak ketinggalan, Gubernur juga menyoroti perihal upacara-upacara yang memerlukan biaya besar. Terkait dengan hal-hal tersebut Gubernur ”menantang” PHDI untuk masukannya. Dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Bali, yang akan dipakai membentengi keputusan-keputusan, bhisama-bhisama yang dikeluarkan oleh PHDI, merupakan bagian penting. Gubernur juga meminta kepada anggota DPR, DPD terpilih pada Pemilu 2009 untuk ikut memperjuangkan agama Hindu agar mendapat porsi yang seimbang dengan agama lainya.
Pesamuhan Agung Parisada tahun 2009 ini dihadiri oleh Parisada Propinsi seluruh Indonesia, Sabha Pandita, Sabha Walaka, Pengurus Harian, dan Lembaga-lembaga keagamaan yang bernafaskan Hindu skala Nasional. Tampak ha-dir utusan-utusan umat agama lain, seperti dari Keuskupan, Walubi, anggota DPR RI, anggota DPD Bali hasil Pemilu 2009. Sebelumnya, Sekretaris Umum Parisada Pusat, Nengah Dana membuka rapat di Inna Bali Hotel; membacakan Tata Tertib Pesamuhan Agung, didampingi oleh ketua organ PHDI seperti Ketua Umum Pengurus Harian, Ketua Sabha Pandita, Ketua Sabha Walaka dan Ketua Panitia Pesamuhan Agung, Agus S Mantik. Dalam sidang pemandangan umum keesokan harinya, Senin 19 Oktober 2009, hampir semua daerah meminta perhatian Ketua Umum Pengurus Harian untuk lebih aktif dalam melaksanakan program-program Parisada yang selama ini dirasakan belum optimal. Wakil Parisada Propinsi Lampung, menyuarakan hal ini paling jelas. I Ketut Seregig, SH, MH, Sekretaris Parisada Lampung menyampaikan bahwa melalui Rakernis Parisada Propinsi Lampung , 3 Mei 2009, telah dibentuk BDDP (Badan Dharma Dana Propinsi) Lampung. Dengan akte notaris, badan ini dioperasionalkan sebagai badan penggali dana Parisada. Selain melaksanakan pembinaan ke kantong-kantong umat, Parisada juga telah mencetak buku-buku untuk dibagikan secara gratis kepada umat Hindu. Saat ini sedang dilakukan pendataan umat untuk data base, yang akan dikirimkan kepada Parisada Pusat. I Ketut Seregig juga mengkritisi jalannya roda organisasi Parisada Pusat dalam merealisasikan program kerja dan bhisama-bhisama yang telah ditetapkan oleh Sabha Pandita. Semua ini disampaikan karena adanya keluhan-keluhan yang disampaikan pada pembukaan Pesamuhan, sebagai wujud keprihatinan; seperti krisis keuangan yang dialami Parisada Pusat yang berdampak pada tersendatnya program pembinaan umat Hindu. Menurutnya, keluhan-keluhan tersebut seharusnya tidak terjadi, karena kita memiliki potensi yang cukup besar pada tingkat elit atau pucuk pimpinan. Hal ini terjadi karena pimpinan Parisada kurang inovatif, dan cenderung pasif serta kurang menyentuh umat yang ada di daerah. Ini terjadi karena kurangnya peran Ketua Umum sebagai motivator dan dinamisator yang juga berdampak terhadap kurangnya komunikasi antara Pusat dan Daerah. Dalam menjalankan peran agama, seharusnya disadari bahwa pengorbanan mutlak diperlukan dan dijalankan dengan lascarya. Sehingga dalam bidang pembinaan agama, peran Ketua Umum Parisada sebagai motivator seharusnya tampak dan memperlihatkan jatidiri kepemimpinan yang dapat dibanggakan, dan ini belum dirasakan. Lampung sebagai Parisada yang paling dekat dengan Pusat seharusnya menjadi teman diskusi dalam melaksanakan program-program yang telah ditetapkan. Selama tiga tahun terakhir ini, aktivitas Parisada Pusat dirasakan cenderung menurun dan kurang gaungnya. Contoh nyata yang dirasakan langsung adalah ketiadaan