Seluruh jajaran staff, redaksi dan direksi Media Hindu, mengucapkan selamat merayakan hari raya suci Galungan dan Kuningan. Semoga Dharma selalu menyertai kita semua.

Keranjang Belanja

VirtueMart
Keranjang Belanja Anda Kosong.

Majalah Terbaru

Media Hindu Edisi 77
Media Hindu Edisi 77
Rp 15.000,00
Media Hindu Edisi 76
Media Hindu Edisi 76
Rp 15.000,00

Buku Terbaru

Petunjuk Untuk Yang Ragu
Petunjuk Untuk Yang Ragu
Rp 30.000,00
Upanisad Himalaya Jiwa
Upanisad Himalaya Jiwa
Rp 30.000,00

Mon

11

Jan

2010

Surat Pembaca MH 66 PDF Print E-mail
Written by webmaster   
MH menambah wawasan.
Om Swastyastu
Kami sudah berlangganan Media Hindu, Kami sangat senang dan berterima kasih dengan adanya Media Hindu, dengan keberadaannya wawasan kami bertambah dan mengetahui saudara kita yang Hindu di tempat lain.
I Gde This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Abiantubuh Barat.Mataram Lombok


Klarifikasi WHDI HK.

Om Swastyastu       
Saya ingin memberi tanggapan/pernyataan tentang klarifikasi yang disampaikan oleh saudara Miswanto di MH edisi 64 pada halaman 3 di kolom surat pembaca dengan judul  ”Klarifikasi berita MH  61”.   
 Dari awal berdirinya IWHDI oleh kawan-kawan saya diberi kepercayaan untuk menjadi bendahara dan  kemudian setelah IWHDI diresmikan oleh WHDI Pusat dan berganti nama WHDI Hongkong, saya dipercaya untuk menjadi wakil ketua. Dan untuk selanjutnya  pada periode 2005-2009, saya dipercaya sebagai ketua WHDI HK.   
Yang perlu saya jelaskan adalah  dari awal berdirinya IWHDI sampai berganti menjadi WHDI HK. tidak ada dalam daftar anggota WHDI HK yang bernama Donawaty, apalagi aktif di WHDI HK.   

Demikian keterangan dari saya semoga menjadikan maklum.
Untuk  bersangkutan yang namanya saya sebutkan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya ,
Om Santi, Santi, Santi, Om.   
Sri Utami, Ketua   WHDI ,  HK


