Redaksi MH

Beragama Hindu di Jakarta

mh-educare

nppMenjalani agama Hindu dengan tradisi Bali, di Jakarta tidaklah mudah. Berbagai tantangan dan ketegangan harus dihadapi, antara keinginan untuk melaksanakan tradisi secara setia, dengan irama kehidupan modern, yang menuntut efisiensi di segala bidang, khususnya waktu yang tersedia, dan juga lingkungan yang mayoritas memiliki keyakinan lain.

Hal yang sama pasti juga dialami oleh masyarakat Hindu di kota-kota besar lain, di luar Bali. Masyarakat Hindu di daerah transmigrasi, di mana mereka hidup berkelompok mungkin lebih mudah mengikuti tradisi Bali.

Di kota besar seperti Jakarta, orang-orang Hindu tinggal di lokasi yang berjauhan. Mereka umumnya bekerja di kantoran, apakah sebagai PNS, TNI/Polri atau pekerja industri. Tentu tidak mungkin bagi mereka untuk meluangkan banyak waktu untuk upacara, jika dilaksanakan seperti di Bali. Bahkan di Bali pun kini keadaan sudah berubah. Dahulu kebanyakan orang bekerja di sektor pertanian, yang relative memiliki banyak waktu luang. Upakara yadnya, disamping sebagai kewajiban agama, juga sekaligus sebagai hiburan. Jadi tidak masalah kalau upakara-upakara itu menghabiskan banyak waktu.

Pujawali bisa disiapkan sejak dua bulan sebelumnya. Ngenteg linggih bahkan bisa 1 tahun persiapannya. Ngaben bisa 6 – 8 bulan. Tapi kini keadaan sudah berubah. Sudah banyak orang Bali yang bekerja di sektor formal, di pemerintahan maupun swasta. Khususnya di industri pariwisata. Waktu mereka untuk upakara menjadi terbatas. Mau tidak mau mereka harus mengikuti aturan waktu yang ketat dari tempatnya bekerja, bila mereka tidak ingin kehilangan mata pencaharian, dan kalah dalam persaingan.

Karena dianggap sering libur untuk upakara di desanya, para bekerja Bali di industri pariwisata bisa kehilangan kesempatan kerja dan kemampuan bersaing. Pernah ada iklan lowongan kerja dipasang di koran lokal, yang mensyaratkan “tidak beragama Hindu”. Konon secara internal di beberapa hotel di Bali hal ini masih berlaku, sekalipun secara diam-diam.

Keadaan ini membuat bahkan orang-orang Hindu di Bali harus berubah, bila tidak mau kalah bersaing dengan pendatang. Lebih-lebih lagi di kota-kota di kota besar. Perubahan dalam tradisi itu sangat diperlukan, agar agama tidak menjadi penghalang bagi kemajuan.

Tradisi adalah ciptaan manusia. Hakikat dari semua ciptaan, termasuk ciptaan Tuhan, apalagi ciptaan manusia, adalah tidak kekal. Tradisi lama yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan manusia dapat ditinggalkan, dan tradisi baru untuk menggantikannya dapat diciptakan.

Kita harus percaya pada kemajuan manusia. Manusia pada abad 21 pastilah lebih maju dari manusia abad 15. Buktinya dapat dilihat, tidak hanya dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam kebijaksanaan yang menyangkut penghargaan terhadap hak-hak dan martabat manusia. Dan juga dalam sadhana atau praktik spiritual. Semua bidang kehidupan dapat diakses oleh semua.

Para leluhur kita pasti juga menghendaki para keturunannya, atau pratisentanaya, lebih maju, dan lebih hebat dari dirinya. Sebagaimana juga kita menghendaki agar keturunan kita lebih maju dari kita sekarang ini, dalam segala bidang. Tradisi yang kita ciptakan sekarang, 500 tahun lagi, atau mungkin kurang dari itu, pastilah sudah usang dan harus ditinggalkan, agar tidak membelenggu.

Sang Hyang Kala tidak pernah berhenti. Karena kalau Dia berhenti, tidak akan ada sejarah.

Terkait dengan tantangan-tantangan itu, Media Hindu bersama Pandita Sanggraha Nusantara mengadakan diskusi terbatas pada bulan 17 April 2016 yang lalu, untuk mencari jalan keluarnya. Kami mulai dengan soal-soal kecil yang berdampak besar, seperti soal: dewasa ayu, tingkatan upakara, peningkatan kemampuan Pinandita dan lain-lain.

Semoga ini menjadi renungan, kesepakatan dan tindakan bersama. Karena kita tidak ingin beku, tetapi maju seperti umat agama lain. Kita punya potensi, tetapi, pada saat ini, hanya kehilangan orientasi.

bukalapak

tokopedia
To Top