Opini

Anomali Kehidupan Beragama

mh-educare

Kalau kita telusuri pertanyaan, “mengapa manusia beragama?” Maka Google menampilkan banyak sekali tautan terkait dengan pertanyaan tersebut. Beragam jawaban dari berbagai agama telah diberikan, namun tetap saja pertanyaan tersebut muncul, seakan jawaban apapun yang diberikan tidak akan pernah dapat memuaskannya. Barangkali inilah penyebabnya: “Agama menganjurkan kebaikan, tetapi praktiknya banyak memperlihatkan keburukan. Agama selalu mengajarkan adab pekerti luhur, tetapi wujud laku keagamaan pemeluknya banyak yang barbar. Agama selalu menganjurkan kasih sayang, tapi sekian banyak seruan keagamaan dengan kebencian merajalela. Dalam praktik agama juga terdapat pertaubatan setiap waktu, tetapi setiap waktu pula dosa-dosa hasil pengulangan dilakukan” (Faiz Manshur, Republika online, 05-11-2015).

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa orang tidak belajar dari sejarah agamanya. Lalu untuk apa tahu sejarah? Sejarah sebagai ilmu pengetahuan tetap penting untuk dipelajari. Mendokumentasikan fakta-fakta dari masa lampau dengan analisis dan rekonstruksi artefak peninggalan apa adanya, untuk mengetahui perkembangan peradaban manusia dalam dimensi ruang dan waktu tertentu. Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap pendahulu yang telah membuka jalan bagi perkembangan peradaban manusia sampai sekarang.

Dalam konteks agama, adalah bagaimana suatu ajaran kesucian hidup dilembagakan sebagai agama, bagaimana pemegang otoritas institusi agama menafsirkan dan menyebarkan ajarannya sebagai kebenaran, yang dengan sadar diterima dan diyakini kebenarannya. Ada pula ajaran dengan berbagai ancaman dan hukuman, seakan manusia sebagai pesakitan yang penuh dosa. Entah sudah berapa korban jatuh ketika berhadapan dengan institusi agama seperti itu.

Revolusi kebudayaan di China dan Rusia, Restorasi Meiji di Jepang, adalah bukti bagaimana manusia gagal ketika mencoba mempertahankan mayoritas agama dan budayanya. Rekonstruksi terhadap sejarah adalah dalam upaya penjernihan fakta dari distorsi informasi, bukan untuk pelurusan sejarah, yang menjadi lain ketika berhadapan dengan multi dimensi kepentingan. Bagaimana pun, sejarah mencatat bahwa agama selalu berdampingan, bahkan menjadi bagian dari kekuasaan, sedangkan alat kekuasaan adalah politik. Maka politicking agama adalah konsekuensi logis dari peneguhan kekuasaan. Sehingga agama sebagai agresor di satu sisi, dan sebagai defender pada sisi lainnya. Apa yang dialami oleh Nicolaus Copernicus adalah fakta. Sekarang bisa ditelusuri bagaimana penulisan sejarah revolusi pengetahuan itu “diluruskan,” tetapi fakta bagaimana otoritas gereja di masa lampau tidak berubah.

Sejarah kelam peradaban manusia bernuansa agama dimulai dari Asia kemudian Eropa. Namun di Eropa, kini menjadi pusat modernisasi ilmu dan teknologi, selain karena belajar dari sejarah, mereka pun telah belajar dari agama yang semuanya lahir di tanah Asia. Jauh sebelum Alexander Agung menapakkan kakinya di India. Sehingga sejarah dan agama suatu bangsa bukanlah proses evolusi, yang sebagai garis lurus dari masa lampau ke masa kini, apalagi bagi proyeksi ke depan. Namun jelas, bahwa beragama merupakan wujud dari eksistensi manusia yang beradab, meskipun berkali-kali terjadi perbuatan biadab manusia atas nama agama.

Demikian pula dengan sejarah Veda. Ketika para peneliti asing (outsider) mengemukakan teorinya berdasarkan penafsirannya terhadap kepustakaan Hindu (Rig Veda). Seperti teori penaklukkan oleh bangsa Arya, ketika hal itu diungkapkan, tidak ada yang membantahnya atau memberikan argumen sebaliknya. Pada masa itu, teori penaklukkan oleh bangsa Arya diterima sebagai kebenaran ilmiah. Kemudian, setelah sekian abad lamanya, dengan teknologi dan linguistik (dari pengetahuan barat) muncullah pembuktian sebaliknya. Maka teori penaklukkan oleh bangsa Arya runtuh dengan sendirinya. Inilah yang disebut dengan proses kebenaran ilmiah. Oleh Hegel dinyatakan sebagai motor dialektika: tesis, antitesis dan sintesis (https://id.wikipedia.org/wiki/ Georg_Wilhelm_Friedrich_Hegel, 25-12-2015).