Mohon Kearifan Redaksi Media Hindu
Om Swastyastu
Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada Redaksi MH yang telah berkenan memuat tanggapan saya mengenai sradha dan bhakti, yang kemudian diberi catatan-catatan. Dari catatan-catatan yang diberikan redaksi MH, izin kan saya memberi sedikit komentar.
  1. Redaksi berpendapat bah-wa sikap meniru-niru adalah cermin rendah diri secara agama, dan ingin dikikis dari mentalitas orang Hindu. Tapi, tidakkah pada saat kita merumuskan konsep Panca Sraddha tahun 50-an dulu, kita juga meniru konsep Rukun Iman dalam Islam dan Kristen? Atau kalau ternyata kita tidak meniru, bisakah MH menyebutkan sumber referensinya secara leng-kap dan utuh dari kitab-kitab level pertama? Mengapa di Indonesia kita memilih menggunakan nama ‘Ida Sang Hyang Widhi Wasa’ untuk menyebut Tuhan Yang Maha Esa? Sepengetahuan saya, itu karena dulu kita tidak bisa diakui sebagai agama yang berketuhanan yang mahaesa, yang diakui sebagai agama resmi di Indonesia, kalau tidak meniru-niru konsep keesaan Allah dari agama Islam. Mengapa kita tidak mengusulkan nama Tuhan  yang jelas-jelas ada dalam kitab Weda level pertama? Tidakkah dengan memperkenalkan Panca Sradhha, Doa Trisandhya, Libur Nasional untuk Tahun Baru Saka (Hari Raya Nyepi), kita sebenarnya sudah melakukan tindakan meniru dari agama lain? Mengapa hanya Sraddha dan Bhakti saja yang dipermasalahkan?
  2. Dalam tanggapan saya terhadap catatan yang diberikan oleh redak-si MH dalam sradha dan bhakti (kalau redaksi mau memuat secara utuh) saya tidak mengatakan bahwa pemujaan terhadap Krishna yang  paling benar dan pemujaan kepada yang lain tidak membawa ke tujuan yang benar, ini adalah kesimpulan “cerdas” yang diambil oleh redaksi MH atas tanggapan saya. Dalam tanggapan saya, saya menulis “Kekeliruan yang mendasar dan menonjol mengenai istadewata di kalangan umat adalah menganggap masing-masing istadewata itu sama saja dan jika orang memuja istadewata yang berbeda akan sampai pada tujuan yang sama” dst). Kalau saya memuja Krishna, teman saya si A memuja Brahma, si B memuja Wisnu, si C memuja Siwa, si D memuja Ganesha, si E memuja Surya dan Redaksi MH memuja Agni, apakah redaksi MH menganggap pemujaan-pemujaan tersebut sampai pada tujuan yang sama? Kalau hasilnya sama, mohon bisa disebutkan referensinya dalam kitab level pertama. Maaf, masalahnya, dalam menulis karya ilmiah di kalangan akademik saja, kita dituntut untuk mencantumkan referensi dan daftar pustaka untuk setiap pernyataan yang kita tulis. Bukankah demikian?
  3. Di dalam mantra Rg Veda 1, 164,6:46 yang dikutip oleh redaksi MH, memang tidak ada nama Govinda atau Krishna. Tetapi redaksi MH saya nilai kurang jeli, karena dalam mantra tersebut, nama-nama itu diperuntukkan bagi “yang Satu”. Dan tugas redaksi MH mencari “yang satu” itu siapa? (maaf saya tidak tahu siapa “yang satu” itu karena saya baru tahu Hindu sedikit dari kitab suci level kedua atau ketiga yaitu Bagawadgita).
  4. Catatan yang diberikan oleh redaksi MH terhadap referensi Bhagavadgita yang menganggap kurang valid karena merupakan pustaka suci level kedua atau ketiga dan bukan kitab sruti, ini merupakan pandangan yang agak membingungkan. Masalahnya, adakah referensi tentang Hukum Karma, Reinkarnasi, dan Moksa,  atau Catur Marga, Catur Warna, dan lain-lainnya yang telah diyakini oleh umat Hindu di Indonesia itu dalam kitab Weda level pertama?? Mengapa Bhagavadgita disebut sebagai Pancamo Veda, Nyanyian Tuhan atau Kidung Ilahi? Mohon redaksi MH bisa menjelaskannya agar saya dan pembaca MH mendapat pencerahan.
  5. Memang menjadi hak redaksi untuk mengedit setiap tulisan yang masuk, tetapi tidak adil dan bijak-sana (profesional) kalau redaksi MH kemudian menganggap tanggapan yang diberikan oleh pembaca atas catatan-catatan yang diberikan oleh redaksi MH kemudian dianggap tidak relevan dan pantas sedangkan redaksi MH berhak menulis, memberikan catatan-catatan semaunya, apakah itu pantas atau tidak? Menurut tanggapan kalangan pembaca MH yang saya kenal, sudah dalam beberapa edisi, MH memberikan tanggapan yang boleh dikatakan cerdas, tapi belum menggambarkan nilai kearifan, kematangan dan kebesaran hati dalam menerima usulan dan pendapat yang berbeda. Tentu sangat disayangkan bila media sekelas Media Hindu, tanpa disadari telah mencitrakan dirinya kurang arif di kalangan pembaca setianya.  Mudah-mudahan komentar saya bisa diterima secara rasional. Maturnuwon.
Wawan Yulianto, Yogyakarta

