Redaksi MH

Sakti

mh-educare

nppDalam percakapan umum kata “sakti” sering diartikan sebagai kekuatan supernatural, atau kuasa gaib, misalnya kemampuan berjalan di atas air, menyembuhkan penyakit dengan jampi-jampi saja. Jika dikaitkan dengan agama Hindu, masih dalam pengertian umum “Sakti adalah Dewi atau istri Dewa”. Misalnya Saraswati istrinya Brahma, Laksmi istrinya Wisnu, Durga istrinya Shiwa. Tetapi di balik arti harfiah suami-istri ini sebenarnya ada makna filosofisnya. Atau hubungan suami istri ini sebenarnya adalah cara mudah untuk menjelaskan kepada mayarakat banyak tentang prinsip berpasangan mengenai penciptaan, pemeliharaan dan peleburan semesta: penciptaan memerlukan ilmu pengetahuan, pemeliharaan memerlukan ”kekayaan’; peleburan atau relina memerlukan kuasa untuk menghancurkan.

Alam semesta ini sebetulnya satu bundel energi, baik dikemasi atau dibungkus maupun tidak. Inilah penemuan dari ilmu pengetahuan modern, yang menghapuskan perbedaan antara materi dan energi. Menurut penemuan ini, hanya ada satu energi dasar di balik semua bentuk-bentuk materi dan energi. Namun masih tetap ada pertanyaan mengenai hubungan materi di satu sisi dengan hidup (prana) dan benak (manas) di sisi lain. Apakah mereka, sekalipun kelihatan terpisah sangat jauh, merupakan manifestasi dari satu energi dasar yang sama? Mungkinkan dia adalah materi dan energi yang sama, pada satu level vibrasi, disebut ”materi”, pada level yang lain disebut ”manas” (benak) dan pada yang lain lagi disebut ”prana” (hidup). Ilmu pengetahuan dan para ilmuwan modern, yang memusatkan perhatiannya pada dunia wujud (disebut ilmu positivistik, empiris, naturalis atau materialis) mungkin tidak siap mengakui hal ini. .

Filsafat Hindu, didasarkan atas Vedanta dan beberapa kelompok karya lain dikenal sebagai Tantra mendalilkan secara tepat hal ini. Sumber penciptaan dan pemeliharan dari semuanya, apakah pada level materi atau hidup atau benak, hanya satu. Itu adalah sakti (= energi). Brahman yang Mutlak dari Vedanta dan Sakti atau Dewi dari Tantra adalah sama.

Ketika energi dalam keadaan statis, tidak dalam keadaan evolusi atau devolusi, ketika alam semesta yang akan diciptakan bahkan tidak di dalam bentuk biji (bibit), ia disebut Brahman. Ketika ia mulai bergerak ke dalam penciptaan, memeliharanya dan menariknya kembali ke dalamnya, ia disebut Sakti. Bila Brahman adalah naga melingkar yang sedang tidur, Sakti adalah naga yang sama ketika bergerak. Bila Brahman adalah api, Sakti adalah adalah panas yang memiliki kekuatan untuk membakar. Keduanya tak dapat dipisahkan; satu dalam dua dan dua dalam satu.

Di dalam literatur mitologi Hindu, dan juga di dalam Tantra, energi ini selalu digambarkan sebagai Dewi, aspek feminin dari Tuhan. Dan para Dewi ini dianggap sebagai pasangan atau istri dari para Dwa seperti disebut di atas.

Pemujaan atau kultus Ibu bukanlah suatu yang asing di dalam agama Weda. (Swami Harshananda: A Concise Encyclopaedia of Hinduism). Apakah implikasi sosiologis dari konsep mitologis dan filosofis ini?

Louis Francois Jacolliot (1837-1890) pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan di Chandranagar, dalam pemerintahan Perancis di India, dan menerjemahkan banyak kidung-kidung Veda, Manusmriti, dan kitab suci Tamil, Kural. Karya agungnya, La bible dans l’Inde, (1869) menimbulkan badai kontroversi. Ia adalah penulis dari Krishna and Christ (1874). Dalam bukunya Bible in India: Hindoo origin of Hebrew and Christian revelation (Alkitab di India: Asal-muasal Hindu dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (1870) menulis : “India dari Veda memberikan rasa hormat mendekati pemujaan kepada kaum perempuan; suatu fakta yang kita di Eropa nampaknya sedikit curiga ketika kita menuduh Timur yang ekstrim menyangkal martabat perempuan, dan hanya membuatnya satu instrumen untuk kesenangan dan ketaatan pasif.”

Ia juga berkata: “Apa! Ini adalah suatu peradaban, yang tidak bisa anda sangkal lebih tua dari peradaban anda sendiri di mana perempuan sederajat dengan laki-laki dan memberi kepada mereka satu tempat sama di dalam keluarga dan di dalam masyarakat.”

Bagaimanapun harus diakui, ini baru pada tataran ideologis atau teologis. Sering kali antara tataran cita-cita atau teologis dengan tataran praktik terdapat jarak yang cukup jauh. Tetapi jauh lebih mudah menyesuaikan praktik kepada prinsip, dari pada sebaliknya. Tinggal kemauan untuk mengubah praktik saja, tanpa perlu menekuk-nekuk atau membengkok- bengkokkan prinsipnya.

Ngakan Putu Putra.

bukalapak

tokopedia
To Top