Opini

Semua Agama, Termasuk Hindu, Menghambat Peradaban?

mh-educare

Om Swastyastu,
Pada bulan November 2015, sekitar minggu ketiga, The Jakarta Post (JP) memuat artikel di halaman Opinion berjudul “Imagine there is no religion …” oleh Mario Rustan, tinggal di Bandung, yang dua tiga bulan sekali tulisan opininya dimuat di JP. Saya cari copy JP di rumah tapi terselip entah kemana.

Tulisan tersebut dengan judul yang atraktif hanya karena diambil dari lagu John Lennon, meski si penyanyi/ pengarang sekadar kesal karena bagi dia mungkin agama, perbatasan negara dan aneka pertentangan atau disparitas tidak menghasilkan perdamaian.

Sedangkan Mario sempat menyisipkan bahwa dia dengan sekelompok kawannya menemukan sesuatu tanpa jalan agama. Itu hak mereka, meskipun di Indonesia sulit secara formal, karena di negara kita, salah satu di antara sedikit negara di dunia, berlaku peraturan KTP dengan kolom agama dari salah satu agama yang ‘diakui’ negara.

Memang aneh bahwa seolah-olah urusan Tuhan ada dibawah menteri yang notabene di bawah presiden. Tapi itu aspek lain, sedangkan pada Hindu Dharma seorang agnostik atau ateis sekalipun dilihat sebagai ciptaan yang mengandung atma pantulan Brahman meskipun orang itu tidak menyadari atau tidak peduli. Selama tindakannya tidak mengganggu, ya sudah.

Sedangkan tanpa agama – Hindu Dharma lebih dari suatu agama dalam arti umum atau konvensional – mau tidak mau akan diadakan Kode Etik Dunia, sedangkan yang milik PBB ratusan ribu lembar tidak mampu dilaksanakan. Begitu pula suatu agama atau Dharma sekalipun. Kembali ke individunya dalam mengimplementasikan.

Yang paling keliru dalam tulisannya adalah ketika mengatakan bahwa semua agama, termasuk Hindu, menghentikan/menghambat peradaban, kemajuan, penemuan, kesejahteraan ekonomi, dsb. Secara implisit sebagian orang berpendapat begitu, karena referensinya hanya satu dua kitab suci mereka, sedangkan Hindu Dharma memiliki Pustaka Suci yang super seimbang, suatu kombinasi sempurna antara konkrit dan abstrak, logika dan non-logika, dsb. Jadi, sebagai hak tanggap/komentar, saya menulis surat pendek ke Reader’s Forum JP, tapi tidak dimuat. Jadi, seolah-olah menurut opini JP tulisan opini Mario Rustan itu berdasarkan data/fakta, sedangkan untuk kredibilitas JP yang seharusnya seakurat, seimbang mungkin telah mengabaikan surat saya.

Beberapa hari kemudian saya kirim tulisan saya ke JP untuk menanggapi tulisan Mario. Kemudian saya minta waktu Bpk. Endy M. Bayuni, senior managing editor (bukan bagian halaman Opinion), untuk ngobrol saja. Saya tunjukkan tulisan itu. Dia bilang bagus sekali. Pak Endy juga salah satu pendiri International Association of Religion Journalists.

Saya sampaikan bahwa saya tidak mengeluh atau menyesal bahwa tulisan itu tidak dimuat dan saya ceritakan tentang tulisan Mario Rustan serta posisi JP sebagai media yang punya reputasi, meskipun di halaman opini, dengan atau tanpa disclaimer telah memuat tulisan tanpa dasar tentang agama khususnya Hindu Dharma dan saya tambahkan: agama atau tanpa agama Tuhan selalu Ada, sekarang dan akan selalu ada. Pertemuan berjalan dengan etis tapi dia tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang salah.

Semuanya di atas, baik tulisan maupun pertemuan saya itu, berdasarkan kesadaran tanpa pamrih, tidak berhasil, tidak kecewa, toh karmaphala kita semua suatu hari ada di catatan hutang piutang kita. Hormat saya, Leo PN Landep

bukalapak

tokopedia
To Top