Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Galungan dan Kuningan. Semoga Dharma selalu menyertai kita semua.

Keranjang Belanja

VirtueMart
Keranjang Belanja Anda Kosong.

Majalah Terbaru

Media Hindu Edisi 77
Media Hindu Edisi 77
Rp 15.000,00
Media Hindu Edisi 76
Media Hindu Edisi 76
Rp 15.000,00

Buku Terbaru

Petunjuk Untuk Yang Ragu
Petunjuk Untuk Yang Ragu
Rp 30.000,00
Upanisad Himalaya Jiwa
Upanisad Himalaya Jiwa
Rp 30.000,00

Thu

25

Jun

2009

Surat Pembaca MH 64 PDF Print E-mail
Written by webmaster   
BERITA DI INTERNET TENTANG MAYAT MAYAT DI SUNGAI GANGGA
Om Swastyastu
Sebelumnya saya tidak tahu kalo disungai Gangga yang sangat disucikan oleh umat Hindu dijadikan tempat untuk membuang mayat,tidak hanya itu, malah saya juga baca di sana dijadikan tempat MCK. Apakah benar berita yang saya baca di internet tersebut? Saya  juga sudah melihat beberapa gambarnya yang sangat menjijikkan di mana ada mayat yang sudah membusuk dan ada yg dimakan anjing. Jika hal ini benar kenapa tokoh tokoh umat Hindu di India khususnya dan Dunia umumnya membiarkan hal ini. Saya  berharap semua berita itu tidak benar adanya.
Om Santi Santi Santi Om
Made Depe,sumbawa

Redaksi.
Kemungkinan berita itu benar, terutama untuk bagian hilir sungai Ganga. India sangat luas dengan penduduk sekitar 1.2 miliar, dan tidak semuanya beragama Hindu,  hampir sepertiga masih berada di bawah garus kemiskinan. Dan pemerintah India adalah pemerintah sekuler yang mungkin tidak begitu perduli dengan kesucian sungai Ganga.  Ganga adalah satu sungai besar di anak benua India, mengalir ke timur melalui lembah  Ganga di utara India ke  Bangladesh. Ganga panjangnya  2,510 km (1,560 mil)  muncul di sebelah barat  Himalaya di Uttarakhand India, dan mengalir ke delta Sunderbans di Teluk Bengala. Berbagai kota besar terletak di tepinya seperti Patliputra, Kannauj, Kara, Allahabad, Murshidabad, dan Kolkata (Calcutta). Ganga dan anak-anak sungainya mengairi 1,000,000 km2 (390,000 sq mi) lembah subur yang mendukung salah satu penduduk paling padat di dunia. Rata-rata kedalamannya 16 m, dan yang paling dalam 30 m. Dengan kondisi seperti itu sulit menjaga sungai Ganga bersih dari hulu ke hilir. Kalau di Haridwar di mana redaksi pernah bertirtayatra ke sana, sungai Ganga sangat bersih dan biru.    

KLARIFIKASI BERITA MH 61.
Om Swastyastu,

Dengan ini saya ingin mengklarifikasi tentang berita di Media Hindu Edisi 61 yang terbit Maret 2009. Di halaman 29 pada edisi tersebut terdapat berita yang berjudul "Menabur Benih di Lereng Raung". Di situ tertulis nama pengirim berita adalah Miswanto. Saya tidak pernah mengirimkan berita tentang peresmian Lembaga Pendidikan Dharma Pasraman (LPDP) Ngesti Dharma tersebut. Adapun yang mengirimkan berita tersebut adalah Ibu Donnawaty yang Sekretaris LPDP Ngesti Dharma. Sebelumnya bekerja di Hongkong dan aktif di WHDI Hongkong. Makanya di awal tulisannya disebutkan "Sungguh tak terbayangkan dalam benak penulis, sepulang dari mekuli di negeri milik Jacky Chan ini,…". Maaf, saya tidak bisa dan tidak biasa mengakui sesuatu yang bukan hasil kerja saya.