Bila teori penaklukkan oleh bangsa Arya itu kemudian dicurigai sebagai manipulasi dan segala bentuk kejahatan sistemik lainnya. Maka sikap ini merupakan bentuk sentimen dari ketidakberdayaan (inferior) selama berabad-abad. Apalagi bila dihadapkan dengan fakta bahwa tidak semua argumen yang meruntuhkan teori penaklukkan bangsa Arya itu benar. Demikian pula dengan kekeliruan penafsiran teks Sanskerta, harus dilihat dalam konteksnya, pada masa itu tidak semua Brahmin atau yang membantu menerjemahkan fasih berbahasa Inggris atau Jerman. Untuk itu, para peneliti outsider menyertakan teks aslinya di samping terjemahannya.

Seperti istilah kasta yang diprotes oleh F. Max Muller dalam The Six System of Indian Philosophy (1899, p. 11-12): gYang kita ingin tahu sebenarnya adalah, apa yang tersirat dalam kata-kata India seperti: Varna (warna), Jati (sanak), yang tidak diketahui kaitannya dengan Sapindava atau Samanodakatva, Kula (keluarga), Gotra (ras), Pravara (garis keturunan); kalau tidak, kita akan kembali lagi dalam kebingungan yang sama tentang organisasi sosial India kuno, sebagaimana tentang fetishisme di Afrika atau totemisme di Amerika Utara! Setiap kata asing harus selalu dijaga makna aslinya sendiri, atau jika digeneralisir untuk tujuan ilmiah, harus sangat hati-hati ditentukan lagi. Jika tidak, setiap perbedaan sosial akan disebut kasta, setiap tongkat adalah totem, setiap idola adalah Fetish.h Inilah fakta etika ilmiah. Apakah pernyataan itu merupakan sumber gmalapetakah terjadinya distorsi sejarah agama? Bayangkan, dari tahun 1899 sampai sekarang, adakah jawaban ilmiah dari insider terhadap protes itu?

Dari sisi filsafat Vedanta, perdebatan tentang kebenaran terjadi juga. Sebagaimana perdebatan panjang antara Advaita (diplopori oleh Sankarcarya) dengan Dvaita (dipelopori oleh Madva). Kalau memang kebenaran duniawi itu absolut, tentu tidak ada yang harus diperdebatkan. Karena manusia yang mengartikulasikan Ketuhanan dalam kehidupan ini, terikat pada dimensi ruang, waktu dan hukum sebab-akibat, maka tidak bisa dikatakan sebagai kebenaran absolut. Lalu bagaimana manusia mengetahui adanya kebenaran absolut? Dia harus mencarinya di dalam dirinya sendiri. Karena hanya dalam diri, antara diri pribadi dengan diri sejati tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi terikat dalam hukum sebab-akibat.

Namun, karena manusia terbiasa berorientasi keluar, maka mencari diri sejati dalam diri bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi bagi yang telah mengisi ruang-ruang batinnya dengan berbagai isi dunia. Sehingga diri sejatinya tertimbun, hampir tidak ada ruang baginya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa untuk menemukan jati diri, satu-satunya cara adalah melepaskan diri dari ikatan hukum sebab-akibat melalui realisasi ajaran Catur Yoga. Persoalannya, berteori tidaklah segampang bicara, apalagi mempraktikannya.

Karena itu, ada baiknya kita renungkan satu teks dari Mudakopanishad (III.2.3.) berikut ini: n.yam .tm. pravacanena labhyo na medhay., na bahun. .rutena, yam evai.a v..ute tena labhyas tasyai.a .tm. viv..ute tan.. sv.m. (Tidak melalui wacana, bukan melalui akal,
bukan pula dengan mempelajari kitab suci, diri sejati dapat direalisasikan. Diri sejati mengungkapkan dirinya kepada orang yang merindukannya. Mereka yang bermeditasi untuk diri sejati dengan segenap hati dipilih oleh diri sejati sebagai miliknya).*

Oleh Tjokorda Bagus Putra Marhaendra

bukalapak

tokopedia
To Top