Opini

Bali is Heaven on Earth. Sampai Kapan?

mh-educare

Membaca tulisan Wayan Nasa Adhi pada MH edisi 88 yang lalu dengan judul “Dari Misi Dakwah Hingga Makelar Tanah Bali”, membuat saya teringat percakapan saya dengan seorang teman lama beberapa minggu sebelumnya.

Wayan Nasa Adhi dalam artikelnya mengutip sambutan yang disampaikan kepada rombongan yang berasal dari Jawa dan luar Jawa oleh K.H Nurul Mubin selaku pembimbing ziarah Walipitu yang mengatakan: “Perjalanan Walipitu ini memang sangat menyenangkan meskipun berada di lingkungan mayoritas bukan Islam. Ada misi dakwah menyebarkan agama Islam meskipun hanya sebatas ziarah. Ingat, jaman dahulu pulau Jawa penduduknya beragama Hindu dan Budha, kemudian berubah menjadi Islam. Nah, semoga di masa yang akan datang Pulau Bali penduduknya akan beragama Islam karena dikelilingi oleh Makam Walipitu sebagaimana di Jawa telah dikelilingi Makam Walisongo”. .

Artikel ini sungguh menarik karena dapat memperluas pandangan kita sebagai umat Hindu tentang kenyataan keseharian yang terjadi mengenai usaha-usaha yang terus dilakukan untuk meng-Islam-kan umat Hindu yang dalam kacamata mereka tidak “beragama” ini. Usaha-usaha itu ada yang kasar terang-terangan. Ada yang halus. Tentu lebih berbahaya cara yang halus karena kita tidak dapat dengan segera menyadarinya. Contoh yang halus ya seperti kisah dalam artikel tersebut di atas.

Tentang tulisan yang saya cetak tebal, apakah akan terjadi atau tidak, itu sepenuhnya tergantung pada umat Hindu di Bali. Apakah umat Hindu di Bali menyadari hal ini dan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk menghadapinya atau bersikap tidak peduli dan membiarkan segala sesuatunya terjadi begitu saja dengan berbagai alasan.

Satu hal yang pasti bila hal itu sampai terjadi menurut saya adalah: Bali bukan lagi paradise. Selama ini dari pengalaman saya sendiri dan dari banyaknya komentar dan pendapat para wisatawan manca negara, semua mengatakan Bali is heaven on earth. Bali is paradise. Dan ini bukan jualan para pengiklan. Ini asli komentar dari mereka yang pernah berkunjung ke Bali. Tetapi bila tradisi Hindu lenyap dari tanah Bali, bila Bali tercerabut dari akarnya, maka saya pastikan, surga itu akan lenyap. Jadi Bali, nasibmu ada di tanganmu.

Lalu mengapa artikel ini mengingatkan saya pada percakapan yang saya lakukan dengan seorang teman lama? Di mana kesamaannya? Kesamaannya adalah pada adanya keinginan untuk meng-Islam-kan tadi. Dalam kasus yang saya alami kejadiannya malah lucu-lucu njengkeli. Karena kami telah berteman lama saat saya masih beragama Islam. Kami berteman juga saat saya dalam masa pencarian jati diri. Teman ini malah membantu saya ‘menemukan’ apa yang saya cari. Mendukung keputusan saya. Setia menjadi teman diskusi, hingga saat saya telah berstatus Hindu. Sampai beberapa bulan yang lalu semuanya berubah. Tiba-tiba dia menjauh. Tiba-tiba dia ‘sibuk’. Yang saya ketahui kemudian ternyata dia sedang ‘berguru’ pada seorang Kyai dari Jawa. Tiba-tiba dia menjadi ‘alim’. Dan tiba-tiba saya menjadi ‘salah’ di matanya. Tiba-tiba saya menjadi target dakwahnya juga.

Inilah yang membuat saya jengkel. Saya masuk Hindu karena saya belajar. Belajar sampai berdarah-darah. Kok nekat masih berusaha meng- Islam-kan saya lagi? Saya tidak habis pikir. Kesimpulan saya kemudian, teman saya itu setelah lebih ‘beragama’ memang tidak bisa berpikir.

Dan saya bersyukur bahwa saya telah belajar hingga berdarah-darah. Saya memerlukan hasil pelajaran saya ini sekarang. Ringkasnya beberapa minggu yang lalu, teman saya ini bertandang ke rumah seperti kebiasaannya sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan seperti biasa kami berbincang, yang kebanyakan tentang topik spiritual.

Dia bercerita bahwa dia sedang ‘berguru’ dengan seorang Kyai dari Jawa sejak beberapa waktu sebelumnya. Saya ingat, saat itu saya memang mulai merasakan perubahan pada diri teman saya ini. Ternyata waktu itu belum apa-apa. Karena saat dia terakhir datang ini, perubahan dirinya sangat nyata. Sebelumnya bila dia mulai ‘memuliakan Islam’ di depan saya, saya jarang terpancing untuk menanggapi. Sekedar tidak ingin ribut. Saya malah sering merasa geli di dalam hati. Saya kan juga pernah beragama Islam. Saya tahu Islam itu bagaimana. Justru karena saya tahu, karena saya belajar, saya kemudian memilih. Kok bisa dia sibuk ‘jualan’ Islam pada saya seperti itu. Meskipun begitu, biasanya saya memilih diam sambil berusaha tersenyum dan berpura-pura tetap antusias mendengarkan ceritanya dengan susah payah.