Selanjutnya di dalamnya diberitakan tentang tema "niring bahni aruming wiji". Tema ini tidak ada kaitannya dengan tahun baru Saka 1931. Akan tetapi kalimat ini adalah salah satu sesanti yang digunakan untuk menandai berdirinya LPDP Ngesti Dharma. Sesanti ini merupakan salah satu ungkapan dalam kesusasteraan Jawa yang kemudian dikaitkan dengan tahun di mana sesanti itu dikeluarkan. Tradisi ini lebih dikenal dengan istilah candrasengkala.

Sengkalan yang berbunyi "niring bahni aruming wiji" tersebut menunjuk pada tahun Saka 1930. Nir berarti tidak ada atau kosong ditandai dengan angka 0. Bahni (wahni) berarti api (nafsu amarah) yang ditandai dengan angka 3. Arum berarti harum, indah, daya tarik yang melambangkan angka tertinggi yakni 9. Wiji berarti benih yang ditandai dengan angka 1. Sengkalan biasanya dibaca dari belakang. Dengan demikian sengkalan "niring bahni aruming wiji" menunjuk angka 1930 Saka di mana LPDP Ngesti Dharma tersebut mulai didirikan dan diresmikan.

Sementara maksud sengkalan tersebut adalah dengan hilangnya api keserakahan atau nafsu dan egoisme (niring bahni) akan mampu melahirkan benih-benih yang dapat mengharumkan seluruh alam semesta (aruming wiji). Dengan demikian jika dikaitkan dengan kegiatan di LPDP Ngesti Dharma tersebut adalah lahirnya pasraman ini akan mampu melahirkan benih-benih dharma yang akan mengharumkan nama keluarga, agama dan bangsa (pisungsung mikul dhuwur mendhem jero). Terimakasih atas dimuatnya surat ini.

Om Santih, Santih, Santih, Om.
Miswanto.

BUKAN IBU TAPI BAPAK.

Om Swastyastu
Terima kasih telah memuat yang saya kirim ke MH. Di Media Hindu bulan April 09 edisi 62 halaman 60, tertulis " surat ...... Ibu Lancia Suyasa, sebenarnya tidak ada kata ibu, saya laki-laki.

Dalam kesempatan ini saya menyampikan keinginan saya untuk menyumbangkan buku-buku tentang Hindu terutama buku-buku doa sehari-hari. Tapi saya masih mengumpulkan, biar banyak pasti saya kirim ke Media Hindu untuk disalurkan ke umat Hindu yang membutuhkan terutama yang telah dengan gigihnya mempertahankan kehinduannya, Seperti yang di tulis saudara takim wibowo dari desa wonocepokoayu, dusun wonoayu Rt/RW 18/06 senduro tengger lumajang. (April 09,  MH 62, Hal. 72. )
Saya juga tertarik dan sependapat dengan bapak Yuliana, seperti dipaparkan lewat MH 62 April 09 Hal. 59. Jangan sampai tinggi ilmu formal tapi minim/awam ilmu agama Hindunya, Paling tidak semuanya berjalan dengan seimbang.

Demikian dari saya, terimakasih kepada yang telah berbuat/meluruskan/membina/dll umat kita yang awam dengan ajaran Hindu nya. Kebenaran pasti menang, Hindu pasti berjaya/bangkit.
om shanti-shanti-shanti om
lancia suyasa" This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

redaksi.
Maaf atas penyebutan Ibu. Terima kasih atas ralatnya. Juga terima kasih atas keinginan untuk menyumbangkan buku-buku Hindu. Kami tunggu.  

PASRAMAN BRAHMA WIDYA SATWIKA ANAK PULAU BINTAN
Mohon bantuan Dirjen Bimas Hindu.
Bintan adalah sebuah kota kecil di salah satu provinsi muda Kepulauan Riau.    
Mungkin belum banyak umat Hindu di luar   tahu bahwa di Bintan ini ada umat Hindu. Kepulauan Riau adalah provinsi yang identik dengan negeri Islami dan adat Melayu yang kental. Namun kita  patut bangga bahwa umat Hindu  dapat diterima oleh masyarakat   Bintan. Di sini sudah berdiri Pasraman Brahma Widya Satwika.

