Opini

Arjuna, Perempuan dan Pragmatisme

mh-educare

Arjuna, Perempuan dan Pragmatisme
Oleh : Nyoman Sukaya Sukawati

Pragmatisme. Orang mulai dekat dengannya sejak pertengahan abad 19, ketika William James juga John Dewey melambungkannya melalui simpul-pendapat filosofis. Tradisi pragmatisme memang belum terlalu tua. Tetapi di Timur, jauh sebelumnya, budaya yang satu ini telah dititipkan melalui Arjuna, tokoh penuh aksi dari dunia pewayangan.

Satu carang cerita ini kita mulai. Saat itu udara terasa mamung. Di bagian yang agak sepi Bhatara Narada tergopoh menemui Arjuna. Rupanya, hari itu ada kabar buruk menghampiri ksatria Pandawa ini.

“Cucuku, Putra Kunti, dengarlah,” utusan itu mendekat ke telinga Arjuna, “Niwatekwaca, raja raksasa itu, kian jauh terjerumus oleh kesaktiannya sendiri. Di tangannya kehancuran dunia menunggu. Bahkan saat ini ia tengah mengarahkan invasinya ke Indraloka, kerajaan dewata.”

Mendengar itu orang-orang tercenung. Arjuna kaget setengah mati dan menyela, “Maaf, apa yang hamba bisa haturkan, Paduka Guru?”  tanyanya parau dalam nada bergetar.

“Cucuku, sudahilah keangkaramurkaan tak terampuni itu…” pesannya.

Arjuna bergegas. Ia mendekati gerbang Kerajaan Niwatekwaca. Bangunan itu tampak kukuh dan menjulang dari kejauhan, lambang megahnya kekuasaan Sang Raja. Arjuna termenung. Rupanya ia sedang menimbang-nimbang pikiran. Sesaat ia melonjak, seperti menemukan sesuatu, mungkin taktik, “Inilah waktunya,” pikirnya, “aku memerlukan campur tangan perempuan.”

Lantas ia minta dikirimi seorang bidadari, Dewi Supraba. Perempuan berparas ayu ini kemudian disusupkan mendekati Raja Niwatekwaca. Supraba berbicara dengan senyum dan mata menggoda, hingga raja segera jatuh cinta dan bernafsu memperistrinya. Sebelum setuju diperistri, Supraba mendesak Niwatekwaca menceritakan kesaktian sekaligus kelemahannya.

Perempuan memang kadang mudah membuat laki-laki ceroboh. Tanpa sadar raksasa ini menjelaskan secara detil rahasia kehebatannya.

“Kelemahan Niwatekwaca ada di pangkal lidahnya,” bisik Supraba kepada Arjuna yang telah menunggu di balik tembok istana.

Bila sebuah rahasia terbongkar di tangan yang salah akibatnya satu: fatal. Hanya lewat sebuah kesempatan, Arjuna membidikkan panahnya ke arah Niwatekwaca. Selanjutnya, mudah diduga, raksasa tangguh ini tersedak, muntah darah, tumbang berkalang tanah dengan sebilah Pasupati menerobos rongga mulutnya dan tertanam persis di pangkal lidahnya.

Dengan strategi demikian tampak licikkah Arjuna? Entah. Yang pasti sebuah misi telah diselesaikannya. Kewajiban ksatria adalah menjalankan tugas yang diletakkan di pundaknya. Apapun caranya, yang penting efektif. Dan toh setiap manusia, setiap zaman, memiliki ukuran nilainya sendiri soal ini. Barangkali ia semacam norma yang longgar, yang menghindar dari banyak keruwetan. Namun justru itu pragmatisme populer.

Pragmatisme datang karena intelektualisme dan logika formal tak dipercaya. Orang  lebih menyukai manfaat praktis. Tak peduli apakah ia berasal dari pengalaman pribadi atau kebenaran mistis, yang penting bermanfaat. Kebenaran bisa datang dari segala sudut, dan juga berubah setiap saat, karena kita ini hidup di dunia yang belum selesai.

Kisah yang mirip, dimiliki para pembaca Injil. Samson, lelaki tangguh tak terkalahkan itu, juga akhirnya bertekuk lutut akibat perempuan. Delilah yang dikasihinya ternyata sewaan orang-orang Filistin, yang sebelumnya dikalahkan Samson saat mereka menyerang bangsa Ibrani.  Perempuan ini berhasil membujuk Samson menceritakan rahasia kekuatannya yang terletak pada rambutnya yang panjang. Maka selagi Samson tidur Delilah memotong rambutnya. Akhirnya orang Filistin menangkap Samson, mencungkil matanya, serta menawannya di Gaza.

Praktis dan berdaya guna, itu kemudian yang dianggap penting. Meski juga tak berarti tujuan menghalalkan cara. Pragmatisme memang tak dengan sendirinya meniadakan sisi-sisi mulia kehidupan.

Dan Pasupati? Senjata kebanggaan Arjuna yang kelak menggentarkan nyali lawannya di perang Kuru itu juga didapat dengan cara yang praktis: bertapa. Syahdan, suatu hari, Arjuna bersamadi di Gunung Indrakila. Dewa Syiwa lalu mengujinya dengan mengirim tujuh bidadari dan seekor celeng ganas untuk membuat kekacauan, namun tapa Arjuna tak tergoyahkan. Atas ketekunannya, Syiwa kemudian menghadiahinya senjata pamungkas, panah Pasupati  itu.

Pragmatisme macam ini memang menyenangkan. Mungkin karena ia dekat dengan wilayah ilusi kita. Cara kun fayakun (terjadilah atas kehendak Yang Kuasa) semacam itu, sebagai pegangan mistis dalam kebatinan Jawa, boleh jadi menggambarkan sisi lain dari pragmatisme kita, bahwa hasil yang baik akan dicapai dengan bertapa atau berdoa secara tekun.

Tapi tentu saja ini bukan saran agar kita rajin-rajin pergi ke gunung, lalu bersila dan bersamadi di sana untuk memperoleh hadiah dari dewa seperti halnya Arjuna. Sebab itu cuma cerita, kiasan, dan simbol! Dan pragmatisme adalah soal visi manajemen, cara berusaha dan bekerja efisien, siasat efektif manusia membuat dunia ini lebih baik dengan akal dan tenaganya.

bukalapak

tokopedia
To Top