Yang paling sulit menjaga sikap adalah saat saya harus mendengarkan dia menceritakan “kehebatan” gurunya ini. Termasuk cerita tentang keberhasilan gurunya yang katanya memiliki sekitar 400 orang pengikut di Bali dan berhasil meng-Islam-kan sekitar 200-an orang di antaranya, di mana dari 200 orang itu termasuk para “peng-atas” Hindu di daerahnya masing-masing. Tentu saja waktu itu langsung saya katakan bahwa yang 200 orang termasuk para “peng-atas” Hindu itu pastilah tidak tahu agama Hindu meskipun berlabel Hindu. Karena jika mereka tahu bagaimana agamanya, mereka tidak mungkin berpindah (agama).

Tanggal 15 Mei yang lalu teman saya kembali bertandang ke rumah. Saya ingat, karena saat itu adalah saat-saat emosi saya sedang tidak stabil. Saya sedang menghadapi masalah saya sendiri. Masalah pelik dan runyam. Dan teman saya datang, seperti biasanya mengobrol, sambil – ini yang menjengkelkan — di setiap kesempatan menonjol-nonjolkan Islam. Dan saya terpancing. Sekali ini saya tidak bisa diam. Saya berdebat dengan teman saya ini. Setiap dia memberi pernyataan, saya ajukan pertanyaan. Saya balik membuat pernyataan. Saya kemudian ikut cara dia. Menonjol-nonjolkan Hindu. Saya tidak sibuk mencari persamaan lagi seperti yang biasa saya lakukan untuk menghindar perdebatan atau menghindarkan diri agar tidak terpancing emosi.

Saat itu saya katakan semuanya apa adanya. Saya katakan apa yang harus saya katakan. Tanpa sensor. Tanpa memikirkan tata bahasa yang baik. Saya bahkan sempat mengatakan bahwa dari semua yang saya pelajari, semua hal yang dianggap rahasia di Islam adalah hal yang sangat biasa diajarkan dalam Hindu. Sama sekali bukan rahasia, tetapi adalah pengetahuan dasar. Dan sangat banyak ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya – kalau mau jujur — merupakan hasil comot sana sini dari berbagai tradisi kuno yang sudah ada sebelumnya, yang nota bene adalah Hindu.

Saat itu saya berpikir, mungkin memang sudah waktunya teman saya ini dibungkam dan dibangunkan. Saya diam selama ini, bukan berarti saya setuju dengan pendapatnya atau karena saya tidak tahu. Tetapi sikap diam yang bagi saya adalah cara untuk menghindari perdebatan atau yang lebih buruk lagi pertengkaran, ternyata diartikan lain baginya. Saat itu saya juga sadar, bahwa kita tidak boleh berdiam diri saja bila mendapat perlakukan seperti itu dari pihak lain.

Karena diam kita akan dianggap sebagai kelemahan. Sebagai celah masuk. Karena itulah saya katakan tadi, saya bersyukur karena selama ini saya telah belajar sampai berdarah-darah. Karena pada waktu itu terbukti pelajaran saya itulah yang menyelamatkan saya. Saya ternyata ‘tahu’ agama saya. Saya bisa counter semua serangan, saya bisa jelaskan apa yang dipahami salah oleh teman saya itu hingga dia benarbenar bungkam. Terakhir, di puncak — katakan saja perdebatan kami itu — saya menantangnya. Ya. Saya menantangnya untuk mempelajari Hindu untuk membuktikan apa yang saya katakan!

Terus terang saya sendiri terkejut mengatakannya. Sempat terpikir oleh saya dalam sepersekian detik itu, bahwa saya sudah melewati batas. Tetapi saya balik lagi. Mengapa hanya saya? Bukankah teman saya ini juga telah berbulanbulan ini melewati batas dengan “menganggap” saya tidak beragama hanya karena agama saya sekarang berbeda dengannya. Jadi dalam sepersekian detik itu pula keraguan saya berakhir.

Jadi, dari semua yang saya telah tuliskan ini kesimpulannya adalah: Pertama. Bahwa benar ada upaya yang terus menerus dilakukan pihak lain untuk melakukan konversi agama; Kedua. Bahwa sikap diam (baca: pasif) umat Hindu sebagai pihak yang menjadi sasaran konversi adalah salah karena itu bisa menjadi entry point yang mudah sekali bagi mereka; Ketiga. Adalah penting bagi seluruh umat Hindu untuk memperdalam pengetahuan agamanya, dengan cara baca! baca! baca!. Hindu punya banyak pustaka untuk itu. Pustaka suci maupun tidak suci, semua berisi pengetahuan yang akan membantu pemahaman kita terhadap agama kita: Hindu; Keempat. Pelajari diri sendiri. Dengarkan diri. Cari kelemahan kita. Teliti keunggulan kita. Itu akan membantu kita melihat segala persoalan dengan lebih jernih sehingga mudah mencari solusinya.

Mengapa point keempat penting? Karena saya melihat, dan maafkan jika saya salah, umat Hindu ini sedikit, dan sangat tidak kompak. Sama saudara sendiri galaknya bukan main. Tapi sama orang lain lemah. Kasarnya: pengecut. Itulah yang harus diubah. Dan halo….halo….kita perlu melakukan perubahan ini sekarang juga!

Sikha SV.
Penulis buku
Perjalananku Menjadi Hindu,
tinggal di Samarinda.

bukalapak

tokopedia
To Top