Kajian Filsafat

Otak Etik Jawa dalam Cerita Aji Saka

mh-educare

Oleh Miswanto

Sejarah Jawa tentu tidak akan mengabaikan cerita Aji Saka yang banyak disebutkan dalam kesusastraan Jawa. Cerita ini memang masih menjadi misteri antara ada dan tiada mengingat nama Aji Saka tidak ada dalam silsilah raja-raja tanah Jawa. Namun demikian cerita Aji Saka ini dianggap sebagai landasan mitologis-historis dari keberadaan aksara Jawa.

Dalam mitologi Aji Saka, Jawa dikatakan masih “kosong” sebelum kedatangan Aji Saka atau yang juga dikenal sebagai Empu Sengkala. Ki Ranggawarsita dalam Serat Paramayoga menuliskan bahwa mulanya Aji Saka adalah seorang raja dari negeri Surati di Hindustan pada masa Pancamakala. Setelah madeg pandita beliau bergelar Empu Sengkala (Berg, 1974).

Empu Sengkala mempunyai 2 orang murid yang bernama Dora dan Sembada. Dalam banyak tulisan tentang Jawa, Dora disebutkan sebagai murid yang suka berbohong, sedangkan Sembada dikenal sebagai murid yang setia dan jujur. Setelah mendapat petunjuk dari para dewa agar melaksanakan dharmayatra ke Jawa, Sang Empu pun berangkat bersama muridnya yang bernama Dora demi tugas suci tersebut. Namun, sebelum berangkat ia memberikan mandat kepada Sembada untuk menjaga keris pusakanya. Ia berpesan agar keris itu jangan diberikan kepada orang lain selain dirinya sendiri. .

Ketika Empu Sengkala melaksanakan perjalanan suci tersebut, Pulau Jawa kala itu dikuasai oleh raja berwatak raksasa yang kejam dan suka makan manusia. Raja ini dikenal dengan nama Dewatacengkar. Sesampainya di Jawa Empu Sengkala tergerak untuk membebaskan tanah Jawa dari hegemoni kekuasaan raja tersebut. Singkat cerita, Empu Sengkala berhasil mengalahkan Dewatacengkar berkat destar-nya.

Setelah berhasil mengalahkan Dewatacengkar, Empu Sengkala pun naik tahta menjadi raja tanah Jawa dan bergelar Prabu Aji Saka. Dalam waktu yang tidak lama Prabu Aji Saka berhasil menata perikehidupan di tanah Jawa. Selanjutnya, karena kesibukannya sebagai raja, maka Sang Aji Saka mengutus Dora untuk mengambil keris pusakanya pada Sembada. Tetapi ia lupa akan pesannya pada Sembada agar keris itu tidak diberikan kepada orang lain selain dirinya sendiri.

Sembada tidak mau menyerahkan keris pusaka dengan alasan untuk menjaga mandat sang Guru. Akhirnya, terjadilah peperangan sengit antara Dora dan Sembada yang sama-sama mendapat tugas dari Aji Saka. Peperangan ini berlangsung selama berhari-hari dan berakhir dengan kematian kedua utusan itu.

Merasa khawatir setelah sekian lama tak ada kabar dari kedua muridnya maka Aji Saka mengutus dua orang punggawanya, Duga dan Prayoga untuk membawa Dora dan Sembada menghadap Aji Saka. Duga dan Prayoga pun berangkat untuk menemui Dora dan Sembada. Namun mereka menemukan keduanya sudah meninggal. Lalu mereka pulang dan menyampaikannya kabar kematian kedua murid Aji Saka itu. Mendengar kabar itu, Aji Saka pun kaget dan merasa bersalah. Dalam suasana kesedihannya itu Sang Aji Saka menandai kematian kedua muridnya itu dengan carakan aksara Denta Wyañjana yang kini dikenal sebagai Aksara Jawa.

Carakan aksara Jawa tersebut terdiri atas 20 buah aksara yakni HaNaCaRaKa, DaTaSaWaLa, PaDHaJaYaNYa, MaGaBaTHaNGa. Jika diartikan, maka carakan aksara Jawa tersebut akan menggambarkan cerita tentang Dora dan Sembada sebagai- mana telah diungkap sebelumnya. Kata hanacaraka berarti ada utusan; datasawala berarti terus-menerus (berkelahi); padhajayanya artinya sama-sama kuat; dan magabathanga berarti sama-sama menemui ajalnya.

Jika dikaji lebih lanjut dengan pendekatan Othak Athik Matuk (OAM) Jawa yang merupakan metode dalam epistemologi Jawa, maka cerita Aji Saka ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Otak Etik Jawa (OEJ) itu sendiri. Karena sebelum kedatangan Aji Saka, Jawa dikatakan masih ”kosong” dalam artian peradabannya. Dan Aji Saka-lah yang menjadi otak lahirnya peradaban Jawa itu sendiri.

Secara etimologis, kata aji sebenarnya merupakan manifestasi dari ilmu pengetahuan. Kata ini dapat diartikan sebagai ”kitab suci/Weda”. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam cuplikan- cuplikan pada sastra dan susastra Hindu yang sering menuliskan kata ”ling ning aji” untuk menyatakan ”kata atau sabda Weda”. Lalu kata ”saka” berasal dari akar kata ”sak” yang berarti ”membawa”. Kata ”saka” sendiri dapat diartikan sebagai ”tonggak atau tiang”. Pada perumahan Jawa tempo dulu dan juga rumah adat Bali, saka adalah tiang yang digunakan sebagai penyangga rumah. Dengan demikian maka kata ”aji saka” dapat dimaknai sebagai ”orang yang membawa, mengemban dan memegang teguh kitab suci atau ilmu pengetahuan sebagai tiang penyangga kehidupannya”. Hindu memandang orang yang demikian dikatakan sebagai orang yang selalu bertongkatkan sastra (ateken ring sastra).