dharma santi nasional. Seharusnya dharma santi ini harus tetap dilaksanakan, karena merupakan salah satu parameter eksistensi umat Hindu di negeri ini. Bukan malah meniadakan dengan segala alasan. Dalam bidang pendidikan kita seharusnya bahagia dengan keluarnya PP no. 55 tahun 2007 yang salah satu pasalnya berbunyi, “pasraman yang selama ini merupakan lembaga pendidikan non formal dijadikan sebagai lembaga pendidikan formal.” Namun sudah dua tahun berjalan, PP tersebut belum juga dikuatkan oleh Permenag RI. Ini disebabkan kurang tanggapnya Pengurus Harian Parisada Pusat dalam mendorong percepatan keluarnya Permenag RI tersebut. Strategi yang perlu dilakukan oleh Ketua Umum adalah dengan cara berkirim surat resmi kepada Menteri Agama dengan tembusan Dirjen Hindu; agar dijadikan pertimbangan oleh Pemerintah (Menteri Agama). Parisada Lampung berharap, agar langkah-langkah ini bisa disikapi dengan baik sehingga terbukti bahwa Ketua Umum Parisada Pusat benar-benar memiliki kemampuan dalam meningkatkan SDM Hindu di Indonesia. Setelah tiga tahun berjalannya kepengurusan ini, belum dirasakan getaran-getaran signifikan dalam kepemimpinan Ketua Umum. Namun Pengurus Harian bukannya tidak punya prestasi. Parisada Pusat sudah mampu merenovasi gedung kantor, berkat bantuan sepenuhnya dari Ditjen Bimas Hindu, dan furniturnya berkat bantuan dua tokoh umat yang pernah dan sedang menduduki jabatan tinggi di dua Bank BUMN. Parisada juga sudah meluncurkan bea siswa dan asuransi kesehatan untuk para pinandita berkat kerja keras BDDN di bawah pimpinan Ir. Wayan Alit Antara, mantan Wakil Dirut BRI.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 706 Trackback(0)
Comments (11)
![]() written by Komang Yasa, January 09, 2010
tingkatkan peran parisada dari tingkat paling bawah, dan perhatikan kesejahtraan mereka yang mengabdi untuk kepentingan umat, terutama perhatian dari pemerintah bali, bukankah kemajuan pariwisata juga tidak terlepas dari budaya hindu
written by mertamupu, January 03, 2010
sungguh mengherankan ... padahal orang bali bertambah banyak namun umat hindu berkurang.. mohon para dermawan,intelektual hindu menerbitkan buku-buku tanya jawab tentang kritik2kan hindu dari agama non-hindu agar orang-orang hindu apa bila berdialog tentang agama supaya bisa menjawab dan tidak dipojokan agama lain sehingga mereka lebih percaya dengan agama lain. banyak orang hindu pindah agama karena kurangnya buku-hindu, kalopun ada harganya mahal... kalo bisa ..para dermawan membiayai penerbitan2 buku2 hindu dan disebarluaskan,terutama di kalangan pemuda,melalui sekolah2 atau perguruan tinggi.karena merekalah penerus generasi kita..
written by cokbin, December 28, 2009
umat dibali sekarang lama-lama hilang karena : 1. Bali terlalu mementingkan Upacara dan Upakara, 2. Banten berlebihan tanpa tau maknanya, 3. Teori dan filsafat Hindu belum merasuki jiwa anak muda Bali, 4. Egonya masih tinggi
Hindu bukan hanya ada di Bali, jd jangan terlalu berkiblat ke bali. toh juga bali adalah pindahan dari jawa di jaman majapahit dulu
written by Komang Suarta, December 22, 2009
Bali merupakan kiblatnya umat hindu Nusantara, jika orang-orang Bali (Hindu)tidak mempertahankan kehinduannya maka Hindu di Bali tinggal kenangan, kami yang terlahir di luar bali yang bersusah payah memperjuangkan Hindu tidak di barengi oleh saudara-saudara kita di Bali. Jika Hindu di Bali sudah tiada kemana kami harus berkiblat?
