Redaksi MH

Doa Untuk Pemurnian Pikiran

mh-educare

npp“Kami merenungkan kemuliaan berkilau dari Cahaya Suci; semoga Dia menerangi pikiran kami.”1

Menurut Swami Harshananda, ini adalah mantra Weda yang paling penting, yang paling banyak dipergunakan oleh orang Hindu hingga dewasa ini. Ia adalah bait pertama dari Tri Sandhya. Mengapa kita merenungkan atau bermeditasi pada kilau Cahaya Suci Tuhan dan mengapa kita berharap agar cahaya itu menerangi pikiran kita? Mengapa kita tidak memohon kepada Tuhan agar dilindungi, misalnya dari setan terkutuk?

Jawabannya: keselamatan, pembebasan, keterikatan yang membawa penderitaan kita tidak datang dari luar, dari Setan, tetapi dari dalam. Dari pikiran kita sendiri.

Apakah pikiran? Pikiran adalah salah satu dari lima sarung yang menutupi Atman, Sang Diri kita yang sebenarnya, (manamayakosa). Sankaracharya, dalam karya agungnya, Vivekachudamani menjelaskan tentang pikiran dan cara untuk menolaknya (sloka 167-183). Berikut adalah ringkasannya:

“Organ persepsi bersama dengan pikiran membentuk selubung mental – yang merupakan satu-satunya penyebab rasa “aku” dan “milikku” dan eragaman hal. Ini sangat kuat dan dikarunia dengan kemampuan penting menciptakan perbedaan nama dll. Ia meresapi selubungudara- vital yang mendahuluinya, yang ada di luarnya (prana dan anna maya kosa).

Pikiran memberi makan bahan bakar dari berbagai keinginan ke dalam selubung-mental, yang merupakan yajna api. Api ini (selubung-mental), membawa dan mempertahankan seluruh dunia fenomenal ketika dibakar oleh objek-inderawi yang bertindak sebagai aliran persembahan terus menerus.

Pikiran itu sendiri adalah kebodohan yang merupakan penyebab belenggu kehidupan yang dikondisikan, yang selalu berubah. Ketika pikiran hancur, segala sesuatu yang lain hancur. Ketika pikiran memanifestasi, segala sesuatu yang lain memanifestasi. Angin mengumpulkan awan bersama-sama dan angin itu sendiri mencerai-beraikan mereka. Demikian juga, pikiran menciptakan ikatan dan juga pembebasan.

Pikiran menyebabkan pelekatan kepada tubuh dan objek-inderawi. Keterikatan ini mengikat seseorang seperti binatang yang terikat oleh tali. Setelah itu, pikiran yang sama menciptakan kebencian akan objek-inderawi ini seolah-olah mereka racun, dan membebaskan seseorang dari belenggu perbudakan.

Oleh karena itu, pikiran adalah penyebab untuk pembebasan maupun perbudakan.

Ketika tercemar oleh efek dari rajas, pikiran menyebabkan perbudakan. Ketika ia bebas dari sifat rajas dan tamas, pikiran membuka jalan untuk pembebasan.

Seekor harimau besar yang disebut “pikiran” berkeliaran (mencari kesempatan) dalam hutan lebat kesenangan indrawi. Janganlah orang-orang berbudi yang memiliki aspirasi mendalam untuk pembebasan pernah berkeliaran di dalam hutan itu.

Oleh karena itu, pikiran harus rajin dimurnikan oleh orang yang mencari pembebasan. Ketika pikiran telah dimurnikan, pembebasan menjadi tersedia seperti buah di telapak tangan kita.”

Pikiran (manas) itu seperti pisau tajam, ia bisa dipergunakan untuk membedah jantung, tetapi ia juga bisa digunakan untuk memotong nadinya.

Oleh karena itulah kita selalu berdoa, melalui Gayatri (Savitri) Mantra agar cahaya Tuhan menerangi pikiran kita. Pikiran kita seperti udara yang ditutupi asap kebakaran hutan gambut. Cahaya Suci Tuhan akan mengusir asap itu (kelima selubung maya), dan ketika asap itu terusir, jati diri kita yang sebenarnya, Sang Atman, akan dapat diwujudkan, dialami. Atman adalah Keberadaan Pengetahuan-Kebahagiaan Abadi (Sat Chit Ananda). Pemurnian pikiran adalah pencerahan (enlightment).

Menarik untuk dicatat, Carl Jung, ahli psikoanalisa dari Swiss memberikan penjelasan rasional dan sistematik tentang setan. Ia menyebut pangeran kegelapan itu, adalah “bayangan” tempat rasa bersalah, rasa malu, kemarahan, dan kecemasan. “Bayangan” ini menciptakan “kabut ilusi” yang mengelilingi setiap orang.

Apakah Jung bicara tentang selubung maya? Ia memang pernah ke India dan menulis tentang yoga dalam nada positif. Tafsir itu lebih baik dari pada tafsir literal: Setan adalah makhluk, musuh, sekaligus mitra Tuhan untuk menguji manusia. Tafsir semacam ini, di samping menimbulkan keraguan tentang kemahakuasaan-Nya, juga rentan melahirkan teori konspirasi. Mencari kambing hitam, dan menolak interospeksi, mulat sarira.

Lalu mengapa kita berdoa untuk kemurnian pikiran? Karena: “Bagi mereka yang telah menundukkan pikirannya, pikiran itu menjadi temannya; tetapi bagi mereka yang belum mampu menundukkan pikirannya, pikiran itu akan menjadi seperti seorang musuh.”(Bhagawad Gita VI.6).

bukalapak

tokopedia
To Top