Renungan Suci

Berbuat Baiklah

mh-educare

“Bagi seekor kijang yang berbahagia dengan rumput dan buluh muda, perhiasan emas itu tidak berarti,

Bagi kera yang berbahagia dengan buah-buahan pada pohon-pohon kayu, mutiara itu tidak ada artinya, Bagi babi yang bergembira dengan makanan yang sudah busuk, bau bunga harum itu tidak berarti apa-apa,

Tetapi bagi manusia, dharmalah (perbuatan baiklah) yang harus diutamakan dan dilakukan walaupun kadang-kadang tidak menggembirakan.” Slokantara 36. ***

Emas, mutiara, dan bau harum tidak berharga bagi binatang, karena yang penting adalah makanan yang memuaskan rasa lapar tubuh mereka. Bagi manusiapun emas, mutiara, dan bau harum hanya kebutuhan kedua. Yang utama bagi manusia adalah melakukan perbuatan dharma (perbuatan baik), walaupun hal itu kadang-kadang tidak menggembirakan.

Apa yang dimaksud dengan “dharma”, “perbuatan baik”? Dan mengapa keduanya “kadang-kadang tidak menggembirakan?”

Kata dharma memiliki banyak arti, antara lain: kebenaran; jasa (merit), tugas agama, agama, hukum, salah satu tujuan hidup (dalam purusharta). Kata dharma secara literal berarti “apa yang menyatukan”; jadi itu adalah dasar dari semua tatanan, sosial atau moral. Sebagai sebuah nilai moral atau etik, ia adalah nilai instrumental untuk pembebasan (moksa).

Di dalam teks terjemahan di atas kata “dharma” diberi penjelasan di dalam kurung “perbuatan baik”. Makna ini tercemin di dalam istilah “varna asrama dharma” kewajiban khusus seseorang dalam kelompoknya; “sva dharma” kewajiban individual dari seseorang. Jadi yang dimaksud dengan teks di atas adalah bahwa manusia harus mengutamakan perbuatan baik, sekalipun hal itu membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Apakah yang dimaksud dengan “baik”? sebuah kamus online memberikan defisi tentang “baik” atau “kebaikan” (goodness) sebagai berikut: Keadaan atau kualitas terbaik; keunggulan moral; kebajikan (keutamaan); empati; kemurahan hati; keunggulan kualitas: kebaikan dalam karya; bagian terbaik dari apa pun; esensi; kekuatan; kejujuran, dan kualitas lain yang membentuk karakter.

Di dalam Bhagawad Gita terdapat 32 kebajikan (etika keutamaan) yang berguna untuk membentuk karater yang tangguh, yaitu, antara lain: kejujuran (arjawam), kebenaran (satyam) abhayam (tak kenal takut), adambhitvam (ketulusan hati), ahimsa (nir kekerasan), samah samya (ketenangan hati, keseimbangan batin), samkalpa (ketetapan hati), tapah (hidup sederhana dosa), tejah (hidup penuh semangat), titiksa (tahan uji), dana (dermawan), dll.

acapalam (kesantunan, kejatmikaan), advesa (tidak membenci), akrodah (tidak marah), (Baca buku: “Membangun Karakter Dengan Keutamaan Bhagawad Gita” Media Hindu 2016).

Mengapa berbuat baik kadangkadang tidak menggembirakan? Kalau anda mau menolong orang lain, anda sering harus mengorbankan waktu, tenaga, harta bahkan nyawa anda. Misalnya, kalau kita dapat kewajiban ronda di malam hari, kita harus bergadang, dan mengorbankan waktu tidur kita. Dan ini pasti tidak menyenangkan. Demikian juga dengan kewajiban yang lebih besar, misalnya di dalam membela Negara, yang mungkin memerlukan pengorbanan nyawa kita.