Di sisi lain saya masih prihatin, karena sesuai berita Media Hindu terbitan sebelumnya, di beberapa daerah tmasih banyak kendala untuk  mengembangkan pendidikan Hindu. Demikian pula halnya dengan pendidikan Hindu di pulau ini.  

Pasraman Brahma Widya Satwika   belum mempunyai tempat (gedung) untuk proses belajar mengajar yang tetap. Pasraman diadakan dari rumah ke rumah (door to door). Sebenarnya hal ini kurang efektif karena setiap mau belajar harus memindahkan bangku-bangku dan papan tulis dan ini terus berganti-ganti secara bergiliran.  Tuan rumah menyediakan kue agar anak-anak   merasa senang dan lebih giat dalam mengikuti pembelajaran.

Guru  pasraman harus  menempuh jarak ± 98 km untuk menanamkan nilai-nilai Hindu dalam pribadi anak-anak. Ini sangat penting karena anak-anak ini  tidak mendapatkan ilmu pelajaran agama Hindu  di sekolahnya. Pendidikan agama Hindu harus ditanamkan sejak dini. Jika tidak dilakukan s tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Hindu di akan datang.

Kami ucapkan terima kasih  kepada Dirjen Bimas Hindu Depag RI yang telah mengirimkan buku-buku pelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat terbantu.  Kami mengharapkan kepada Bapak Dirjen Bimas Hindu Depag RI agar berkenan membantu   pembangunan gedung Pasraman Brahma Widya Satwika Kab. Bintan
Purwadi,  Kepulauan Riau

PURA DI DESA BIROWO, BLITAR

Om Swastyastu
Saya Putu Dharmayasa, seorang anak desa dari lereng Gunung Kendeng, Blitar Selatan. Saya berdarah Bali-Blitar yang lahir dan dibesarkan di Blitar, dan saat ini bekerja di Pulau Dewata dan  masih berstatus Mahasiswa Universitas Hindu Indonesia Denpasar. Berdasarkan pantauan saya, bahwa perkembangan agama Hindu di Desa Birowo, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, sangat pesat.
Sehingga keadaan Pura yang belum sempurna menjadikan saya terharu dan termotivasi untuk memberanikan diri mengirim tulisan tentang pembangunan Pura dan sekilas asal-usul berdirinya Pura yang secara garis besar masih sangat membutuhkan bantuan. Demikian sedikit tulisan saya, mudah-mudahan bisa berarti. Apabila ada kesalahan dan kekurangannya, mohon dimaafkan. Terimakasih.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Putu Dharmayasa
{rokcomments}



Trackback(0)
Comments (2)Add Comment
0
Understanding
written by Sarah, June 29, 2010
I like to spend time in the internet and surf Google looking for something worthy to read or at least look through... There's so much garbage nowadays ( and that's why I'm glad to have found your resource. Simply wanted to say that this site is one of my favorites, there's always something to read. I wish you good luck and many devoted readers ) My resource for you – rapidshare SE with huge database
0
sungai ganga??
written by septiandani gusti, January 03, 2010
om swastyastu..
tolong media hindu menyelidiki kebenaran atas berita yang terkabar di internet ini. saya pun sudah melihat, sungguh mengerikan..
banyak umat lain yang mengomentari atas berita ini, nama baik kita menjadi terancam,
kalaupun berita itu bohong, tolong media hindu membuat revisi atas tuduhan berita seperti itu,
kalaupun benar tolong media hindu menyelediki apa sebab dan asal muasalnya mengapa sungai ganga sekarang seperti itu..



Write comment

busy
Last Updated on Thursday, 07 January 2010 01:00
 
Banner
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Buku Tamu Terbaru

paud
om swastyastu perkenalkan saya made iwan irawan, dari palembang t...
Tuesday, 13 July 2010
Guest
Om Swatyastuwaduhh- waduhh !!!ada apa dengan Bali ??kok bisa banyank y...
Sunday, 04 July 2010
I Nyoman Rama Putra Iswara
Om Swastyastu, sebagai wakil mahasiswa STAHN Gde Pudja Mataram, saya u...
Sunday, 04 July 2010

Komentar Artikel Terakhir