Redaksi.
Sdr  Wawan Yulianto rupanya me-nganggap agama Hindu adalah agama imitasi. Dari keyakinan dasarnya, Panca Sraddha,  Tuhannya Sang Hyang Widdhi Wasa, doa ha-riannya, Tri Sandhya,  sampai libur nasionalnya untuk tahun baru Saka (Nyepi) meniru agama lain. Dari mana Sdr Wawan Yulianto dapat informasi ini atau apa dasar pendapatnya ini   tidak dijelaskan. Mungkin sekedar dugaannya saja, karena itu, tidak ada salahnya orang Hindu meniru iman dan takwa dari Islam, menjadi Sraddha dan Bhakti  karena toh Hindu hanya-lah agama imitasi. Apakah benar demikian? Mari kita lihat satu persatu.

Tanggapan untuk butir 1.
Panca Sraddha meniru konsep Rukun Iman dalam Islam dan Kristen.  Mari kita lihat dulu apa itu Panca Sraddha, rukun iman dalam Islam dan Kristen.
Panca Sraddha: (1) Percaya kepada Brahman, (2) Percaya kepada Atman, (3) Percaya kepada Hukum Karma, (4) Percaya kepada Punarbhava, (5) Percaya kepada Moksha.
Rukun iman Islam terdiri dari dari enam (6) pernyataan, yaitu,
(1) Beriman kepada ALLAH SWT, (2) Beriman kepada Malaikat-malaikat, (3) Beriman kepada Kitab-kitab, (4) Beriman kepada Rasul-rasul, (5) Beriman kepada Hari Kiamat
(6) Beriman kepada Qada dan Qadar

Rukun iman Kristen, terdiri dari 12 pernyataan.
(1) Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, khalik la-ngit dan bumi. (2) Dan kepada Yesus Kristus AnakNya Yang Tunggal, Tuhan Kita. (3) Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria. (4) Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan mati dan dikuburkan turun ke dalam kerajaan maut. (5)Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati. (6) Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa. (7) Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. (8) Aku percaya kepada Roh Kudus. (9) Gereja yang Kudus dan Am, persekutuan Orang Kudus, (10) Pengampunan Dosa. (11)  Kebangkitan Tubuh. (12) dan Hidup Yang Kekal.

Bagian mana dari rukun iman Islam dan pengakuan iman Kristen yang ditiru oleh kelima butir Panca Sraddha? Menurut kami, jumlahnya saja tidak sama, apalagi isinya.   

Hyang Widdhi meniru konsep keesaan Allah? Dari mana Sdr W. Yulianto mendapat pengetahuan ini?   Kepercayaan akan Tuhan Yang ESA atau Yang SATU sudah ada di dalam Veda dan Upanisad.  Logikanya Injil dan Quran yang mestinya meniru Weda, karena kedua kitab suci ini dibuat jauh setelah Weda dan Upanisad. Lagi pula yang ESA dalam Veda dan Upanisad tidak sama dengan Yang Esa dalam Quran dan Injil.  Yang ESA dalam Veda dan Upanisad bersifat pantheisme, Yang Esa dalam  Quran dan Injil bersifat monotheisme. 

Doa Trisandhya juga hasil meniru agama lain. Agama mana yang dimaksud oleh Sdr Wawan Yulianto, tidak dijelaskannya. Apakah salat Islam? Islam salat lima kali sehari. Kristen tidak melakukan sembahyang harian. Untuk diketahui di India Sandhya sudah dilaksanakan sejak sebelum Kristen dan Islam lahir. Hanya saja di India Sandhya ada yang melaksanakan tiga kali (3x) ada juga yang melaksananan dua kali (2x) sehari, makanya disebut Sandhya saja. (Lihat A  Concise Encyclopaedia of Hinduism).  

