Redaksi MH

Politik, Ruang Publik, Hak Azasi dan Kembali ke Dasar

mh-educare

nppIni adalah bagian akhir dari seri ”Masa Depan Agama Hindu.” Empat penulis menyumbang untuk seri ini. Mereka adalah Brian K. Pennington, Gavin Flood, Arvind Sharma, dan Suhag A. Shukla.

Brian K. Pennington bicara tentang studi, politik dan imigrasi orang Hindu. Mengenai politik nasional India, ia berpendapat, bisa merupakan suatu bisnis kotor dan susah diatur, tetapi tempat yang aman dari demokrasi dalam kerangka masyarakat India tetap tidak tertandingi. Religiusitas kuat dari orang-orang India dari tiap komunitas juga berarti bahwa agama dapat dimanipulasi oleh para pemimpin partai yang tidak berprinsip untuk menyemaikan kebencian dan kecurigaan antara kelompok religius berbeda.

Representasi politik masyarakat Hindu India adalah Bharatiya Janata Party disingkat BJP (Partai Rakyat India), satu dari dua partai politik utama India, yang lainnya adalah Indian National Congress. Didirikan tahun 1980, BJP, beraliansi dengan beberapa partai lian, berkuasa dari 1998 sampai 2004. .

Gavin Flood bicara tentang peran Hindu di ruang publik. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh Agama Hindu adalah caranya hadir di ruang publik dan cara ia telah dipolitisasi pada tahun terakhir ini. Istilah ’Hindu’ sering kali berhubungan dengan politik komunal di India. Organisasi-organisasi agama seperti VHP dan RSS telah meng-hubungkan istilah ’Hindu’ dengan suatu visi khu-sus India sebagai suatu bangsa Hindu. Pandangan ini berlawanan dengan pandangan India sebagai negara sekuler yang ingin menurunkan agama (Agama Hindu) kepada ranah privat dan membatasi dunia publik murni kepada pemerintahan.

Arvind Sharma berbicara tentang ketidakadil-an masa lampau dan peluang masa kini dan meng-hubungkan Agama Hindu dan hak azasi manusia. Wacana hak azasi manusia secara umum perlu secara serius menyelesaikan isu tentang perbaikan dari kesalahan historis. India atau Hindu pernah dijajah selama 10 abad oleh bangsa dan agama asing. Selama masa penjajahan itu jutaan orang India meninggal dunia, karena dibunuh atau diperkosa dan diperbudak, kebudayaannya, termasuk puluhan ribu mandir dirusak dan dijarah. Ini adalah pelanggaran hak azasi luar biasa. Tetapi masalah ini dihindari atas dasar bahwa kesalahan-kesalahan itu menjadi milik suatu periode sebelum pendirian rezim hak azasi manusia dan oleh karena itu jatuh di luar bidangnya.

Banyak intelektual Hindu bertanya, bila orang Yahudi memiliki monumen holocaust di Jerman, Polandia, AS dan Israel sendiri untuk enam juta warga-nya yang dibunuh oleh Hitler dalam PD II, mengapa tidak ada menumen semacam itu untuk jutaan orang India yang dibunuh oleh Aurangzeb dkk di India?

Tetapi untuk apa monumen semacam itu? Apakah tidak sebaiknya mereka memaafkan dan melupakan? Kita fokuskan perhatian ke masa depan saja? Memaafkan harus dan pasti! Tetapi melupakan? Tidak ada bangsa beradab di dunia ini yang melupakan sejarahnya.? Suatu bangsa tidak akan bisa bergerak ke de-depan bila tidak berakar pada masa lalunya. Bangsa yang melupakan sejarahnya akan dikutuk untuk mengulangi sejarah itu. Bangsa yang memanipulasi atau menutup-nutupi sejarahnya berdiri di atas landasan yang goyah, di atas kebohongan. Setiap bangsa memelihara memori kolektif masa lalunya dalam buku sejarah atau monumen yang mereka dirikan. India, jangankan memiliki monumen untuk menghormati para korban itu, sejarahnya pun dimanipulasi oleh para sejarahwan kiri yang disukai pemerintah, para penyerbu itu malah dianggap pembebas. Membebaskan dari apa? Pembebas atau penjarah? Ini adalah pertanyaan yang tidak pernah dijawab secara tuntas oleh orang-orang Hindu India. Aurangzeb menjadi salah satu nama jalan utama di pusat pemerintahan India.

Suhag A. Shukla menyatakan orang-orang Hindu di India belajar agama dari praktik. Hari-hari dimulai dengan doa-doa, persembahan, kunjungan-kunjungan ke mandir dan upavasa mingguan sama seperti tindak-an sehari-hari mengambil suatu galon susu di toko bahan makanan. Hari raya agama juga liburan nasional dan setiap sanak keluarga, tetangga, penjaga toko, dan penarik becak memasuki semangat itu dan ikut serta di dalam perayaan-perayaan rumit yang sekaligus budaya dan religius.

Ini hampir sama dengan orang-orang Hindu di Indonesia. Mereka lebih banyak mempraktikkan dari pada mempelajari agamanya, kata antropolog terkemuka AS, Clifford Geertz. Orang-orang Hindu di India, dan Indonesia (terutama Bali) tumbuh dalam zone nyaman mayoritas yang tidak realistis. Ketika keluar dari zone nyaman dan menjadi minoritas dalam budaya dan keyakinan lain, ada dua kemungkinan, mereka terbawa hanyut lenyap terserap dalam keyakinan baru atau mulai sadar untuk mempelajari agamanya.

Ngakan Putu Putra.

bukalapak

tokopedia
To Top