Redaksi MH

Harapan Ibu-Ibu Yang Masuk Hindu Karena Ikut Suami

mh-educare

nppPada akhir tahun 2015 dan awal 2016 kami menyebarkan survey sederhana kepada ibu-ibu yang masuk Hindu karena ikut suami. Kami ingin mengetahui masalah-masalah yang mereka hadapi dan harapan mereka untuk menjadi pemeluk Hindu yang utuh. Mantap di Jalan Dharma.

Beberapa pertanyaan yang kami ajukan, selain data pribadi adalah: Kapan masuk Hindu? Apa yang mendorongnya masuk Hindu? Bagaimana reaksi keluarga asal tentang keputusan masuk Hindu? Bagaimana reaksi keluarga suami? Siapa yang membimbing mereka dalam memahami Hindu Dharma: Suami? Pandita atau pinandita di tempat Anda? Pengurus tempek atau banjar? Pengurus PHDI setempat? Pembinas Hindu? Organisasi perempuan Hindu? Belajar sendiri? Tidak ada?

Bagaimana penerimaan kaum ibu di tempek/banjar terhadap mereka yang baru masuk Hindu? Menyambut dengan baik? Mengajari hal-hal tentang Hindu? Tidak perduli atau acuh tak acuh? Atau malah memandang sebelah mata? Pembinaan apa yang mereka harapkan tentang agama Hindu? Bimbingan di bidang tattva dan susila? Bimbingan di bidang upacara, mejejahitan?

Kami juga meminta mereka untuk menyampaikan halhal lain yang ingin mereka peroleh dalam kaitan untuk menjadi pengikut Jalan Dharma yang baru.

Sampai bulan April hanya 20 orang yang mengembalikan formulir. Empat orang di antaranya adalah suami yang masuk Hindu karena mengikuti agama istrinya, dua dari Islam dan dua dari Katolik. Secara kuantitas jumlah ini di bawah harapan kami. Tetapi masalah jumlah ini diatasi oleh aspek kualitas.

Dari jawaban mereka kami tahu apa yang mereka harapkan. Ada yang mengharapkan adanya lembaga khusus yang membina orang-orang yang baru masuk Hindu. Tentang pembinaan yang diharapkan kebanyakan mengenai aspek tattva dan susila (etika). Ada juga sedikit yang menginginkan pendidikan mejejahitan. Tetapi ada juga yang merasa bingung terhadap banyaknya banten yang rumit-rumit.

Beberapa responden menyampaikan saran yang bagus. Misalnya usul untuk dibuatkan blog/komunitas/pesantian/ pertemuan 1 bulan sekali, agar para ibu yang pindah agama bisa saling bertukar informasi dan pembinaan.

Ada yang menyampaikan saran bagaimana meningkatkan pengetahuan tentang Hindu Dharma di lingkungan masyarakat Bali khususnya. Salah satu cara dengan memasukkan program penyuluhan tentang agama Hindu atau dharma wacana kepada warga masyarakat di masing- masing banjar yang ada di Bali, hal ini sangat perlu dan mendesak, karena kalau pemahaman agama pada masyarakat kurang maka agama Hindu di Bali seiring dengan berjalannya waktu akan mengalami penurunan jumlah pemeluknya seperti yang terjadi pada saudarasaudara se-dharma di daerah Jawa, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Papua, dll.

Ada saran yang bagus tentang bahan ajar agama Hindu untuk anak-anak TK dan SD. Bahan ajar atau materi agama Hindu untuk anak didik jenjang itu sudah bagus akan tetapi perlu ditingkatkan bagaimana cara atau metode pembelajaran. Yaitu dengan bercerita sambil bermain daripada menghafal. Hal ini untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan gembira serta memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bertanya, menyampaikan pendapat serta memberikan umpan kepada anak-anak didik agar mereka dapat lebih mendalam untuk memahami materi yang disampaikan oleh ibu/bapak guru.

Disarankan juga agar masyarakat Hindu menyiapkan diri untuk menghadapi persaingan dalam Masyarakat Ekonomi Asean.

Namun ada masalah serius yang membutuhkan penangganan yang serius juga. Ini dialami oleh seorang ibu yang dalam agama sebelumnya rajin membaca kitab sucinya. Ketika ingin mendalami tattva dan mencoba membaca Bhagawad Gita serta Weda, namun ia tidak bisa memahaminya. Kami kira banyak yang seperti ibu ini.

Sekarang tinggal merencanakan langkah-langkah yang harus diambil oleh lembaga umat seperti PHDI dan organisasi perempuan yang ada di bawah koordinasinya. Media Hindu pasti akan membantu sejauh kemampuannya.

bukalapak

tokopedia
To Top