written by Kesuma, I Nyoman, December 16, 2009
Adanya awig-awig desa pekraman yang cenderung mengekang warga adat sendiri (HIndu) sedangkan dilain pihak tidak mampu mengatur warga pendatang (non Hindu)membuat ummat Hindu merasa terpasung oleh aturan yang membatasi diri sendiri. Selain itu ritual/upacara yang dilaksanakan dengan kecenderungan semakin sering dan secara besar-besaran juga memberatkan ummat.Karena itu sebagai manusia biasa ummat akan berupaya untuk mencari jalan keluar yang salah satunya adalah dengan meninggalkan agama warisan leluhur (Hindu). Apalagi banyak tawaran menggiurkan dari agama lain yang membuat ummat berpikir pragmatis ditengah budaya konsumtif. Untuk itu peran Parisada dan Majelis Adat perlu ditingkatkan dengan mengeluarkan bisama2 yang mampu meringankan ummat baik adat maupun ritual agama.
written by gde, December 15, 2009
rasa memiliki yang semakin kurang, merupakan penyebab utama.
jadi ayo kita tunjukan bahwa HINDU mampu menjadi agama yang universal dan mampu memimpin dunia kembali seperti zaman RAMAYANA DAN MAHABHARATA written by surya, December 08, 2009
Rasa militansi terhadap agama itu yang saya rasa amat kurang dimiliki oleh umat Hindu, kemudian diperparah oleh tatanan Hindu khusus di bali yang lebih pada ritual yang menjurus ke adat kebiasaan hingga tidak jarang umat Hindu sering kalah dalam diskusi yang berlangsung masyarakat dengan kelompok agama lain. Terlepas dari semua itu Hindu sebenarnya telah memiliki semuanya, hindu bukan sebuah agama yang kekuatan terbesarnya ada pada kepercayaan, ajaran Hindu tidak hanya berkutat pada dogma. Hindu sangat mungkin untuk bisa berkembang menjadi sebuah agama modern di masa depan nanti, karena Hindu memiliki karakter yang kristis, logis dan metodis yang tercermin dalam berbagai kitabnya seperti Upanisad2 dan Bhagavadgita. Semoga Hindu Jaya!
written by surya, December 07, 2009
jiwa militansi terhadap agama ini yang masih kurang dalam umat kita, dimana di pihak agama lain itu selalu pertahankan bahkan dibuat lebih besar lagi.. Terlepas dari semua adat istiadat, sebenarnya Hindu memiliki semuanya, hindu adalah agama yang sistimatis, logis dan metodis, dan tidak hanya mengandalkan kepercayaan, dan tidak hanya berkutat pada dogma, Hindu sangat mungkin untuk menjadi sebuah agama modern untuk masa depan dunia…Semoga Hindu Jaya
written by surya, December 07, 2009
jiwa kebanggaan atau militansi terhadap hindu itu yang merupakan kelemahan umat Hindu yang mendasarkan. sebenarnya Hindu memiliki semuanya, Hindu bukan agama yang kekuatannya dari kepercayaan saja,terlepas dari semua ritual, Hindu adalah sebuah agama Ilmiah, sistimatis dan metodis..Ini cukup kuat untuk mengembangkan Hindu sebagai sebuah agama modern untuk dunia di masa depan..hINDU ADALAH sebuah agama yang tdk hanya berkutak pada dogma. sEMOGA hindU JAYA!!
written by kakang web, December 07, 2009
Ayo para pemuda Hindu, sisingkan lengan baju kalian, jangan hanya menjadi orang yang berlabel Hindu tapi tak berjiwa Hindu. Saatnya kita tunjukkan Hindu yang sebenarnya Hindu yang berjiwa besar, agama universal (bukan UNIVERSALISME RADIKAL).
Kita jaga apa yang kita punya (tanpa bermaksud untuk mengkonversi orang).... Write comment
You can add your comment here
|
| Last Updated on Wednesday, 25 November 2009 21:10 |

















yach... pada awalnya saya seneng SBY ...