Redaksi MH

Tirtayatra Ke Pulau Buru

mh-educare

nppMedia Hindu edisi Mei ini menyajikan catatan perjalanan Dewa K. Suratnaya, Wakil Pemimpin Redaksi Media Hindu dan Ketua Yayasan Dharma Sarati ke Pulau Buru, Maluku, sebagai Laporan Utama.

Dua hal penting yang diangkat dalam catatan perjalanan itu: Pertama, upakara Melaspas dan Ngelinggihan Pura Tri Puja Karma yang disungsung oleh masyarakat Hindu asal transmigran Jawa dari Banyuwangi yang sudah puluhan tahun bermukim di Desa Waetina, Kecamatan Waeapo, Pulau Buru.

Di samping upakara Melaspas dan Ngelinggihan juga dilaksanakan upacara Entas-Entas untuk leluhur Pulau Buru di tugu monumen desa. Para leluhur yang dientas adalah leluhur yang menjadi cikal bakal dan sudah meninggal.

Upakara ini dipimpin oleh Rsi Hasto Dharmo dari Sidoarjo, Jawa Timur. Yang menarik adalah bahwa kedua upakara itu dilakukan dengan sarana upakara Jawa yang sangat sederhana. Rsi juga menggunakan mantra Bahasa Jawa di dalam muput upakara ini. Upakara juga diiringi dengan lantunan pembacaan Bhagawad Gita dengan langgam Jawa.

Yang lebih menarik lagi adalah sikap Rsi Hasto Dharmo, yang Guru Nabe-nya adalah Ida Pedanda Gede Putra Telabah, dari Bali. Rsi Hasto Dharmo tidak mau dilayani, bahkan melayani umatnya. Beliau tidak mau dibedakan dengan umatnya, tetapi menempatkan dirinya sejajar dengan mereka. Beliau menolak diistimewakan, tidak perlu disediakan alat makan dan minum sukla (baru), tetapi menggunakan alat makan minum yang sudah ada. Tidak mau tidur di atas sprei baru, tetapi tidur di lantai beralaskan selembar karpet saja.

Yang perlu dicatat pula, untuk keberhasilan upakara, beliau puasa selama tiga hari, sesuai dengan laku spiritual Hindu di Jawa. Rsi Hasto Dharmo, melakoni tapasya yang dipraktikkan oleh para Rsi Hindu di zaman dahulu kala.

Baginya upakara besar, dengan pakaian kebesaran dan diperlakukan secara khusus oleh masyarakatnya, adalah sikap yang tidak sesuai dengan laku tapasya yang seharusnya melekat dalam diri seorang pandita. Apalagi mengkomersilkan banten.

Kedua, pertemuan dengan suku Rana, suku asli pulau Buru yang mengaku dirinya sebagai pemeluk Hindu sejak dahulu kala. Dalam pertemuan dengan umat Hindu asli setempat, terungkap isi hati dan curahan jiwa serta gambaran yang bisa didapat terkait dengan keberadaan umat Hindu Suku Buru yang cikal bakalnya adalah umat Hindu Suku Rana yang bermukim di seputaran Danau Rana.

Ketua Adat mengatakan, “Dengan kedatangan bapabapa dan ibu dari Jakarta dan Ambon ini, barulah kami merasa punya mama – bapa, yang selama ini kami tidak tahu. Ya, beginilah keadaan kami. Kami sudah Hindu sejak dahulu kala, kami membutuhkan bantuan untuk warga kami, khususnya pendidikan, kesehatan dan keagamaan.”

Walaupun mereka mengaku sudah Hindu sejak zaman purbakala dan tercantum dalam identitas resmi yang diakui pemerintah (E-KTP), pola persembahyangan mereka masih kental dengan pola keyakinan lain. Dari kata-kata yang diucapkan dalam doa, masih terselip kata-kata atau istilah dari agama lain, yaitu Islam. Pastilah ini pengaruh dari agama dominan yang ada di sekitar mereka.

Hal ini sama dengan praktik keagamaan masyarakat Hindu Jawa dahulu di desa-desa terpencil, di mana upakaranya memakai sesaji Jawa tetapi yang memimpin upakara adalah ustad dengan doa memakai Bahasa Arab. Tetapi sekarang hal itu tidak terjadi lagi karena sudah banyak ada pinanadita bahkan pandita asli suku Jawa.

Yang juga penting adalah sikap kepala dinas Kemenag setempat yang membebaskan orang Hindu untuk membina mereka, karena itu memang merupakan kehendak mereka sendiri tanpa tekanan atau bujukan dari siapapun. Sikap kepala kantor Kemenag ini perlu diberikan penghargaan. Karena dengan itu tidak perlu ada keraguan bagi orang Hindu untuk membina mereka. Ditjen Bimas Hindu dan PHDI Pusat harus tampil di depan, tidak dapat lagi membiarkan hal ini pada inisiatif dan upaya perorangan.

bukalapak

tokopedia
To Top