Libur Nasional untuk Tahun Baru Saka (Hari Raya Nyepi), juga meniru agama lain? Apanya yang ditiru? Ini adalah soal hak setiap pemeluk agama yang diakui di Indonesia untuk mendapat paling tidak satu hari libur nasional agar mereka dapat melak-sanakan ritualnya secara penuh.   

Jadi sama sekali tidak benar opini sdr Wawan Yulianto bahwa Panca Sradda, Sang Hyang Widdhi, Trisandhya, dan libur nasional merupakan tiruan. Ini hanyalah opini dari Sdr W.Yulianto yang tidak berdasar dan sesuai kriteria ”menulis karya ilmiah di kalangan akademik” kurang bertanggung jawab.   

Tanggapan untuk butir 2.
Tidak ada yang baru dari  opini Sdr. Wawan Yulianto tentang Istadewatanya. Dia hanya menegaskan Istadewatanya, hasil dia mencari-cari yaitu Krishna yang membawa kepada kebenaran. Dengan ini Wawan Yulianto menghina dan merendahkan Istadewata yang dipuja oleh mayoritas masyarakat Hindu, seperti Siwa, Ganesha, Rama, Shakti, Saraswati, dll, karena Istadewata yang mereka puja tidak membawa kepada kebenaran. Wawan Yulianto juga menghina Krishna, karena seolah-olah Dia mengajarkan arogansi picik semacam ini.  

Tanggapan untuk butir 3.
Hormat atas kejelian Sdr Wawan Yulianto, dan terima kasih atas penugasannya kepada kami untuk mencari Yang Satu. Dalam tanggapan untuk butir 1  sudah kami sebutkan siapa Yang SATU itu.  Dalam Mantra Rg Veda 1, 164,6:46 sudah disebutkan siapa Yang SATU itu, memiliki berbagai nama, dan nama Krishna tidak ada di sana. Nama Krishna baru muncul dalam Bhagawad Gita, kitab suci level kedua. Istilah level kedua tidak dimaksudkan untuk merendahkan, tetapi dalam hal terjadi pertentangan antara level dua dengan level satu, level satu yang berlaku.

Tanggapan untuk butir 4

”Masalahnya, adakah referensi tentang Hukum Karma, Reinkarnasi, dan Moksa,  atau Catur Marga, Catur Warna, dan lain-lainnya yang telah diyakini oleh umat Hindu di Indonesia itu dalam kitab Weda level pertama??” Ini menunjukkan Sdr Wawan Yulianto tidak pernah membaca Weda dan Upanisad. Ini menjelaskan mengapa Sdr Wawan Yulianto begitu sektarian sempit.  Semua butir Panca Sraddha, Yoga dan Asrama berasal dari Sruti, Kitab Suci level pertama, Yaitu Weda dan Upanisad. Silahkan anda baca referensinya  dalam buku  ”The Principal Upanisad” oleh S. Radhakrishnan (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Agus S. Mantik) atau ”The Vedic Experience” oleh Raimundo Panikkar, atau terjemahan lengkap Weda oleh Swami Satya Prakash Saraswati dan Satyakam Vidyalangkar, atau yang lebih sederhana, buku ”Saya Beragama Hindu.”

Tanggapan untuk butir 5.
Seperti anda ketahui, tugas utama redaksi adalah mengedit tulisan yang dianggapnya layak untuk dimuat. Bahkan juga merupakan tugasnya untuk menolak tulisan yang tidak layak dimuat, karena tidak memenuhi standar atau karena tidak sejalan dengan kebijakan redaksional. Ini merupakan tanggung jawab redaksi kepada para pembacanya, untuk menyajikan tulisan yang bermutu. 

