Redaksi MH

Sang Yajamana yang Congkak Harus Dipenggal Kepalanya

mh-educare

nppDahulu, ketika saya masih kecil, persiapan ngaben, bisa memakan waktu empat sampai enam bulan. Tiap-tiap keluarga membuat upacaranya sendiri, lengkap dengan bade dan pewatangannya dalam bentuk lembu, singa atau ikan. Pada hari H kuburan meriah sekali, mirip sebuah pesta, bukan upacara kematian. Puluhan bade dan pewatangan yang megah dan indah, yang disiapkan berbulan-bulan dengan biaya mahal, sebentar lagi lenyap sekejap ditelan kobaran api suci.

Manusia bukan hanya homo economicus, tetapi juga homo sentien, yang selalu terlibat secara sosial, dan homo religiosus. Tindakan keagamaan sering kali dianggap tidak patut dinilai dengan uang.

Tetapi Kala, waktu, merubah segalanya. Sekitar lima belas tahun yang lalu, orang-orang desa saya mulai mengadakan upacara ngaben bersama, melalui banjar. Pada awalnya saya ingin ngabenkan ayah saya di rumah sendiri, bersama keluarga saya yang punya sawe. Ayah saya meninggal sekitar tiga tahun sebelumnya dan dititip di kuburan (mekingsan di pertiwi). Tetapi keluarga besar saya terpecah dalam empat banjar dan mereka harus ikut banjarnya masing-masing. .

Tanpa didukung tenaga yang cukup, ngaben sendiri tidak mungkin. Saya akhirnya memutuskan ikut ngaben bersama banjar. Setiap sawe kena iuran sebesar tiga ratus ribu rupiah. Karena saya hidup di rantau, dan karena itu jarang ngayah di desa, sebagai kompensasi, saya menyumbang satu bade bertingkat sembilan, seharga satu juta rupiah, untuk sekitar 30 sawe dalam pengadeg-adeg. Bila ngaben sendiri saya bisa menghabiskan biaya sepuluh kali lipat.

Baru-baru ini paman saya juga diaben bersama di banjar. Kena iuran tiga juta rupiah. Ini sangat ringan dibandingkan dengan ngaben sendiri.

Bila dilihat dari sini, ada arus kepada penyederhanaan upacara. Tetapi seorang teman mengatakan, sebagai keluarga puri, ia belum dapat melaksanakan ngaben secara sederhana. Seorang teman lain, yang baru mengklaim kebangsawanannya, menghabiskan biaya satu milyar rupiah untuk mengabenkan ayahnya.

Dari seluruh batu penjuru dalam perjalanan hidup manusia, kematian adalah yang terpenting bagi orang Bali. Upacara kematian adalah yang paling banyak dan paling besar. Di sana ada pengormatan kepada orang tua, ada kewajiban menjaga wi-
Sang Yajamana yang Congkak Harus Dipenggal Kepalanya bawa keluarga. Meminjam istilah Michel Foucault, filsuf posmodern Perancis, di dalam setiap tindakan manusia, termasuk ngaben, ada relasi kuasa. Di sana ada ambisi sosial, gengsi sosial. Tidak masalah, bila disertai dengan tanggung jawab sosial. Para pandita juga merasa lebih berwibawa bila pernah muput ngaben dengan naga banda.

Yajna artinya pengorbanan tanpa pamerih. Namun di baliknya terdapat kegiatan bisnis, semacam ekonomi kerakyatan! Ngaben, seperti semua upacara lainnya, memerlukan sarana seperti ayam, itik, telur ayam, telur itik, babi, beras, buah-buahan, terutama pisang dan kelapa, daun kelapa, bunga dan juga banten yang sudah jadi. Ini adalah bisnis besar, yang menghidupkan perekonomian rakyat, bila saja peluang ini dapat ditangkap oleh orang Bali sendiri.

Tulisan deskriptif di atas akan tutup dengan renungan filosofis dari Prof Sarvepalli Radhakrishan: Praktek-praktek ritual ditafsirkan kembali. Ritual adalah untuk mempersiapkan pikiran bagi realisasi spiritual, mempertajamnya untuk menembus selubung dari yang terbatas dan untuk mencari kelepasan di dalam identifikasi dengan Realitas Yang Tertinggi.

Jika upacara-upacara dilaksanakan tanpa pengetahuan tentang artinya, mereka bukan hanya sia-sia tetapi berbahaya. Sang yajamana, pelaksana upacara yang congkak mungkin kepalanya harus dipenggal. Semua orang melakukan upacara, tetapi ketika melaksanakan dengan pengetahuan tindakan itu menjadi lebih efektif.

Meditasi atas arti yadnya kadang-kadang menggantikan upacara korban itu. Janaka bertanya kepada Yajnavalkya: ’Andaikan anda tidak punya susu atau beras atau jewawut untuk melaksanakan agnihotra, upacara korban api, dengan apa anda akan melakukannya’? ’Dengan buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang ada’. ’Jika itu juga tidak ada’? ’Dengan air.’ ’Bila tidak ada air’? ’ bila memang tidak ada apapun di sini, ini yang akan dipersembahkan: kebenaran dalam keyakinan’.

Ketika hati secara penuh dibujuk, ada makna kecil tentang upacara korban. Pengorbanan kehidupan menjadi manifestasi alamiah dari jiwa baru. Pengorbanan sadar-diri, dengan beban rasa-benardiri dan harapan akan penghargaan bagi diri sendiri, tidak banyak gunanya. (The Basic Writings, hal 167). Ngakan Putu Putra.

bukalapak

tokopedia
To Top