Opini

Perempuan Menurut Weda dan Sakralnya Perkawinan Hindu

mh-educare

Batam – Tiga hari setelah penulis kembali dari Batam, sebuah pesan pendek masuk ke ponsel. Begini bunyinya, “Banyak ibu-ibu mengalami keajaiban, suaminya mendadak mesra, romantis, anaknya nurut dsb.” Supaya jelas dan tidak menduga-duga, begini ceritanya. Penulis diundang ke Batam sebagai narasumber kegiatan Workshop Prakawin 2016 di Batam oleh Penyelenggara Bimas Hindu Kota Batam, Eko Prasetyo, yang diagendakan hari Sabtu 23 April 2016.

Namun demikian, penulis diminta hadir lebih awal hari Kamis 21 April 2016, karena bertepatan dengan Purnama Jiesta, untuk menyampaikan dharma wacana di Pura Agung Amerta Bhuana, yang dilanjutkan dengan dharma tula hingga pukul 23.00 wib. Penulis menyampaikan bagaimana posisi perempuan menurut Weda dan sakralnya sebuah perkawinan menurut Hindu yang tidak bisa dibatalkan ataupun diputuskan, kecuali oleh kematian. Bahwa seorang ibu dengan kekuatan shaktinya mampu mengantarkan anaknya ke surga ataupun melemparkan anaknya ke neraka. Dan di Jaman Kali yang konon sudah hampir selesai ini, kata-kata seorang ibu kepada anaknya betul-betul manjur (sabdo mandi), sehingga seorang ibu harus hati-hati dalam mengucapkan sesuatu kepada sang anak.

Penulis mengingatkan bahwa terkait dengan perjalanan jiwa setelah mati, maka suami yang selingkuh dan punya kebiasaan berjudi akan sangat sulit disempurnakan, walaupun dipandu oleh banyak pandita dengan bantennya yang banyak pula. Oleh karena itu, hati-hatilah menjadi seorang suami. Penulis menekankan bahwa kekuatan seorang ibu telah kembali, jangan coba-coba melecehkan wanita. Perlakukanlah wanita, selain istri dan anak, sebagai ibu. Jadi, semua wanita adalah ibu kita, kecuali istri dan anak. Di negeri mana wanita dipinggirkan dan hak-haknya dirampas, termasuk hak waris yang hanya diberikan kepada kaum pria, maka negeri atau wilayah itu akan hancur. Setelah dharma wacana, dilanjutkan dengan persembahyangan bersama, dan pembagian Tirtha Ibu Alam Semesta yang penulis dapatkan dari seorang Resi Jawa, dari perjalanan tapasnya selama tiga hari dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah, menelusuri lima situs warisan Majapahit, dengan sepeda motor melewati lebih dari 500 km.

Esok harinya, Jumat 22 April 2016 sore hari, dharma tula dilanjutkan lagi di Pasraman dan berlangsung dengan menarik hingga pukul 23.00 wib. Dari pertanyaan yang dilontarkan lebih banyak oleh ibu-ibu non Bali menggambarkan bahwa mereka sangat membutuhkan siraman jiwani terkait dengan keseriusan dan keinginan mereka untuk tahu lebih banyak tentang agama Hindu.

Dan ini mungkin pola yang cukup efektif dan ditambah lagi sugesti lainnya, seperti Tirtha Ibu Alam Semesta, menyebabkan tumbuhnya kesadaran dan perubahan wawasan, serta pemahaman tentang keluarga sukhinah, sehingga muncullah pesan pendek seperti pada awal tulisan ini.

bukalapak

tokopedia
To Top