Mengenai kebijaksanaan, baiklah kami kutip pendapat seorang filsuf kelahiran Rotterdam (1466-1553),   Desiderius Erasmus: ”orang bijaksana tidak lebih dari orang-orang yang membawa kekacauan, tidak populer dan tidak disukai justru karena mereka tidak perduli pada hal-hal praktis, pemikiran mereka yang jauh dari cara berpikir orang normal.” Anda atau kami boleh saja memiliki rumusan dan paham yang lain tentang apa itu kebijaksanaan. Tetapi terlepas dari itu, bila anda ingin terlibat dalam pertukaran pemikiran tentang agama Hindu, di samping anda harus siap dengan argumen-argumen yang bermutu, anda juga harus siap bahwa argumen anda difalsifikasi, dibuktikan kesalahan atau kelemahannya. Itulah prinsip dan metode Purvapksa, dan itu yang membuat pemikiran Hindu hidup dan bergerak maju. Jadi cerdas bukan lawan arif. Tidak cerdas bukan pula sekutunya. Tetapi purvapksa mungkin tidak cocok dalam lingkungan kultus, di mana ketundukkan dan kepatuhan adalah kearifan. Ini memang sejalan dengan ”sraddha dan bhakti.” Tetapi itu adalah kearifan yang menerima segalanya tanpa sikap kritis.  Rupanya banyak orang Hindu yang menjadi korban hegemoni wacana agama lain, terutama Islam dan Kristen.  Kami bertekad untuk mendekonstruksi pola pikir korban hegemoni ini. Kami ingin  orang-orang Hindu tampil dengan pemikirannya yang otentik, tampil sebagai orang Hindu otentik. Bukan orang Hindu imitasi. Sekedar menjadi Pak Turut.


Koreksi Dharma Santi di Maluku

Om Swastyastu,

Saya ingin mengoreksi berita de-ngan judul ”Dharma Santi Pertama Kali di Provinsi Maluku.” Seingat saya, mulai saya berdinas di Ambon dari tahun 2000 s/d sekarang pada saat Nyepi tahun 2001 sudah pernah dilaksanakan Dharma Santi dan itupun saya tidak tahu apa yang pertama atau yang ke sekian kalinya. Sebab tidak ada sumber yang memberi ke-terangan sebab pada waktu itu situasi masih dalam kerusuhan, umat kita sudah pada pindah tugas. Waktu itu yang melaksanakan Dharma Santi umat kita yang mayoritas anggota TNI/POLRI. Pelaksanaannya di Aula Yonif 733/Masariku yang sekarang menjadi Aula Denkav 5 hanya diha-diri pejabat Pemprov Maluku saja tidak mengundang pejabat dari Jakarta karena faktor situasi keamanan.

Ini saya sampaikan sebagai koreksi untuk menghargai jerih payah panitia waktu itu (2001) dan saya himbau kepada teman-teman yang me-nulis berita agar tidak mengada-ada. Seolah-olah umat Hindu di Ambon pasca kerusuhan melempem/tidak bergairah, padahal walau dalam situasi kerusuhan kita berusaha tampil sebagai pengayom dan memberi kesejukan kepada umat lain yang sedang bertikai. Mungkin si penulis dinas di Ambon belum lama, jadi tidak tahu apa yang kita laksanakan sebelumnya.
Demikian koreksi dari saya semoga Hindu tetap jaya di Nusantara ini.
Om Santi Santi Santi
I Wayan Suterman
Sekretaris PHDI Kab. Buru

Trackback(0)
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated on Saturday, 16 January 2010 01:43
 
Banner
Banner
Banner

Artikel Terbaru

Buku Tamu Terbaru

paud
om swastyastu perkenalkan saya made iwan irawan, dari palembang t...
Tuesday, 13 July 2010
Guest
Om Swatyastuwaduhh- waduhh !!!ada apa dengan Bali ??kok bisa banyank y...
Sunday, 04 July 2010
I Nyoman Rama Putra Iswara
Om Swastyastu, sebagai wakil mahasiswa STAHN Gde Pudja Mataram, saya u...
Sunday, 04 July 2010

Komentar Artikel Terakhir