Opini

Umat Hindu Dayak Kaharingan Kutai Barat Dambakan Balai Basarah

mh-educare

Kalau saja Hindu mengejar kuantitas, tentu keinginan ratusan KK warga Dayak Kaharingan Kecamatan Nyuatan dan sekitarnya di Kabupaten Kutai Barat (Kubar)untuk pulang ke Hindu tidak dibiarkan berlarut-larut. PHDI bukannya tidak merespons keinginan warga tersebut yang sudah mencuat kepermukaan beberapa tahun yang lalu.

Permasalahannya adalah pada SDM Hindu sendiri dan pendanaan. Siapa yang ditugaskan untuk membina mereka dan darimana sumber dana untuk mendatangi mereka yang berada di pedalaman Kalimantan Timur yang lokasinya berbatasan dengan Kalimantan Tengah.

Niatan warga Dayak Kaharingan itu sesungguhnya sudah terlayani namun sesuai dengan kemampuan yang ada. Ketua PHDI Kabupaten Kubar Drh. Wayan Narendra ternyata sudah melangkah dengan membentuk Kepengurusan PHDI Kecamatan Nyuatan dengan ketua PHDInya Bapak Tengkan. Iapun sudah menyuruh Ketua PHDI Kecamatan Nyuatan untuk mendata warga Dayak Kaharingan yang benarbenar ingin pulang ke Hindu dan hasilnya telah mendaftar 32 warga Dayak Kaharingan. .

Pembimas Hindu Kanwil Dep. Agama Prop. Kaltim Drs. A.A. Gede Raka Arditapun telah menugaskan seorang penyuluh agama Hindu di Kabupaten Kubar yakni Sumidi. Demikian pula Ketua PHDI Prop. Kaltim Drs. Putu Sukra MPH telah merencanakan kunjungannya dalam waktu dekat ke Kutai Barat.

Baru –baru ini Pengurus PHDI Kota Bontang menggelar Diskusi Panel eksistensi Hindu Dayak dengan mengundang tokohtokoh Dayak Kaharingan di Kabupaten Kubar dan Kabupaten Paser . Mereka ingin mengenal lebih dekat tentang Hindu Kaharingan dan berkeinginan untuk berbuat sesuatu untuk mereka.

Disela-sela berlangsungnya Diskusi Panel eksistesi Hindu Dayak tersebut, MH sempat berbincang dari hati kehati dengan Ketua PHDI Kecamatan Nyuatan Bapak Tengkan.

“Sesungguhnya ratusan umat Dayak Kaharingan yang berkeinginan untuk pulang ke Hindu. Mereka berkumpul seminggu sekali yakni setiap hari Selasa. Karena hari itu adalah saat pasaran. Mereka datang membawa hasil pertaniannya untuk dijual kepasar. Usai berjualan baru bisa kumpul-kumpul membicarakan sesuatu. Sayang sekali kita tak punya tempat berkumpul atau Balai Basarah sebagai tempat untuk bersembahyang atau berserah diri kehadapan Hyang Widhi. Mereka rada enggan kalau dikumpulkan dirumah salah seorang warga, apalagi tempat tak begitu luas. Lain halnya kalau kita mempunyai tempat tersendiri saya mempunyai keyakinan akan bertambah banyak mereka mendaftar untuk pulang ke Hindu “ ujar Pak Tengkan serius.

a juga menyadari bahwa saat ini PHDI Kabupaten Kubar sedang membangun Pura Jagat Natha Sendawar Agung yang membutuhkan begitu banyak dana. Namun demikian rupanya umat Hindu Kaharingan di Desa Intu Lingau Kecamatan Nyuatanpun perlu perhatian umat sedharma mumpung mereka belum begitu terpengaruh jurus-jurus jitu para misionaris agama lain.

Sementara bangunan Balai Basarah yang mereka inginkan minimal 8 x 8 meter terbuat dari kayu ulin yang menurut pak Tengkan belum begitu sulit mencarinya dibandingkan dengan didaerah-daerah lainnya.

Untuk mendatangi tempat itu harus menggunakan mobil khusus medan berat utamanya kalau musim hujan dengan sistem carter. Kalau naik ojek biayanya antara l00 sampai 200 ribu. Jika musim kemarau kendaraan yang kesana sejenis pick up dengan tarikan ongkos antara 50 hingga l00 ribu rupiah.

keinginan berkunjung kesana guna merlihat lebih dekat keberadaan umat Hindu Kaharingan yang baru pulang ke agama leluhur yakni Hindu? Pak Tengkan mempersilakan MH sembari menyerahkan nomor hp 081253596236.

bukalapak

tokopedia
To Top