Redaksi MH

Figur Pemimpin Parisada

mh-educare

nppSatu masa kepengurusan Parisada segera akan berakhir pada bulan Oktober 2011. Catatan berikut sebagai bahan introspeksi.

Pada awal masa bhaktinya terjadi gejolak di dalam Pengurus Harian. Dalam 53 tahun sejarahnya, baru pada periode ini saya dengar seorang Ketua Umum dipetisi oleh beberapa ketua agar mengundurkan diri. Tetapi konflik internal ini dapat diselesaikan dalam satu rapat bersama, para pimpinan Pengurus Harian, Sabha Pandita, Sabha Walaka enam bulan kemudian di Denpasar.

Hal tersebut tidak berkaitan dengan kapabilitas atau integritas Ketua Umum. Made Gede Erata adalah seorang doktor di bidang perpajakan, mencapai karir cemerlang di Departeman Keuangan. Masalahnya adalah waktu. Sebagai pejabat tinggi di departemen penting ini, Dr Erata tidak mempunyai cukup waktu untuk mengurus Parisada. Dan mungkin ditambah sedikit dengan gaya kepemimpinan.

Kalau begitu mengapa mau jadi ketua umum Parisada? Sebetulnya ini bukan inisiatif pribadinya. Tetapi karena adanya permintaan dan dorongan dari orang lain. .

Orang-orang seperti Dr Erata seharusnya dibiarkan memusatkan perhatiannya pada tugasnya. Kalau mereka sukses di tempat tugasnya, secara langsung atau tidak akan membawa nama baik bagi umat Hindu.

Catatan ini tidak bemaksud mengatakan bahwa Pengurus Parisada periode 2006 – 2011 tidak punya prestasi. Malah sebaliknya. Parisada di bawah kepemimpinan Dr Erata berhasil merenovasi gedung kantor yang cukup bagus di Slipi, Jakarta, berkat bantuan dana sepenuhnya dari Ditjen Bimas Hindu. Parisada mempunyai program bea siswa untuk mahasiswa di perguruan tinggi tertentu dan program asuransi kesehatan bagi para Pandita dan Pinandita. Untuk kedua program ini, peran Ir. Wayan Alit Antara, sebagai ketua BDDN, patut dicatat.

Seorang kawan yang sering terlibat dalam kegiatan satu lembaga Katolik, bercerita kepada saya, bagaimana para pastor sangat dihormati di dalam lembaga ini. Pendapatnya sangat menentukan di dalam setiap keputusan yang diambil. Lihat saja penampilan mereka dalam forum-forum lintas agama atau peristiwa-peristiwa penting nasional. Pendapat mereka terkait masalah kemasyarakatan dan kenegaraan sering dikutip media massa. Kebanyakan mereka berpendidikan tinggi, tidak jarang S2 atau S3 filsafat.

Di dalam struktur kepengurusan KWI, para pastorlah yang memegang jabatan-jabatan penting. Umat awam juga dilibatkan untuk hal-hal teknis, sebagai ahli, yang memang ahli dalam bidangnya, bukan orang yang sekedar mencari-cari kesibukan.

Hal yang sama juga sebetulnya kita harapkan dari para Pandita, terutama yang menjadi pimpinan dan anggota Sabha Pandita. Tapi untuk sekarang cukuplah mereka diberi status tinggi dengan wewenang kecil.

Dengan prihatin saya mengingat Mahasabha IX tahun 2006. Sabha Pandita, melalui Tata Tertib menghapus hak memilih dan dipilih bagi ”peninjau” padahal hak-hak itu dijamin di dalam Anggaran Dasar. Pelanggaran ini dilakukan karena mereka ingin menjegal seorang koleganya agar tidak terpilih jadi pimpinan Sabha Pandita.

Bagaimana orang-orang yang sepatutnya menjadi teladan dalam menjunjung tinggi hukum dan moral mau melakukan taktik tidak terpuji seperti itu?

Hal ini terpaksa diangkat di sini untuk mengingatkan bahwa kewibawaan Sabha Pandita disebabkan oleh integritasnya, bukan oleh atribut yang dipakai atau jabatan yang disandangnya.

Hanya dengan menjaga integritasnya, Sabha Pandita dapat diharapkan menghasilkan bhisama yang dipatuhi oleh umat.

Jadi figur pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh Parisada sekarang ini?

Seharusnya rekrutmen pimpinan Parisada, termasuk pengurus harian adalah para Pandita atau Sulinggih yang menguasai brahmavidya dan memiliki pengetahuan umum yang luas, seperti para pengurus KWI, PGI dan MUI.

Tetapi untuk sekarang ini, Pengurus Harian tampaknya tetap dipegang oleh walaka. Dengan kualifikasi utama, mempunyai kapasitas untuk melakukan koordinasi dan konsolidasi potensi umat, termasuk yang dimiliki para tokoh, baik yang duduk di pemerintah, TNI/Polri maupun swasta.

Tak kurang penting juga adalah mereka memiliki rasa keterpanggilan (sense of calling) untuk membina umat Hindu, sekalipun minoritas di Indonesia, tetapi secara kualitas dihormati oleh komponen bangsa ini. Paling tidak dalam kurun waktu 50 tahun ke depan?

Ngakan Putu Putra.

 

bukalapak

tokopedia
To Top