Redaksi MH

Ujaran Kebencian dan Penghujatan

mh-educare

nppKetika saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dalam suatu kuliah wajib, Studi Islam, dosen kami, seorang guru besar yang sudah sepuh, dengan suara sangat lembut karena itu harus menggunakan pengeras suara, mengatakan, ada dua kelompok agama: agama samawi (langit), agama yang datang dari Tuhan (yang bermukim di langit), dan agama ardi (bumi) yaitu agama buatan manusia.

Saya yang lahir, dan sekolah di Bali sampai SMA, tidak pernah mendengar pembagian agama semacam ini. Bahkan di Bali kami diajari untuk menghormati semua agama. Tentu saja saya sangat tersinggung dan marah. Langit tinggi, bumi rendah. Tuhan tidak bisa salah, manusia cenderung salah.

Tetapi apa yang dapat saya lakukan? Saya mahasiswa tingkat 1 dan satu-satunya mahasiswa Hindu dalam kelas yang terdiri dari 100 orang, yang sebagian besar muslim, menghadapi seorang guru besar agama yang sepuh yang sangat dihormati di kalangan intelektual muslim. Bagi saya kuliah guru besar ini adalah ujaran kebencian. Itulah perasaan saya waktu itu. Mungkin karena saya masih muda.

Setelah saya mendekati pensiun, saya mengikuti kuliah S2 di jurusan filsafat UI. Dua orang dosen, seorang bergelar doktor beragama Protestan, dan seorang bergelar professor cum pastor, juga menggunakan dikotomi agama bumi dan agama langit ini. Sekalipun umur saya sudah mendekati 56 tahun, saya tetap merasa tersinggung. Saya sampaikan perasaan saya kepada kedua dosen ini, tentang ketidakbenaran dikotomi itu, dan mengusulkan agar istilah itu diganti dengan istilah yang lebih netral, misalnya Agama-agama Semitik dan Agama-agama India atau Agama-agama Timur.

Salah seorang dosen itu menyambut baik usulan saya. Tetapi itu baru sikap pribadi. Secara lembaga mungkin tetap saja UI menggunakan istilah agama bumi dan agama langit. Demikian juga buku-buku teks untuk anak-anak dari SD – SMA. Selama tidak ada keberatan dari masyarakat Hindu, istilah yang merendahkan itu akan terus dipergunakan di dalam pengajaran atau kuliah resmi. Demikian pula dengan istilah-istilah lain, seperti penyembah berhala, kafir dll, yang sering ditujukan kepada pemeluk Hindu, saya rasakan sebagai ujaran kebencian.

Ujaran kebencian menjadi perbincangan publik, bulan-bulan kemarin, dipicu oleh Surat Edaran (SE) Kapolri mengenai pedoman bagi satuan kerja di lingkungan Polri untuk menangani ujar kebencian.

Ujaran kebencian sebagaimana dikutip oleh SE itu, bertujuan untuk menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan atau kelompok masyarakat dalam berbagai komunitas yang dibedakan dari aspek suku, agama, aliran keagamaan, keyakinan atau kepercayaan, ras, antargolongan, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel dan orientasi seksual.

Ujaran kebencian yang ditujukan kepada agama, Tuhan, keyakinan atau kepercayaan, dikategorikan sebagai Penghujatan.

Ujaran kebencian dapat dilakukan melalui berbagai media, misalnya dalam orasi kegiatan kampanye, spanduk atau banner, jejaring media sosial, penyampaian pendapat di muka umum (demonstrasi), ceramah keagamaan, media masa cetak atau elektronik dan pamflet.

Dalam praktiknya pasti akan timbul pertanyaan, ucapan atau kalimat seperti apa yang dianggap sebagai ujaran kebencian atau penghujatan? Apakah kata-kata atau kalimat yang diambil dari teks kitab suci lalu digunakan dalam ceramah atau kotbah agama dapat dikategorikan sebagai penghujatan? Apakah kajian kritis tentang suatu agama di dalam kegiatan akademis, misalnya perbandingan agama, atau suatu kuliah biasa yang oleh seorang atau sekelompok peserta kuliah dirasakan merendahkan agamanya dapat dikategorikan sebagai penghujatan?
Sebenarnya ini adalah kesempatan bagi PHDI untuk mengkoreksi penghujatan yang ditujukan kepada agama Hindu, terutama di dalam buku-buku teks pelajaran SD-SMA. PHDI harus merumuskan apa yang dirasakan oleh masyarakat Hindu sebagai penghujatan yang dapat menimbulkan ketersinggungan atau kemarahan.

Rumusan ini kemudian disampaikan kepada Polri, Kementerian Pendidikan, menengah dan tinggi serta Kementerian Agama. Tanpa ada usulan koreksi semacam itu, penghujatan terhadap agama dan masyarakat Hindu akan terus berlangsung. Secara teknis ini juga akan membantu polisi untuk menangani ujaran kebencian yang ditujukan kepada agama atau masyarakat Hindu.

bukalapak

tokopedia
To Top