Di samping itu, dalam cerita Aji Saka ini terdapat beberapa nama tokoh, setting dan instrumen yang mempunyai makna filosofis terkait OEJ. Adapun nama-nama yang dimaksud adalah Medang Kamulan, Dewata Cengkar, destar pandita atau brahmana, Dora Sembada, Duga Prayoga dan Aksara. Berikut penjelasan dari masing-masing nama tersebut.

Medang Kemulan, berasal dari kata ”meda” yang berarti ”kebutaan atau nafsu” dan ”mula” yang berarti ”asal”. Artinya pada mulanya negara ini adalah negara yang penuh dengan kebutaan atau kegelapan (awidya) sebelum kedatangan Aji Saka.

Dewata Cengkar melambangkan orang yang telah memisahkan diri atau melakukan perbuatan makar terhadap dewata (Tuhan). Hal ini sebagaimana arti asal kata ”cengkar” berarti ”cerai-berai, makar ” dan kata ”dewata” yang berarti ”Tuhan beserta manifestasi- Nya”.

Destar dari brahmana yang bernama Aji Saka ini mengisyaratkan pada buddhi atau kecerdasan itu sendiri. Dengan buddhi maka Dewata Cengkar dapat dikalahkan. Kemudian kata ”brahmana” mengandung maksud orang yang selalu mencari pengetahuan untuk mencapai jiwa tertinggi.

Dora oleh masyarakat Jawa sudah divonis sebagai orang yang jahat dan suka menipu. Penafsiran semacam ini perlu diluruskan karena tidak mungkin brahmana sekaliber Aji Saka mau menerima murid seperti Dora. Dan tidak ada tradisi Parampara di India yang menerima murid tanpa melihat dedikasi mereka terlebih dahulu (Lihat Cerita Bhagawan Dhomya dan ketiga muridnya dalam Adiparwa).

Kata ”dora” ini bertalian secara filologis dengan kata Sanskerta ”dora” yang berarti ”sebuah tali”. Sementara itu kata ”sembada” berkaitan erat sengan kata Sanskerta ”sambadha” yang berarti ”tekanan, sukar” dan kata ”sambodha” yang artinya ”kesenangan”. Jadi sesungguhnya tali yang mengikat manusia dalam kehidupan itu berupa kesenangan duniawi yang sukar untuk dihilangkan. Namun setelah Dora dan Sembada tewas dalam pertempuran timbulah aksara Jawa. Ini merupakan pralambang bahwa untuk mencapai kehidupan yang kekal atau abadi maka seseorang perlu meninggalkan ikatan yang berupa kesenangan indriawi.

Kata duga prayoga dalam pemahaman masyarakat Jawa saat ini mempunyai makna sopan santun. Akan tetapi terkait dengan makna filosofis matinya Dora Sembada dan penciptaan aksara Jawa, secara harfiah kata ”duga” dapat diartikan ”hasil akhir” (dari kata Sanskerta ”dugha”). Sedangkan kata prayoga berasal dari dua kata para dan yoga. Kata ”para” dapat diartikan ”jauh atau paling tinggi”. Sementara kata ”yoga” dapat diartikan sebagai ”penyatuan, hubungan atau kontak.” Dengan demikian kata prayoga di sini bisa diartikan sebagai penyatuan atau hubungan mistis yang tertinggi (manunggaling kawula lan gusti).

Secara filosofis Duga dan Prayoga tersebut mengisyaratkan hasil akhir (sesuai dengan makna yang terkandung pada namanya) dari pencarian ilmu pengetahuan bagi seorang brahmana yang bernama Aji Saka. Buktinya pada cerita Aji Saka tersebut, mereka hanya disebut-sebut pada akhir cerita setelah kematian Dora dan Sembada yang dimaknai sebagai lenyapnya kesenangan indrawi pada orang yang selalu menggunakan pengetahuan suci sebagai tongkat atau tiangnya (Aji Saka).

Instrumen yang terakhir adalah aksara. Kata ini berasal dari kata Sanskerta ”aksara” yang berarti ”abadi, kekal atau kebahagiaan”. Aksara adalah suatu kebahagiaan dalam kehidupan di alam maya ini. Ia juga lambang kehidupan yang abadi.

Jika dirangkaikan dari awal hingga akhir maka cerita Aji Saka tersebut melambangkan pendakian puncak keabadian (aksara) oleh seorang pencari ilmu pengetahuan (brahmana) yang selalu berpedoman pada sastra suci (Weda) sebagai pegangan hidupnya (aji saka). Pendakian ini diawali dengan melenyapkan ketidakpercayaan terhadap Tuhan (Dewata Cengkar) atau atheisme dan selalu mengendalikan kebutaan nafsu (medang kamulan). Kemudian yang terakhir adalah dengan melenyapkan kesenangan indrawi sebagai ikatan duniawi (dora – sembada). Barulah ia dapat mencapai hasil akhir yang berupa penyatuan mistis atau manunggal dengan Gusti atau Tuhannya (duga –prayoga). Jika semua itu sudah dijalani dan dialami maka ia pun akan mencapai puncak kesempurnaan (moksa) atau kehidupan yang kekal dan abadi selamanya (aksara). Kesemuanya itu pada dasarnya merupakan OEJ dimana menjadi sumber pemikiran (otak) bagi orang-orang Jawa agar lebih beradab dan beretika.

bukalapak

tokopedia
To Top