Apakah manusia itu hakikat baik atau buruk? Ada beberapa jawaban yang kadang bertolak belakang. Filsafat timur umumnya berpendapat manusia itu pada hakikatnya baik. Filsuf Tiongkok, Mencius, memberi contoh sebagai berikut. Ketika sedang melintas di jalan anda melihat seorang anak akan terjatuh ke sumur. Maka secara spontan anda membantu anak itu. Bantuan itu bukan untuk mendapat pujian atau penghargaan dari orang tua anak itu, bukan juga karena takut celaan dari masyarakat. Tetapi murni karena dorongan spontan dari dalam, dari hati anda yang pada hakikatnya adalah baik.

Ada juga yang mengatakan manusia pada hakikatnya adalah pendosa, atau budak. Dalam kasus ini upaya apapun yang dilakukan manusia, sampai bengkang-bengkok tidak akan mampu memperbaiki dirinya. Diperlukan intervensi dari atas, dari Tuhan agar manusia menjadi baik.

Bagaimana pandangan Hindu? Jati diri manusia adalah suci, karena jiwa manusia merupakan bagian (amsa) atau pantulan (pratibimba) dari Tuhan. Tetapi tubuh kita yang membungkus jiwa dibentuk dari materi (prakerti) tidak suci, ia dibentuk ari tri guna: sattva, rajas dan tamas.

Sattva = bersifat murni, cahaya, harmoni. Rajas = gairah, aktivitas. Tamas = malas, bodoh.

Manusia Sattvik. Kepribadiannya: memiliki kendali penuh atas emosi, pikiran dan tindakan. Kebajikan: Semua kebajikan, jujur dan sattvik, toleran, tenang, kecerdasan stabil, tidak egois. Akhirnya melampaui kebajikan dan cacat. Tidak takut dengan kematian. Cara utama untuk mendapatkan kebahagiaan: Memperoleh pengetahuan, keterampilan, membantu orang lain, meditasi, meningkatkan spiritualnya. Akhirnya melampaui kebahagiaan- ketidak-bahagiaan dan menuju Kebahagiaan sempurna (Ananda). Hubungannya dengan orang lain: Hidup untuk melayani masyarakat dan membantu orang bertumbuh secara duniawi maupun jiwani. Tumbuh sesara spiritual dalam arti yang lebih universal.

Manusia Rājasik. Kepribadiannya: marah, cemburu, sombong, egois, mau menang sendiri, mencari perhatian, serakah, melakukan apa saja untuk memenuhi ambisi dan keinginan duniawi, selalu khawatir, berkhayal. Kebajikan: bersemangat tapi tanpa arah dalam hal pertumbuhan spiritual. Cara utama untuk mendapatkan kebahagiaan: Mendapatkan otoritas/ kekuasaaan, harta benda duniawi. Hubungan dengan orang lain: berpusat pada diri sendiri atau membantu orang lain dengan banyak ego tentang bantuan yang diberikan (pemerih).

Manusia Tāmasik. Kepribadiannya: malas, tidak aktif, depresi, sangat egois, tidak memikirkan orang lain atau bahkan merugikan mereka untuk memenuhi tujuan egoisnya, mudah tersinggung. Kebajikan: tidak ada. Cara utama untuk mendapatkan kebahagiaan: Makan, minum, hubungan seksual dll. Hubungan dengan orang lain: merugikan orang lain. Kebanyakan orang tamasik merugikan masyarakat – pada umumnya dengan mengatas-namakan agama atau ideologi (http://www.spiritualresearchfoundation. org/spiritual-research/theuniverse/ sattva-raja-tama/)

Bagi orang Hindu, yang di perlukan bukan pertobatan, tetapi kesadaran akan hakikat dirinya. Yaitu bahwa ia pada hakikatnya adalah suci (jiwa) namun tubuhnya tidak suci, karena dibuat dari materi yang memiliki tiga sifat, Tri guna. Untuk bisa berbuat baik maka manusia harus mengembangkan sifat sattva dan menekan sifat rajas dan tamas. Dengan cara itu kita membawa kebaikan dan kemajuan bagi diri sendiri maupun masyarakat di sekitar kita, secara duniawi maupun jiwani. Dan ini berarti kita telah memperoleh pemenuhan hidup kita di dunia ini. Kita tidak lagi perlu memikirkan apa yang terjadi sesudah mati!

Mangku Dalem.

bukalapak

tokopedia
To Top