mh-educare
Liputan Nasional

Ngenteg Linggih Pura Guna Kerta Jaya Di Bromo-Tengger

Rabu Pahing 8 Juni 2011, suasana penuh kedamaian dirasakan oleh umat Hindu Tengger, khususnya masyarakat dusun Kertoanom, Desa Tosari, sebab pada hari itu dilaksanakan Ngenteg Linggih Pura Guna Kerta Jaya. Upacara ini terangkai dalam Upacara Melaspas, Piodalan dan Ngenteg Linggih yang dipuput oleh Romo Pandita Puja Brata Sejati dan Romo Pandita Dukun Asta Brata. Untuk itu, persiapan dilakukan satu minggu sebelum hari pelaksanaan. Masyarakat Hindu setempat menyiapkan sesaji yang dikoordinir oleh pemangku dan ibu-ibu.

Sehari sebelumnya, dilaksanakan upacara Melasti atau mengambil air suci ke Goa Widodaren, sebuah sumber mata air, bersebelahan dengan kawah gunung Bromo. Malam harinya dilaksanakan dharma tula yang di sampaikan oleh Romo Pandita Puja Brata Sejati dan Romo Wijoyo dari Sidoarjo. Dharma tula itu dihadiri oleh ketua Parisada kabupaten Pasuruan, pemangku, dan juga umat Hindu setempat. Antusiasme umat terlihat ketika acara dharma tula dimulai, banyak sekali pertanyaan yang muncul yang sampaikan kepada Romo Pandita Puja Brata Sejati dan Romo Wijoyo. Setiap pertanyaan dijawab dengan jelas dan lugas, menjawab semua kegundahan dan keragu-raguan umat akan pemahaman ajaran agama Hindu selama ini. .

Dalam upacara ini tampak dihaturkan di depan 10 jenis sesaji Jawa khas Tengger, diantaranya: Pras, Pras Among, Pras Semoa, Pras Tebusan, Pras Tanpa Sepura, Pras Gurih dan lainlain. Sesaji ini dipersiapkan oleh umat yang dibantu oleh sepuh dan legen yang mendampingi Romo Pandita Dukun Asta Brata. Sedangkan banten Bali yang disajikan terdiri dari: pejati, daksina gede, prayascita, pabyakala, ajengan pandita, caru dan lain-lain. Banten ini dipersiapkan oleh pemangku Pura yang dibantu oleh umat Hindu asal Bali yang tinggal di Tengger. Upacara ini dilaksanakan sangat sederhana, namun tidak mengurangi makna. Karena hanya dengan biaya Rp. 2,500,000.- (dua juta lima ratus ribu rupiah), yang dikumpulkan melalui punia bhakti umat setempat. Dan sebagian besar umat yang tidak dapat berdana punia secara materi, mereka menghaturkan punia berupa palawija, sayur-mayur dan dan ternak unggas.

Upacara berjalan lancar diikuti dengan penuh kesungguhan oleh umat Hindu, aroma kesakralan dan kedamaian terasa sangat kental sejak awal hingga upacara berakhir. Dan tidak sedikit umat yang hadir menitikkan airmata, selama upacara berjalan. Tampaknya biaya yang relatif kecil ini tidak mengurangi kualitas hasil yang diharapkan.

bukalapak

tokopedia
To Top