Opini

Jangan Terjebak Kebodohan

mh-educare

Jangan Terjebak Kebodohan, Mari Belajar
Oleh : Kadek/Hongkong

Di jaman modern ini kita harus selalu bersedia mengisi diri dengan ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama. Tidak bisa lagi hanya berpegang pada tradisi “dapet nak sube mule keto,” yang seringkali akhirnya hanya membebani diri sendiri. Proses pembelajaran memang harus terus berjalan, seperti salah satu bagian dari Dasa Niyama Brata yaitu Swadhyaya (belajar sendiri). Di sini dijelaskan kita sebagai umat Hindu hendaknya selalu berusaha sendiri, tidak perlu mengkhawatirkan usia untuk belajar.

Banyak buku-buku agama Hindu yang beredar di pasaran dan cobalah pelajari sendiri atau sering bertanya kepada orang lain. Dengan belajar atau bertanya kepada orang lain (guru kerohanian) berarti kita telah menyadari kekurangan kita. Sebab semua suka duka yang kita alami berasal dari kebodohan yang juga menyebabkab kebingungan, kesengsaraan, dan ahangkara (keakuan palsu).

Pustaka suci Sarasamuscaya mejelaskan bagaimana manusia jika dikuasai oleh kebodohan, dalam skola 399 dijelaskan “Hanya satulah sesungguhnya yang bernama musuh, tak lain hanya kebodohan saja; tidak ada yang menyamai pengaruh kebodohan itu, sebab orang yang dicengkeram oleh kebodohan itu niscaya ia akan melakukan perbuatan yang buruk.” Karena itu tiada sesuatupun yang semulia dan sesuci ilmu pengetahuan. Kebodohan menyebabkan ikatan dan pengetahuanlah yang menyebabkan pembebasan.

Selain mempelajari buku-buku pengetahuan kerohanian, kita juga bisa mendekati seorang guru kerohanian dan mengabdikan diri kepada sang guru dan bertanya dengan sikap rendah hati. Setinggi apapun gelar atau kedudukan seseorang jika masih dicengkeram oleh kebodohan yang dia lihat hanyalah kegelapan. Seperti orang cacat (buta) berjalan di siang hari atau malam hari, apa bedanya? Karena itu dengan menyadari kebodohan dan mengusirnya dengan ilmu pengetahuan, akan menghantarkan kita pada pencerahan, tidak hanya kedamaian hati yang kita dapatkan tetapi juga kejayaan.

Buku-buku pun didatangkan dari Jakarta setiap bulan. Semua laris manis, semangat membaca pantas dapat acungan jempol. Tapi buku gunanya bukan hanya untuk dibaca, lebih penting bagaimana kita bisa mengerti isi dan makna dari buku-buku tersebut saat diperlukan. Sehingga sesuai dengan nama, “Agama Hindu universal,” karena bisa memenuhi kebutuhan/memberi jalan kepada semua manusia yang memiliki watak, karakter atau tipe yang berbeda-beda melalui Catur Marga.

Pertanyaannya adalah, “Apakah cuma agama saja yang bisa disebut universal? Lalu bagaimana dengan orang-orangnya? Apakah kita tidak bisa berpikir universal? Oh jangan sampai…….! Dimana-mana perbedaan itu pasti ada, karena itu sudah hukum alam. Ada siang, ada malam, suka-duka, laki-perempuan, dll. Begitu juga orang China mengenal istilah Yin dan Yang. Karena perbedaan membuat keanekaragaman. Keindahan terbentuk dari aneka warna. Sebuah band musik mempunyai banyak peralatan: ada gitar, drum, biola, dll. Semua alat itu mengeluarkan bunyi yang berbeda tetapi menimbulkan perpaduan suara yang merdu, manis dan harmonis.

Jadi janganlah melihat perbedaan dengan sikap perlawanan atau permusuhan karena Tuhan tidak menciptakan bumi ini rata tetapi ada gunung, sungai, danau……….bumi yang penuh warna. Beragam umat Hindu, baik itu Hindu etnis Bali, Jawa, India, Amerika ataupun Sai Baba, Hare Krisna, Siwa……..semua itu juga disebut Hindu Dharma (Sanatana Dharma). Orang tua di Bali sering mengatakan, agar kita melajah kedharman. Apa maksudnya? Yang disebut dharma merupakan jalan untuk pergi ke sorga; sebagai halnya perahu, alat bagi orang dagang untuk mengarungi lautan. Seperti perilaku matahari yang terbit melenyapkan kegelapan dunia, demikianlah orang yang melakukan dharma, memusnahkan segala macam dosa. Keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya; lagi pula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa Triloka. Dan jika seseorang telah melakukan dharma, ada tiga hal yang selalu mengikutinya yaitu: ketenangan, kesabaran, dan keteguhan iman. Tahu sopan santun dan etika baik dalam berpikir, berkata dan bertindak. Think good, say good, do good and you will be good.

Agama Hindu mengajarkan persatuan dalam keanekaragaman yang saling menyayangi, saling menolong. Bersaudara dan penuh persahabatan, salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya, saguluk-sagulik. Bersama dalam suka dan duka, saling memberi dan menerima, bulat dalam mufakat. Marilah bersama-sama belajar, jangan biarkan kebodohan selalu mencengkeram diri. Belajar menerima dan memaafkan orang lain. Jadilah seperti kelapa semakin tua semakin berminyak.

bukalapak

tokopedia
To Top