Redaksi MH

Pengukuhan Bukan Suddhi-widdhani

mh-educare

nppAtas kemauan sendiri Suku Huaulu, di Pulau Seram, Provinsi Maluku, telah ‘dikukuhkan’ menjadi Hindu, pada bulan Oktober 2015. Peristiwa ini menyusul pengukuhan Suku Naulu pada bulan Mei 2015.

Mengapa “dikukuhkan” bukan “disuddhi-widani?” “Suddhi-widani” berarti upacara bagi mereka yang baru masuk Hindu, dari sebelumnya beragama lain. Tetapi Suku Huaulu meyakini tradisi yang mereka jalankan sejak zaman dahulu adalah Hindu, hanya saja kehinduan mereka secara administratif tidak diakui oleh pemerintah. Bahkan oleh penduduk sekitar mereka disebut kafir. Sebagai kafir mereka sah jadi sasaran konversi. Itulah sebabnya acara pengukuhan mereka berusaha disabot oleh beberapa kelompok.

Yang menarik adalah bahwa kepala desa, Bapa Raja, sekalipun sudah beragama Islam, mendukung acara ini. Bagaimanapun Bapa Raja rupanya ingin tradisi leluhurnya tetap hidup, dan supaya hidup harus ada yang memeliharanya.

Dengan pengukuhan ini eksistensi keagamaan mereka diakui. Dengan sertifikat pengukuhan itu, mereka sekarang mendapat pelayanan dari pemerintah, sama dengan penduduk penganut agama lain; misalnya mendaftarkan perkawinan, mendapat pendidikan agama bagi anak-anak mereka, menjadi pegawai negeri, TNI atau Polri.

Pengukuhan ini terjadi karena upaya pembimas setempat, Yayasan Dharma Sarathi, dan didukung oleh PHDI setempat. Ini adalah suatu langkah maju. Sebelumnya ada ‘ketakutan’ untuk menerima orang atau kelompok yang ingin menjadi Hindu. Takut diduga melakukan konversi. Ini berbeda dengan agama-agama lain, yang terang-terangan berupaya melakukan konversi dengan program, biaya dan organisasi yang rapi dan kokoh.

Hindu memang tidak mencari pengikut baru, tetapi kalau mereka datang, tidak boleh ditolak, harus diterima dan dibina. Di sinilah kesulitannya. PHDI tampaknya tidak memiliki strategi maupun program bagaimana membina orang atau kelompok suku atau etnis tertentu yang masuk atau kembali Hindu.

Contoh tentang kegagalan ini cukup banyak. Pada tahun 1970-an banyak sekali orang-orang Jawa abangan atau pengikut Kejawen yang karena kemauan sendiri, bahkan harus berjuang melawan tekanan penguasa, menjadi Hindu. Di antara tokoh-tokoh mereka ada yang ditahan dan disiksa, namun mereka tetap teguh dengan tekadnya untuk menjadi Hindu. Pada waktu itu banyak pura dibangun. Tetapi karena pembinaan yang tidak tepat, anak-anak mereka sekarang banyak yang meninggalkan Hindu, lupa dengan perjuangan orang tua mereka.

Satu kelompok etnis Tionghoa di Jakarta, beberapa tahun yang lalu juga karena kemauan sendiri menjadi Hindu. Di tempat peribadatan mereka dibangun padmasana. Tetapi karena tidak ada pembinaan lanjutan, Padmasana itu lalu dibongkar.

Orang-orang Hindu baik dalam bentuk yayasan maupun perorangan, sudah cukup banyak yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat, misalnya dengan memberikan beasiswa, pemberdayaan ekonomi. Tetapi tanpa dukungan strategi dari PHDI, upaya-upaya independen itu, tidak akan efektif.

Semestinya ada pedoman, apa saja yang harus diterima oleh para pemeluk baru itu? Untuk perorangan tentu lebih mudah, mereka bisa menerima Hindu secara utuh, tattva, susila dan upakaranya. Untuk kelompok etnis atau suku, perlu kajian dan perlakuan khusus. Mereka menjadi Hindu dengan harapan tradisi religious mereka tetap terpelihara. Ini sejalan dengan sikap Hindu, yang tidak ingin mencabut para pengikutnya dari akar budayanya. Tetapi agar dapat disebut Hindu tentu ada bagian dari tattva, susila dan upakara yang harus mereka terima. Yang terpenting adalah meningkatkan kehidupan mereka melalui pendidikan. Ini adalah tugas PHDI.

bukalapak

tokopedia
To Top